|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|
|
|
ferryhadary |





Ahad, 2 Juni 2013 pukul 20:00 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Ahmad terduduk luruh, seluruh tulangnya serasa lepas dari raganya. Tidak satu katapun dapat terucap dari bibirnya. Ia hanya mengeleng pelan ketika mas Iwan, kakak iparnya menanyakan tentang proses pemakaman. Ia mengangguk mengiyakan semua kata-kata mas Iwan tanpa memikirkan lagi.
Sejuta rasa sesal menikam dan menusuk jiwanya. Tiga tahun bukan waktu sebentar untuk menunggu kehadiran makhluk mungil yang lucu dan lembut itu untuk mengisi hari-harinya bersama Tiara.
Terbayang jelas di ingatannya bagaimana hari-hari selama hampir delapan bulan ini ia isi dengan penuh semangat dan harapan. Bagaimana ia dengan ikhlas membuatkan segelas susu untuk Tiara setiap pagi dan sorenya, bagaimana ketika ia mengelus-elus perut Tiara yang semakin membesar dan merasakan tendangan-tendangan kecil dari dalam perut Tiara.
Rasanya ia tak sabar untuk segera mengendong bayi mungilnya setiap kali ia mendengarkan detak jantung dan melihat gerak makhluk mungil itu setiap Tiara periksa USG.
Bagaimana rewelnya ia ketika memilihkan perlengkapan bayi, rasanya ia yang cerewet dalam hal ini di banding Tiara.
"Jangan berlebihan mas, sesuai ukuran kita saja." Tiara menginggatkan Ahmad saat Ahmad ngotot memilih kereta bayi yang lebih mahal.
"The best buat adek ya?" jawab Ahmad sembari mengelus perut Tiara. Kalau tak ingat ini di toko, ingin rasanya ia menempelkan telinganya di perut Tiara untuk mendengar 'jawaban' dari calon anaknya itu. Tia hanya dapat menghela napas. "Ingat budget, mas."
"Itu bisa diatur." jawab Ahmad santai sambil berjalan ke arah box bayi yang cantik itu meski diikuti dengan harga yang aduhai.
Rasanya Ahmad sanggup bekerja lebih keras lagi agar bisa memberikan yang terbaik saat si kecil itu lahir. Ia ingin semua sudah tersedia dan sebagus mungkin. Tapi sekeras apapun ia bekerja rasanya belum menjangkau impiannya untuk dapat menyediakan istana mungil nan cantik bagi bayi mungilnya nanti. Rumah, ya rumah yang ia tempati rasanya kurang pantas untuk menyambut kedatangan buah hatinya. Rumah itu masih orisinil seperti saat ia beli dulu dari developer. Kamar buat si kecil akan pengap rasanya kalau tidak diganti desain interiornya. Dan lagi, dimana nanti pengasuh si kecil akan tidur? Rumah ini hanya punya dua kamar yang tidak begitu luas, kasihan buah hatinya nanti jika harus tidur dikamar sekecil itu.
"Nggak usah pake pengasuh, mas. Saya kan di rumah. Ibu baru akan pulang ke Solo kalau saya sudah pulih, jadi nggak perlu pengasuh, apalagi renovasi rumah. Kita kan hanya cukup untuk persiapan melahirkan, bukan untuk renovasi rumah. Lagipula bikin kamar lagi di atas kan nggak cukup sepuluh juta kan, mas." Ucap Tiara mengingatkannya.
"Ya..." balas Ahmad pelan sambil mengenggam tangan Tiara. Ia merasa tak berdaya tak dapat memberikan yang terbaik buat istri dan anak yang sudah lama mereka nanti-nantikan.
Ahmad tahu benar bagaimana usaha Tiara agar dapat hamil. Dari mulai konsultasi ke dokter ahli, pijat, minum ramuan tradisional, sampai melepas kariernya yang sebenarnya harus Ahmad akui; lebih menjanjikan daripada Ahmad sendiri.
"Nggak pa-pa aku berhenti sekarang, mas. Kata dokter, mungkin karena aku terlalu capai jadi belum hamil. Lagipula nanti toh aku berhenti juga untuk mengurus anak kita." papar Tiara ketika Ahmad menyangsikan keputusannya untuk berhenti. Ahmad tahu; pekerjaan Tiara telah mendarah daging baginya, karena sesungguhnya ia adalah seorang workaholic.
Tapi Ahmad punya keinginan lain dan rasanya akan segera terwujud. Pagi ini rasanya semakin dekat saja bayangan sebuah rumah mungil nan cantik dengan sebuah kamar berinterior indah, nuansa lembut untuk anak-anak dan dilengkapi peralatan bayi yang bermutu tentunya.
Ia juga akan menyiapkan pengasuh si kecil agar Tiara tidak terlalu capai dan si kecil dapat optiomal terawat dan terawasi.
"Terimakasih banyak, pak. Bagaimana, diskon yang dua setengah persen itu bapak inginkan dalam bentuk cek atau tunai?" Pria berkepala botak itu menyalami tangan Ahmad sambil memamerkan senyumnya yang dalam pandangan Ahmad terkesan seperti penjilat. Tapi biarlah, apa bedanya dengan dirinya saat ini?
"Tunai saja, besok di bank."
"Haiyaa.., saya mengerti. Tunai tentunya." Kembali ia memamerkan senyumnya yang bagi Ahmad terasa seperti melecehkan. Tentu saja tunai lebih aman, tak ada jejak transfer.
Sekarang, uang sebesar seratus dua belas juta lebih masuk kantongnya! Itu bukan jumlah sedikit! Dan itu cukup untuk mewujudkan harapannya untuk menyambut si kecil.
Tiara menolak mentah-mentah ketika Ahmad mengajaknya 'mengungsi' sementara waktu ke rumah orangtua Ahmad.
"Darimana mas dapat uang untuk renovasi rumah ini?" suara halus Tiara terdengar tajam di telinga Ahmad. Tiara tahu saat ini Ahmad sedang mengerjakan proyek di kantornya, pembelian alat-alat itu dalam jumlah yang tidak sedikit dan siapa saja bisa bermain di situ untuk mendapat 'cipratan', dan Tiara tak mau Ahmad terjebak di sana.
"Aku pinjam kok, lagian bentar lagi dapat bonus, mungkin tiga setengah kali gaji." Lidah Ahmad sebenarnya terasa kelu ketika mengucapkan kalimat itu.
Bonus darimana? Perusahaannya mana mau memberikan bonus sebesar itu, paling banter satu kali gaji. Selama menikah baru kali ini Ahmad membohongi Tiara, dan itu disusul kebohongan-kebohongan selanjutnya. Duh!
"Benar ya mas, TOLONG HATI-HATI DENGAN REZEKI YANG KITA MAKAN, terlebih sebentar lagi saya akan melahirkan si kecil ini. Jangan main-main mas, dua nyawa yang mas pertaruhkan." Ahmad hanya mengangguk tak kuasa menjawab yang berarti hanya berbohong lagi.
Dari dalam mobil, Ahmad dengan puas memandangi rumah mungilnya yang bertingkat dua, cantik. Dan bagian paling indah itu ada di kamar bayi yang ia desain dengan nuansa lembut nan cantik dan diisi oleh furniture bayi kelas satu.
"Ah, mustinya mobil ini juga harus ganti, kasihan nanti buah hatinya jika harus naik mobil tua ini." Batin Ahmad sembari tersenyum membayangkan Tiara duduk di sampingnya memangku si kecil yang berceloteh lucu. Dalam mobil yang layak dan berAC tentunya.
"Masih cukup." Gumam Ahmad setelah menghitung dalam hati sisa uangnya ditambah penjualan mobil ini, masih cukup untuk membeli sebuah sedan bekas tahun 90 an.
Namun bayangan indah itu tiba-tiba tertutup mendung sehinga menjadi suram. Entah karena apa Tiara pendarahan. Solusio plasenta!
Penjelasan dokter hanya menambah Ahmad bingung, rasanya ia dan Tiara telah amat hati-hati menjaga kehamilan Tiara, kenapa bisa solusio plasenta, yang kata dokter disebabkan benturan keras di perutnya atau karena kondisi kesehatan yang buruk.
"Ibu pernah jatuh?" tanya dokter itu setelah tahu Tiara tak bekerja. Tiara mengeleng.
"Mungkin saja ibu kena tendangan bapak sewaktu tidur, tak sengaja tentunya." komentar dokter itu seenaknya. Saat itu Ahmad mulai merasa panas hatinya. Dokter sok tahu! Seenaknya saja ngomong, padahal kalau ia tidur seperti batang kayu, tak bergerak-gerak, anteng!
"Suami saya anteng kok kalau tidur, rasanya tak mungkin ia menyepak saya, lagipula masak sih saya tak merasa kalau tersepak? Pasti saya sudah teriak dok." Tiara segera mencairkan suasana karena ia merasa pasti Ahmad sudah kesal.
Dan setelah berpikir beberapa saat, dokter itu kembali memberikan komentar yang seenak perutnya, menurut Ahmad.
"Pak, Bu, kalau begitu sebaiknya bapak 'puasa' dulu, kasihan bayinya kalau masih pendarahan lagi harus dikeluarkan, padahal baru tigapuluh dua minggu, paru-parunya belum matang." Ucapnya dengan kalem.
"Dokter sok tahu! Kalau bukan perempuan sudah kumaki dia!" Ahmad tak tahan menahan emosinya begitu tiba di kamar dimana Tiara harus menjalani bedrest di Rumah Sakit ini. Apa dia nggak tahu kalau Ahmad udah puasa dari kandungan Tiara enam bulan? Dan itu bukan hal-hal yang mudah bagi lelaki normal seumurnya, tapi demi Tiara dan calon anaknya, apapun Ahmad mau melakukan. Tapi dokter itu seenaknya saja komentar!
"Sudahlah, mas! Dokternya kan Cuma menganalisa dan kasih masukkan buat kita. Jangan emosi gitu dong, ntar anaknya ketularan lho." seperti biasanya Tiara segera meredam emosi Ahmad. Dan seperti biasanya pula Ahmad akan segera luruh emosinya jika menghadapi senyum manis Tiara untuknya yang penuh ketulusan itu.
Tiara harus bedrest untuk menyelamatkan bayinya agar bertahan sampai paling tidak tiga puluh lima minggu. Selama itu Ahmad rela melayani Tiara yang harus benar-benar total di tempat tidur. Bagaimana pun, ia tak ingin kehilangan si kecil yang sudah lama mereka nantikan kehadirannya.
Tapi sekuat apapun keinginan dan usaha manusia, masih ada yang lebih kuat di atas segalanya. Tiara memandang dengan wajah pucat ke arah Ahmad yang senantiasa setia menungguinya. Pandangan mata Tiara berpindah-pindah dari mata Ahmad ke arah perutnya yang ia pegangi.
"Kenapa? Sakit?" tanya Ahmad dengan bingung dan ikut-ikutan memegang perut Tiara. Tiara hanya mengeleng dan membisu, tapi dari matanya mengalir butiran air bening menuruni pipinya yang pucat. Setelah menarik napas panjang, ia istighfar berkali-kali, dan setelah dapat menguasai dirinya, ia berkata lirih.
"Rasanya dia sudah nggak bergerak, mas." Meski suara Tiara terdengar lirih dan tenang tapi bagaikan petir di telinga Ahmad. Dengan panik Ahmad memanggil dokter yang segera memeriksa Tiara. Dan terpaksa Tiara harus menjalani operasi Caesar untuk menyelamatkan jiwanya. Tiara selamat, tapi bayi itu sudah dipanggil Allah SWT beberapa saat sebelum Tiara merasakan bahwa sudah tidak ada gerakan lagi di perutnya.
Ahmad merasa seakan terhempas ke jurang yang tak berdasar, sakit yang belum pernah ia rasa sebelumnya. Bayangan peristiwa silih berganti bermain di pelupuk matanya. Kamar yang cantik serta segala sesuatu yang ada di dalamnya yang telah ia siapkan untuk buah hati tersayang.
Tapi yang menusuk hatinya ketika teringat ekspresi wajah Tiara saat mengingatkannya tentang dana renovasi rumah. "Jangan main-main, mas! Dua nyawa yang mas pertaruhkan." Kata-kata itu masih terngiang di telinga Ahmad.
***
Ahmad menoleh dengan malas saat Iwan menepuk pelan pundaknya. "Telepon dari Tiara di Rumah Sakit." Bisik Iwan sembari menyodorkan handphonenya kepada Ahmad. Ahmad memang sengaja mematikan handphonenya, rasanya ia ingin pergi ke suatu tempat dimana ia bisa sendirian merenungi kepiluan hatinya dan rasa penyesalannya.
"Assalamu'alaikum..." suara Tiara pelan terdengar tapi tenang. Tiba-tiba Ahmad merasa malu sendiri. Bagaimana mungkin ia malah melarikan diri merenungi kesedihannya dengan melupakan Tiara? Padahal Tiara pasti lebih merasa kehilangan dibandingkan dia. Tiara yang mengandung bayi itu selama delapan bulan, merasakan tendangan-tendangannya dan membawa kemana pun ia pergi.
"Mas, sudahlah! ALLAH TELAH MEMANGGILNYA, IA MILIK ALLAH, KITA HANYA DITITIPI. PASTI ALLAH PUNYA RENCANA LAIN YANG LEBIH BAIK UNTUK KITA. INSYA ALLAH INI YANG TERBAIK, mas." Suara Tiara meski tenang tapi terkandung air mata di sana, tapi ternyata ia lebih tegar.
"Tolong mas ikhlaskan dia. Dia memang anak kita, tapi Allah pemiliknya. Saya hanya bisa mendo'akan dari sini." Tiara mengakhiri teleponnya dengan salam setelah tak mendengar sepatah kata pun dari mulut Ahmad.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Ahmad setelah tersadar dari lamunannya. Entah Tiara masih mendengar salamnya atau tidak. Tapi sebuah kesadaran kini muncul dalam diri Ahmad. Ia harus kuat dan ikhlas! MUNGKIN INILAH CARA ALLAH MENEGURNYA DAN MENYELAMATKAN ANAKNYA AGAR TAK MENIKMATI HASIL TAK HALAL DARI BAPAKNYA. MUNGKIN JUGA ANAKNYA ENGGAN TINGGAL DAN MENIKMATI RUMAH SERTA KAMARNYA YANG INDAH, TAPI ADA BELEPOTAN NODA DI SANA-SINI.
Ahmad beristighfar beberapa kali sebelum akhirnya bangkit berdiri untuk ikut mengurus pemakaman putrinya yang akhirnya ia berikan nama 'Safa Fitria'. Karena ia bersih, suci dan putih.
***
Ahmad memandangi rumah mungil bertingkat dua yang cantik itu sambil tersenyum, ikhlas dan lega. Meski rumah itu sudah bukan lagi miliknya, tapi ia lega dapat mengembalikan uang dua setengah persen potongan harga peralatan yang ia beli untuk kantornya. Ahmad hanya tersenyum dan tak berkata sepatah kata pun ketika manajernya memandangnya dengan wajah penuh tanya sambil memegang cek sebesar seratus dua belas juta lebih itu.
"Maaf, pak. Tolong bapak tanda tangani surat ini!" Ahmad menyodorkan surat bukti penyerahan cek itu pada manajernya, yang kemudian menandatanginya dengan penuh rasa heran. Diam-diam sebuah rasa malu dan sesal menyelimuti hatinya. Entah berapa kali berapa persen diskon yang pembelian peralatan atau sub kontrak proyek yang telah masuk ke rekeningnya?
Ahmad menstater mobil tuanya sambil melambai ke arah rumah mungilnya yang cantik. "Masih belum ikhlas mas?" Goda Tiara yang duduk di sampingnya.
"Masak cuma melambai juga nggak boleh?" Ahmad menoleh ke arah Tiara dengan wajah memelas. Tiara tertawa melihat ekspresi wajah Ahmad yang seperti anak kecil dimarahi ibunya.
Mobil Ahmad melaju menuju rumah baru mereka yang 'kembali' sederhana. Tapi di sana ada harapan terajut rapi akan hadirnya kuncup di dalamnya yang akan tersirami dengan rejeki tanpa percikan nila meski tak sampai setetes.
Dikutip dari : Ketika Kuncup Luruh Terpecik Nila - Hani Darmawan - AlDakwah.org
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.