HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://tofan.kotasantri.com
Bergabung
13 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tegal - Jawa Tengah
Pekerjaan
-
Tulisan Salman Lainnya
Dipukau Pulau di Landai Pantai
27 April 2012 pukul 13:30 WIB
Surat Sembilan Empat
13 April 2012 pukul 17:00 WIB
Engkau yang Tertidur dengan Senyum Merah Jambu
30 Maret 2012 pukul 13:00 WIB
Paket
13 Februari 2012 pukul 13:30 WIB
Enam Jam di Kotagede
5 Februari 2012 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Senin, 7 Mei 2012 pukul 17:45 WIB

Gadis yang Menunggu Lelakinya

Penulis : Salman Rafan Ghazi

Ia masih menunggu. Menatap mega-mega yang berarak di langit sana. Sorot matanya sayu. Ada lukisan rindu yang mendalam di bola matanya. Pipinya yang tirus menandakan jika ia telah bertahan melalui musim-musim kesendirian. Bersama penantian yang setia. Terhadap lelaki yang ia masih mencintainya.

Lelaki yang wajahnya terpahat dalam bingkai foto, yang tak pernah lepas dari dekapannya ketika ia memandang langit lewat jendela kamar. Lelaki yang fotonya juga ada di dalam dompetnya, yang telah berubah warna menjadi sedikit kecoklatan karena dimakan usia. Lelaki yang bahkan tidak pernah tidak hadir dalam malam-malam mimpinya selama ini. Lelakinya yang ia masih menunggunya. Sampai saat ini.

***

Seperti sore-sore sebelumnya, sore itu ia dan lelakinya menghabiskan waktu di taman kota. Cahaya kuning matahari yang melesat-lesat di balik awan menemani mereka. Membias pada gedung-gedung bertingkat di sekitar taman. Memantul-mantul pada kaca mobil-mobil yang sedang lalu-lalang. Menyelinap di balik pohon-pohon akasia dan menyibak daun-daun cemara taman.

Sore itu sangat indah. Ia begitu menikmati kebersamaan dengan lelakinya. Siapapun yang melihat mereka, maka ia pasti akan iri dan cemburu. Mereka ibarat pasangan paling serasi tahun ini. Mereka begitu mesra.

Ia, wanita berkulit putih bertubuh tinggi semampai nan ramping. Matanya yang bulat indah berwarna cokelat memancarkan keteduhan. Rambut hitam panjangnya yang tergerai akan melambai saat tertiup angin sore. Sementara lelakinya adalah lelaki berkulit kuning dan berbadan tegap. Matanya hitam dan dagunya terbelah. Cambang dan jenggot tipis menambah kesan gagah pada lelakinya itu.

“Sore ini indah, ya?” lelakinya bertanya kepadanya.

Ia mengangguk. “Bukankah setiap senja memang indah?” ia balik bertanya. Lalu menyandarkan pundak di bahu lelakinya dan menggelayut manja.

Seketika lelakinya itu mendekap pundaknya dengan tangan yang kekar, “Tapi senja kali ini berbeda, sayang. Ia begitu indah. Lihatlah cahaya jingga itu”, lalu lelakinya menunjuk senja yang mulai jingga di ufuk barat sana.

Ia menganggguk, lalu menggumam. Lelakinya benar. Sore ini memang indah. Berbeda dengan sore-sore sebelumnya yang kita habiskan di taman ini.

“Aku ingin ke sana. Ke tempat di mana senja yang jingga itu selalu muncul”

“Ah, kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin kamu bisa ke sana”

“Jika mungkin aku ke sana, maukah kamu menungguku di sini, sayang?”, mata hitam lelakinya menatap teduh dirinya.

Ia mengangguk lagi dan tersenyum, “Ayo kita pulang. Sebentar lagi malam datang”.

Setelah sore itu, lelakinya benar-benar pergi meninggalkan ia. Hanya secarik kertas yang ditinggalkan untuknya dan beberapa larik kalimat dalam kertas itu.

Aku pergi sebentar ke sana. Tunggulah, aku akan pulang untuk menjemputmu. Kau tahu aku pasti pulang.

***

Sepuluh tahun berlalu sejak kepergian lelakinya, yang entah kemana ia tak pernah tahu. Tepatnya tak ada seorang pun yang tahu kemana lelakinya pergi. Ia sempat bertanya pada keluarga lelakinya perihal kemana lelakinya pergi, namun mereka tak tahu dimana lelakinya kini. Ia telah menanyakan keberadaan lelakinya kepada teman-teman lelakinya itu, mereka pun tak juga menahu rimba lelakinya itu berada.

Musim juga sudah beberapa kali berganti selama ia menunggu lelakinya. Ini berarti sudah beratus kali pula ia memandang langit lewat jendela kamarnya. Ia berharap suatu saat akan ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya, dan itu adalah lelakinya. Namun lelakinya tak kunjung pulang seperti yang dijanjikan.

Ia pun tak tahu berapa lama sebentar yang dulu dituliskan oleh lelakinya itu. Tapi ia masih tetap menunggu. Andai jendela kamarnya bisa bicara, mungkin jendela itu akan bertanya, apa kau tidak bosan menunggu lelaki itu?

Wajahnya yang putih bersih mulai dipenuhi kerutan. Ujung matanya yang bulat indah berwarna cokelat itu juga sudah penuh dengan kerutan. Ia jadi kelihatan lebih tua beberapa tahun dari umur aslinya.

“Kau tidak ingin menikah? Sudah lebih kepala tiga umurmu”, teman satu kantornya tiba-tiba bertanya.

Ia menatap temannya, lalu menjawab pertanyaan itu dengan sebuah senyuman sambil membereskan dokumen-dokumen kantor, “Tentu saja aku ingin”.

“Lalu? Apa lagi yang kau tunggu? Masih menunggu dia?”

“Ya. Begitulah”

“Dia tak akan pulang”

“Dia pasti pulang”, ia kembali tersenyum.

Dan begitu seterusnya jawaban yang keluar dari mulutnya. Jika teman-teman satu kantornya bertanya kapan ia menikah. Atau sahabatnya mengingatkan kalau ia sudah lebih dari pantas untuk menikah. Atau jika ayah dan ibunya mendesaknya dan menanyakan kapan mereka akan dikenalkan dengan calon menantu mereka. Maka, ia akan tersenyum dan berkata, “Aku akan menunggunya. Lelakiku pasti pulang”.

***

Ia mendekat ke jendela. Tubuhnya tidak langsing lagi, ia semakin kurus. Pipinya pun kian tirus. Lenyap pula keteduhan dari pancaran matanya. Mata bulat berwarna cokelatnya kini memancarkan penantian yang begitu lama yang telah ia lalui.

Ia lalu duduk di kursi yang sengaja di letakkan di sana, di dekat jendela kamarnya. Agar ia bisa kapan pun duduk disana dan memandang langit dengan leluasa lewat jendela itu. Memandang awan yang berarak. Lalu, ia tumpahkan warna-warna kerinduan akan lelakinya pada kanvas langit yang mulai memerah dan ia lukiskan wajah lelakinya itu pada gumpalan-gumpalan awan putih keemasan.

Ia selalu seperti itu kala sore menjelang. Saat semburat jingga mulai menyeruak di ufuk barat dan cahaya emas matahari perlahan menyelinap masuk ke kamarnya lewat relung-relung jeruji jendela. Tak lupa ia akan mendekap bingkai foto lelakinya yang mulai kusam.

Ia akan menikmati saat itu. Mengenang kembali senja yang sangat indah dulu. Saat ia dan lelakinya menghabiskan waktu sore di taman kota. Begitu mesra. Menikmati saat-saat bersama lelakinya, yang juga indah. Menggelayut manja di bahu lelakinya. Berjalan bergandengan tangan mengelilingi taman.

“Hari hampir petang. Waktunya makan dan minum obat. Ayo.”, seorang perempuan muda dengan seragam putih-putih menghampirinya dan memapahnya naik kursi roda lalu membawanya keluar kamar.

Ia mendongakkan wajahnya dan menatap perempuan itu sambil tersenyum, “Lelakiku pasti pulang, bukan?”.

Perempuan muda itu mengangguk dan terus mendorong kursi roda menuju ruang makan.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Salman Rafan Ghazi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eka | Karyawan
Salam kenal untuk semua yang ada di KotaSantri.com. Saya baru ikut program ini, tempat ini memang tempat yang paling tepat untuk membekali pengetahuan dengan agama. Pokoknya okelah, tempat mengisi kekosongan disaat kesepian.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1352 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels