|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 16 Mei 2013 pukul 14:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Menjadi matahatari, adalah memaknai kehidupan menjadi amanah yang tak hanya berlaku untuk diri sendiri. Menopang banyak kepentingan dari luar diri, dan mengalihkan keinginan dari harapan menjadi orientasi. Dari menerima menjadi memberi.
Memutuskan menjadi matahari, berarti memutuskan melakukan pekerjaan penting, dan bertanggung jawab pada setiap jengkal kehidupan yang keberlangsungannya membutuhkan cahaya, yang tumbuh kembangnya bergantung pada sinarannya.
Menikah, bagi seorang muslimah, seperti memutuskan menjadi matahari. Karena akan ada keberlangsungan hidup selanjutnya yang membutuhkan peran pentingnya. Menopang jiwa lain dalam dirinya, dan jiwa-jiwa baru di kemudiannya. Melakukan pekerjaan tanpa jeda serta memantangkan keluhan dalam hidup.
Pada setiap lelaki hebat, selalu dibersamai dengan seorang wanita hebat. Demikian yang kita fahami selama ini, dan dibuktikan dalam banyak kisah di masa lalu. Seperti Khadijah yang membersamai Muhammad SAW, Fatimah Az-Zahra yang membersamai Ali bin Abi Thalib, dan masih banyak yang lainnya.
Jika ini disebut dengan pekerjaan berat, maka sejatinya hanyalah cara pandang pada diri sendiri. Seperti halnya masalah yang sering menyambangi hidup, yang besar kecilnya ternyata hanya bergantung dengan bagaimana kita memandangnya.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Kita ingin menjadi bermanfaat. Namun bukankah kebermanfaatan itu urutannya dimulai dari cakupan yang paling dekat, sekaligus yang paling dasar dan yang paling penting untuk peradaban manusia? Cakupan itu adalah keluarga, dengan peran vital kita adalah menjadi isteri yang shalihah, dan ibu yang mulia bagi anak-anak penyambung generasi Rabbani. Kemudian baru berurut ke cakupan berikutnya; lingkungan, masyarakat, negara, dan dunia yang pada akhirnya merefleksikan tentang Islam yang rahmatan lil’alamin.
Ya, isteri yang shalihah dan Ibu yang mulia. Dua peran hebat, yang hanya bisa dilakukan, jika kita menjalani amanah kewanitaan kita versi Allah SWT. Dengan tolak ukuran nilai keshalihahan dan kemuliaan adalah takwa.
Maka, mari maksimalkan sedari awal, tentang kebermanfaatan yang harus kita lakukan, di hidup kita yang hanya sekali-kalinya ini. Mematrikan sebuah konsep pikiran di rendah dasar hati; bahwa menjadi bermanfaat adalah orientasi hidup. Dengan deskripsi jelas tentang orientasi hidup kita adalah menjadi isteri yang shalihah, dan ibu yang mulia bagi anak-anak penyambung generasi Rabbani.
Wallahu’alam.
***
”Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.