|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Ahad, 16 Juni 2013 pukul 22:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
“Karena aku sangat mencintai Tuhanku.”
Wanita itu tersentak oleh statement-nya sendiri. Ada yang harus direnungi sepertinya.
Seolah dia juga sedang mendeskripsikan sebuah kalimat, “Karena aku sangat mencintai diriku sendiri.”
Ia mulai membolak-balik, menimbang, dan membandingkan dua kalimat itu. Bukankah tak dapat dipungkiri mencintaiNya sebenarnya juga bisa bermakna mencintai diri sendiri?
Bagaimana kalau ternyata ini hanya sebuah keegoisan berbentuk lain? Bentuk yang kemudian ia takuti jika ternyata itu membajak atas namaNya.
Karena bentuk ini menjadi abstrak dan sangat halus. Yang memerlukan kekritisan dan kedetailan mengidentifikasi.
“Ah, tidak! Bukankah selama ini aku hidup dengan usaha untuk terus mentaatiNya? Bukankah telah kukalahkan banyak keinginan diri jika itu bertentangan dengan keinginanNya? Bukankah menangis semalaman menjadi tak cukup, ketika aku menyadari telah melakukan kesalahan yang bisa saja menjauhkan keridhaanNya?” Ia mencoba menangkal semua bisikan dengan pembelaan bukti.
Namun yang datang justru keresahan, yang membadai dari jiwanya sendiri. Bagaimana jika semua itu hanya kelihatannya saja? Bagaimana jika semua itu hanya menjadi onggokan-onggokan amal tak bermakna? Dan bagaimana jika sekarang kalimat itu disempurnakan, “Karena aku sangat mencintai Tuhanku, lebih dari diriku dan hidupku?” Kemudian mereduksikan semua rasa menjadi atas namaNya.
“Karena aku sangat mencintai Tuhanku.” Seharusnya menjadi kalimat sakti yang mutlak mengacuhkan segala bentuk dan rasa selainNya. Namun menjadi hal yang tak begitu saja mudah diurai, jika harus keluar dari semua cangkang kehidupan, tanpa harus memungkiri fitrah menjadi manusia bumi. Sebab menjadi perasaNya itu rasanya seperti menjadi mati rasa, padahal jelas keduanya berbeda.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.