|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Senin, 9 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Essay dari Kazuo Tatsuno kerap membuat saya termenung. Berusaha memahami dalamnya isi tulisan yang tertuang. Banyak ceritanya yang menyelusup jiwa ataupun menohok diri. Yang terkadang pula menghantarkan pada muara pertanyaan, "Siapa saya sebenarnya?"
Begitu pun dengan tulisannya yang berjudul "Rei-chan no Haka wo Tsukuru". Sebuah cerita pendek dengan plot ringan namun bermakna dalam. Bercerita tentang kisah anak-anak yang tinggal di asrama penampungan Mishuku Rest House. Tempat tinggal yang terdiri dari anak-anak yang kehilangan kasih sayang orangtua. Entah itu karena perceraian, kematian, ataupun hal-hal khusus, begitu saja ditinggalkan.
Rei-chan adalah panggilan dari nama kucing yang dipelihara di asrama tersebut. Pada satu hari, ia pulang dalam kondisi mengenaskan. Berjalan pincang dengan tulang punggung patah. Rei-chan yang ceria berubah menjadi pesakitan yang tak bisa ke mana-mana. Pun buang air besar harus tetap berbaring di tempatnya. Penggalan singkat cerita kepedulian anak-anak asrama dalam merawat Rei-chan, menemaninya saat ajal datang, menjadi bagian tersendiri yang begitu membekas di hati.
Saya mencoba menghubungkan cerita "Rei-chan no Haka wo Tsukuru" (Membuat Kuburan Rei-chan) dengan kematian. Bulan lalu, ketika Ramadhan sedang dijalani, tiga berita kematian saya terima. Dua berita dari kampung halaman yang mengabarkan tentang kematian kerabat dekat dan satu dari sahabat dekat yang sama-sama sedang merantau di negeri Jepang. Kematian, ajal yang pasti datang tanpa pernah meminta izin lebih dahulu.
Jika kematian adalah gerbang untuk bertemu Sang Mahacinta, sudah siapkah saya menghadapinya? Ketika lembaran-lembaran kesalahan diperlihatkan di Yaumil Hisab, sudah siapkah saya menahan malu? Bagaimana jika amalan-amalan yang dikatakan shaleh ternyata penuh disisip riya? Bagaimana dengan sikap congkak, jumawa, merasa paling benar, sudahkah terhapus bersih dari hati saya?
Sedikit menyimpang, saya teringat ajaran retorika yang mengatakan, Ramadhan adalah masa pelatihan menahan diri dan Idul Fitri adalah masa kemenangan di mana kita kembali bersih dari dosa. Dengan adanya Ramadhan dan Idul Fitri, apakah saya sudah bisa bermetamorfosa menjadi manusia baik? Ritual mengekang hawa nafsu selama satu bulan, apakah sudah dapat dipantulkan dengan baik di bulan ini?
Membaca Rei-chan no Haka, mengingatkan saya akan kematian. Memberikan legitimasi bahwa saya harus segera berubah. Betapa beruntungnya Rei-chan yang banyak mendapatkan curahan kasih sayang menjelang ajal tiba hingga pada kematiannya.
Hari ini, syawal ke enam. Saya masih di depan komputer dan belum melakukan perubahan apa-apa. Tapi saya mencoba berbisik pada hati, "Temani saya berubah." Temani saya membersihkan kerak yang mungkin sudah menghitam di dalam batin. Temani langkah kaki saya menuju ridhaNya. Temani saya untuk mempersiapkan diri jika harus menghadapNya kelak. Insya Allah.
* Rei-chan no Haka = Kuburan Rei-chan
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.