QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://tofan.kotasantri.com
Bergabung
13 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tegal - Jawa Tengah
Pekerjaan
-
Tulisan Salman Lainnya
Apa yang Dikhawatirkan dari Sebuah Rindu
16 Januari 2012 pukul 14:00 WIB
Meneladani Pejuang Muslimah
22 Desember 2011 pukul 16:50 WIB
Aku Akan Menikah
27 November 2011 pukul 10:30 WIB
Pena Tak Tajam Lagi
9 Oktober 2011 pukul 11:45 WIB
Sognando Palestina
13 September 2010 pukul 21:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 5 Februari 2012 pukul 12:00 WIB

Enam Jam di Kotagede

Penulis : Salman Rafan Ghazi

Suasana Pasar Gede mulai ramai. Pedagang baru saja menggelar lapak-lapak dagangan mereka. Langit menghunjamkan kakinya di bentang keremangan jingga fajar.

Sayup-sayup terdengar dari seberang jalan suara orang ngaji dari dalam Masjid Gede Mataram. Mengantar penduduk Sargede memulai hari. Menentramkan hati. Sungguh. Seperti segelas minuman berenergi yang menambah semangat untuk bekerja di pagi hari.

Aku melangkahkan kaki menuju Masijd Gede. Melepaskan sepatuku. Berwudhu. Lalu bersandar di salah satu tiang penyangga masjid bagian luar. Sembari menunggu adzan Shubuh berkumandang.

Sesampainya di Jogja pukul tiga pagi tadi aku memang langsung menuju Kotagede mencari penginapan. Namun, aku pikir lebih baik menunggu pagi di Masjid Gede daripada di penginapan. Lebih irit.

Berangkat dari Surabaya, aku hanya mampir di Kota Gudeg ini. Tujuanku sebenarnya adalah Bandung.

Kotagede. Satu-satunya tempat yang ingin dan belum sempat aku kunjungi dari dulu. Aku sungguh penasaran dengan bangunan tua di Sargede.

Tak terasa Sargede mulai menghangat. Matahari pagi menebarkan kehangatannya di sini.

Jam setengah enam sekarang. Waktuku hanya enam jam di Kotagede. Sebelum jam dua belas aku harus sudah berada di Stasiun Tugu. Naik kereta pertama tujuan Bandung.

Aku berjalan menuju pasar. Mencari warung untuk sarapan. Sedikit banyak aku tahu jalanan sekitar Sargede dari peta Kotagede yang kudapatkan dari sebuah biro perjalanan wisata.

Sepiring nasi gudeg menemani sarapanku pagi ini. Tak akan pernah aku bosan dengan masakan berasa manis ini.

“Gudegnya enak, bu” kataku kepada ibu penjual gudeg.

Ibu itu tersenyum. “Oh, terimakasih, Dek”

“Sudah lama jualan di sini ya, bu?” Aku bertanya pada beliau.

“Sejak jaman nenek saya dulu. Saya generasi yang Ketiga”, sambil melayani pembeli lain beliau menjawab pertanyaanku.

“Njenengan bukan orang sini ya?”, beliau kembali bertanya.

Seorang pria terlihat memerhatikan pembicaraan kami.

Nasi gudegku habis. “Oh, iya bu. Saya dari Surabaya. Mau ke Bandung, tapi mampir dulu di Jogja. Mau muter-muter Kotagede dulu”, aku menjelaskan keberadaanku di sini dan meletakkan piring gudegku di bawah kaki.

Ibu itu melanjutkan melayani pembeli.

“Boleh saya temani?” tiba-tiba saja pria itu menawariku. Aku meliriknya. Menatap lekat dari kepala sampai kaki. Pria kurus dengan tatapan mata yang aneh. Wajar bukan jika ada orang asing bertanya seperti itu dan aku berlaku demikian .

“Ehm.. Eh.. Mmm.. Bagaimana ya?” aku bingung. Menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Ini anak ibu. Budi namanya. Kuliah di ISI”, ibu itu menyela pembicaraan kami.

oh, syukurlah. ISI ya? pantas gayanya urakan dan tampangnya seram. Batinku.

Ia mengulurkan tangannya, “Budi. Budi Saputra”. Aku lalu menjabatnya, “Aku Tofan”. Kami pun berkenalan.

Ia menawariku lagi, “Bagaimana? Boleh saya temani?”

“Tentu saja. Dengan senang hati”, aku mengangguk.

Kami pun memulai perjalanan kami.

Budi mengajakku ke Masjid Gede (lagi). Masuk dari pintu masuk sebelah selatan Pasar Gede yang seperti gapura dengan benteng panjang membentangi masjid. Kata budi, gapura itu dibangun pada saat kerajaan Mataram berkuasa. Saat dipimpin oleh Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman dan juga terkenal dengan sebutan Prabu Pandita Hanyakrakusuma. Atau yang lebih dikenal dengan Sultan Agung.

“Setahuku kerajaan Mataram saat itu sudah memeluk Islam?”, tanyaku sambil mengamati bentuk gapura yang mirip vihara.

“Ya, betul. Namun, masyarakat pada waktu itu kebanyakan memeluk agama Hindu dan Budha, maka arsitekturnya pun banyak mengadopsi corak khas arsitektur Hindu dan Budha. Seperti gapura Masjid Gede ini”, jelasnya panjang.

Betul juga. Pikirku. Arsitektur Masjid Gede juga dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Budha. Setidaknya itu yang kulihat dari ukiran-ukiran kayu yang menghiasi setiap sudut masjid.

Budi kemudian mengajakku menjelajahi isi Masjid Gede dan sholat Dhuha di sana.

Lepas dari Masjid Gede, kami menuju arah selatan: Komplek makam Raja-raja Mataram.

Sebelum sampai di makam kami melewati gapura kedua. Yaitu sebuah komplek yang menjadi pembatas sekaligus jalur penghubung menuju makam juga Sendang Saliran (tempat pemandian). Pada komplek ini terdapat kantor, gudang, bangsal pengapit lor dan bangsal pengapit kidul.

Kata Budi, sendang itu dulu tempat mandi raja-raja dan puteri kerajaan Mataram. “Tempat mandinya dipisah antara laki-laki dan perempuan”, tambahnya.

Sebuah gapura besar berwarna putih kemudian menyambut kami.

“Eh, kita tidak boleh sembarangan masuk makam”, Budi mencegahku yang hampir saja melangkahkan kaki masuk gapura.

“Lho Kenapa?” aku penasaran.

“Kita harus memakai pakaian adat Jawa jika ingin masuk makam”.

Aku mengernyitkan dahi. Tidak percaya. “Meski penduduk Sargede sekalipun?”

“Ya, begitulah peraturannya. Berminat?”

“Oh, tidak terimakasih”. Aku langsung membalikkan badan. Mengajak Budi berkeliling lagi.

Dalam perjalanan aku bertanya seputar kuliah Budi. Ia kuliah jurusan desain grafis ISI. Namun cita-citanya ingin menjadi penulis. Dakwah dengan tulisan, katanya. Aneh bukan.

Kami melewati beberapa rumah joglo dan rumah kalang penduduk yang masih ada. Kebanyakan sudah roboh atau rusak akibat gempa tahun 2006 lalu.

Tiga jam sudah kami mengitari komplek Kotagede. Kami lalu beristirahat di Masjid Perak. Begitu kata Budi. Namun aku tidak melihat perak sedikitpun. Hanya bangunan biasa seperti masjid pada umumnya.

Budi kemudian menceritakan sejarah masjid ini. Masjid ini dibangun oleh masyarakat Kotagede yang resah dengan praktik sirik yang terjadi di sekitar Masjid Gede. Penduduk Sargede yang percaya pada hal-hal gaib serta kekuatan roh orang yang sudah meninggal, menggunakan komplek Masjid Gede sebagai tempat ritual mereka. Hal inilah yang melatarbelakangi dibangunnya Masjid Perak.

“Mana peraknya? Daritadi aku tidak melihat ada perak di masjid ini”, aku mengitarkan pandangan. Mencari perak.

Budi tertawa pelan. Lalu membawaku masuk ke dalam masjid. “Lihat itu. di soko gurusoko guru sebelah timur laut dan sebelah barat daya. sebelah sana dan sana. Ada lempeng perak bertuliskan tahun berdirinya masjid”, Budi menunjuk

Tanpa terasa jam di tangaku sudah menunjukkan angka sebelas. Kakiku juga sudah mulai pegal. Tumitku panas.

Aku mengajak Budi kembali ke warung gudeg ibunya.

Aku berpamitan dengan mereka. Berterimakasih pada Budi yang sudah menemaniku
mengenal Kotagede. Sehingga aku beroleh banyak pengetahuan darinya.

*******

Stasiun Tugu menyambutku. Baru pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Masih ada lima belas menit lagi untuk sholat dhuhur di mushola sebelum kereta berangkat.

Budi sempat membelikanku “kipo”. Makanan khas Kotagede untuk bekal perjalanan.

Ah iya, selama perjalanan pulang dari Masjid Perak menuju warung gudeg ibunya, aku sempat bertanya pada Budi, “Apakah setiap penduduk Sargede tahu seluk beluk Kerajaan Mataram?”

“Tidak”, katanya. “Hanya penduduk tertentu saja yang masih keturunan atau abdi dalem raja”.

“Kalau begitu kamu ada keturunan Mataram?”

“Kata ibu, bapak adalah keturunan ketujuh dari anak angkat Prabu Amangkurat I. Raja Mataram kelima”. Budi tersenyum.

Peluit panjang melengking. Enam jam di Kotagede. Sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan keturunan Raja Mataram –meski itu anak angkat.

Kereta berjalan pelan ke arah barat. Bandung, aku datang.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Salman Rafan Ghazi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1006 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels