HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://abuaufa.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Lecturer
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir …
ferryhadary
Tulisan Ferry Lainnya
Kenduri Cinta Kaum Susah
18 Desember 2011 pukul 11:11 WIB
Emak Sudah Pulang
6 November 2011 pukul 11:30 WIB
Dinda di Mana...
28 Agustus 2011 pukul 10:30 WIB
Setengah Diin
20 Agustus 2011 pukul 11:05 WIB
Hoek
17 Juli 2011 pukul 10:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 29 Januari 2012 pukul 13:00 WIB

Memei

Penulis : Ferry Hadary

Hei... sampan laju / Sampan laju dari ilir sampai ke ulu / Sungai Kapuas / Sunggoh panjang dari dolo' membelah kote
Hei... tak disangke / Tak disangke dolo' utan menjadi kote / Ramai pendudoknye / Pontianak name kotenye

Sungai Kapuas punye cerite / Bile kite minom ae'nye / Biar pon pegi jauh ke mane / Sunggoh susah na' ngelupakannye
Hei... Kapuas / Hei... Kapuas

Baru saja lagu Ae' Kapuas itu habis terdengar, luruh, menggulirkan rindu. Sesaat pikiran pun melayang ke kampung halaman, lalu memetik sebuah kenangan.

***

Memei...
Entah siapa nama lengkapnya, namun hanya dengan kata itu ia biasa disapa. Tempat tinggalnya di seberang kota Pontianak, dipisahkan sebuah jembatan yang membelah Sungai Kapuas. Dengan menggunakan sampan, dilanjutkan berjalan kaki, Memei suka berkunjung ke rumah-rumah. Kedatangannya kadang disambut dengan gembira oleh seluruh penghuninya, tak jarang pula sebaliknya.

Memei bukan orang terkenal, artis, apalagi calon bintang jebolan AFI. Tubuhnya kecil mungil, dibalut kulit yang hitam legam karena selalu mandi sinar mentari. Namun kecantikan di masa mudanya masih tersisa. Hidung mancung, juga senyum dan gaya tertawa membuat orang lain suka melihatnya. Padahal tak satu jua giginya yang tampak ada.

Ia memang orang biasa, bahkan mungkin teramat biasa. Seorang nenek yang mempunyai beberapa cucu dari anak-anaknya, hidup dengan sangat sederhana. Ke-empat anaknya pun hanyalah rakyat jelata, yang setiap hari harus mengadu nasib agar tak tergusur oleh kerasnya kehidupan.

Sebagai seorang yang mulai renta, mestinya Memei bisa menikmati masa tuanya dengan bahagia. Duduk di sebuah kursi goyang kayu untuk menghabiskan waktu, atau bermain dengan cucu-cucu. Namun usia tua tak menghalanginya untuk selalu ke luar rumah, mengetuk pintu-pintu, menawarkan jasanya.

Memei...
Ia seorang pemijat. Berbekalkan lotion atau minyak urut, ia berkeliling ke setiap rumah. Di usia yang semakin senja, dan kemiskinan yang mengguratnya, ia tak mau hanya sekedar meminta-minta. Padahal siapa saja yang melihatnya pasti jatuh kasihan. Dengan keahliannya memijat, ada saja orang yang memerlukan jasanya, namun sering pula ia pulang dengan tangan hampa.

Memei pun tak malu kalau diminta mengepel lantai rumah, dan selalu dilakukannya dengan tangan. Disapunya kain lap di setiap permukaan lantai, dikoreknya setiap lubang yang ada sampah, lalu tangannya meliuk-liuk bagaikan membelai dan mengurut tubuh-tubuh yang lelah.

Tak jarang pula ia diminta menunggui rumah karena seluruh penghuninya harus pergi bekerja. Untuk setiap jasanya, Memei tak pernah meminta uang lebih sebagai upah, cukup sekedarnya saja.

Sikapnya yang ramah, juga membuat ia senang sekali bercerita. Tentang salah seorang anaknya yang menjadi sopir angkutan, atau pun cucu-cucu yang kalau bertemu kerap mencium tangannya.

Banyak yang Memei ceritakan saat bertemu padaku di suatu hari, walaupun banyak pula kisah hidupnya yang tak kupahami. Ia hanya dapat berkomunikasi dengan gerakan tangan, dan sungguh sulit dimengerti. Tak jarang suaranya juga turut meningkahi, namun hanya ah... uh... yang terdengar.

Selalu, jari jemarinya seperti menari saat menjelaskan sesuatu. Kadang kepalanya sedikit mendongak ke atas dan telunjuk mengarah ke sudut kening, seraya mengingat-ingat masa mudanya dahulu.

Pernah suatu ketika, ia membuatku bingung dengan gerakan tangannya. Kedua kepalannya yang kecil dibenturkan ke udara, lalu dibukanya kepalan tangan kiri sambil menjauhi. Ternyata ia bercerita tentang suaminya yang telah lama meninggal, mati karena korban tabrak lari.

Memei...
Ia hanyalah seorang pemijat, bahkan tua, bisu dan tuli. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala tak akan pernah menciptakan setiap makhluk dengan sia-sia. Dari setiap ciptaan, pasti begitu banyak hikmah yang mengalun indah. Mengajarkan kepada setiap hamba-Nya, untuk selalu memetik pelajaran dari apa yang tercipta di dunia.

Memei telah mengajarkan bahwa cinta adalah kerja yang ngejawantah. Baginya, usia tua dan kemiskinan bukanlah alasan untuk sekedar menengadahkan tangan sambil meminta sedekah. Kehidupan baginya adalah mempunyai makna bekerja, bukan dengan bermanja-manja. Sikapnya yang amanah, pun mestinya bisa jadi cermin bagi siapa saja.

Kini Memei mungkin masih mengitari setiap rumah, menyusuri sebagian jalan di kota Pontianak. Turut menghirup asap knalpot dan debu jalanan yang pekat, serta bermandikan sengatan terik mentari Khatulistiwa.

Kalaulah benar lirik lagu itu, Sungai Kapuas punye cerite / Bile kite minom ae'nye / Biar pon pegi jauh ke mane / Sunggoh susah na' ngelupakannye, namun bagiku yang telah merantau jauh, seorang penghuni seberang sungai itu sungguh lebih susah untuk dilupakan, karena dari dirinya yang serba kekurangan, telah kudapat banyak pelajaran.

WaLlahu a'lam bi shawab.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

fadhil | Mahasiswa
2 kata untuk situs ini, LUAR BIASA!!! Berharap bisa terus memberi manfaat pada para pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1324 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels