HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://yayu.kotasantri.com
Bergabung
24 Maret 2010 pukul 14:45 WIB
Domisili
Nomi - Ishikawa
Pekerjaan
Ibu Rumah tangga
Saya adalah seorang ibu rumah tangga, dikaruniai tiga orang anak yang lahir dan besar di Jepang. Kini menemani suami seorang dosen di salah satu universitas di kota Nomi Jepang.
http://yayujapan.multiply.com
yayu_indriyani@yahoo.com
Tulisan Sri Lainnya
Obrolan dalam Densha
27 Juni 2010 pukul 17:30 WIB
Cahaya Negeri Rantau
22 Juni 2010 pukul 15:45 WIB
Memahami Takdir
6 Juni 2010 pukul 18:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 6 Februari 2011 pukul 12:00 WIB

Ujian Nania

Penulis : Sri Yayu Indriyani R.

“Indri…!!!”

Tiba-tiba Nania lari ke arahku dan memeluk erat, kemeja putih berlencana SMA beken, paduan rok abu-abuku terasa hangat, basah. Bingung, tak tahu aku harus bersikap apa. Kubiarkan Nania menumpahkan segala rasa dalam pelukanku. Pojok belakang mushola, saat hening, menunggu bel tanda istirahat habis.

Lima menit, wajah Nania yang merah dan sembab mulai terlihat jelas dibalik kulitnya yang putih. Kami berpandangan dan…

“Indri…aku bingung harus berbuat apa, please..tolong aku!”

Bukan aku tak mau menolong, beban apa yang ada dalam hati Nania, remaja berjilbab lebar, teman sebangku yang sedari pagi mendung menutupi wajahnya, belum kumengerti. Terbata-bata dia mulai bercerita.

Perlahan mengalun, memuncak dan akhirnya tak kuasa aku menahan hujan di pelupuk mata yang sedari tadi kutahan. Kupeluk Nania.

“Ayah dan Ibuku terancam PHK Indri, bagaimana dengan nasibku, sekolahku?”

Krisis moneter benar-benar membuat sesak nafas semua penduduk negeri ini, tak hanya kaum rendahan, pejabat, mentri bahkan sampai tingkat presiden yang ikut pusing. Pun Nania merasakan dampak yang luar biasa, kedua orangtuanya , buruh pabrik tekstil di tempat yang sama, ternyata harus melakukan perampingan karyawan, termasuk bagi orangtua Nania.

Aku bingung, apa yang harus kuperbuat, aku anak seorang PNS biasa yang seharusnya bersyukur, orangtuaku masih bisa bekerja, walau hanya bapak seorang. Tak bisa kupungkiri, terkadang mataku silap ingin mengikuti gaya beberapa teman SMA beken yang terkenal dengan hidup mewah karena umumnya datang dari orang-orang menengah ke atas. Beberapa teman bahkan gonta ganti mobil saat pergi ke sekolah. Atau seringkali nonton ke bioskop hanya untuk merayakan hari ulangtahun, atau hari “jadian”. Aku tertunduk dan hanya bisa berucap..

“Shabar ya Nania sahabatku. Aku akan coba bantu memikirkan. InsyaAllah aku selalu berdo`a untukmu. Ehm...” Aku menarik nafas sambil berpikir keras.

“Tak apa Indri, aku mengerti, sudah mendengar bebanku aku sangat senang.”

Sejak kejadian itu, aku sering melihat mata Nania sembab, baju putihnya, jilbab panjangnya yang biasanya licin, dua hari ini tampak kusam dan berkerut.

***

Dua hari lagi, ujian akhir semester. Murid kelas pojok atas lantai dua tampak mulai belajar serius, ada yang punya ide untuk belajar kelompok, les tiap hari ke guru, bagi-bagi soal latihan dari tempat bimbingan belajar dan sejurus rencana supaya nilai ujian nggak jeblok mulai disusun.

Angka merah, alias lima ke bawah seringkali menghiasi nilai-nilai ujian murid SMA Beken. Kami selalu menghibur diri, bukan karena bodoh-bodoh amat. Tapi entah kenapa guru-guru SMA Beken ini seringkali membuat kami kelimpungan hanya untuk meraih nilai dia atas angka enam. Strategi belajar harus selalu kami perbaharui, berlatih soal-soal yang kemungkinan keluar, termasuk diriku.

Ide cemerlang, saat aku mendengar teman-teman mau kerja kelompok di rumah kost seorang teman dan bergadang.

“Nania kita belajar bareng yuk.”

“Ide bagus Ndri. Aku tunggu di mesjid An-Nur itu ya, sudah dua malam aku tinggal di sana.”

“Hah…?”

Dua malam, tinggal di mesjid An-Nur, pantas kulihat baju putih dan rok abu-abu SMA Beken Nania tidak seperti biasanya, penuh kerutan. Aku mengangguk, dan pulang sekolah kami janjian pergi bersama.

Penasaran, setelah kudesak akhirnya Nania menceritakan alasannya, aku sedikit geram karena aku tidak diberitahu sama sekali. Ia meminta maaf dan.

“Indri, aku harus menginap di sini karena orangtuaku tak bisa memberiku ongkos ke sekolah minggu ini.”

Dalam hati aku ingin membantu sahabatku, tapi caranya belum terfikirkan, ongkos tiap hari saja aku diberi pas oleh ibu, tak ada sisa.

Suatu hari saat aku membeli buku sepulang sekolah, aku harus berjalan kaki menuju terminal dari toko buku. Uang ongkosku pas-pasan, tidak cukup untuk perjalanan dari terminal ke orang.

SMA Beken cukup jauh dari rumah. Sebenarnya aku bisa sedikit menghemat dengan naik bis satu kali saja. Tapi terik matahari membuatku tak sanggup mencapai halteu yang berjarak 1 km dari SMA Beken. Akhirnya aku memilih angkot yang bisa distop dari depan SMA Beken dan berhenti persis depan rumah. Mahal memang, tapi terpaksa daripada astmaku kambuh.

Suatu hari uang ongkos angkot kurang dua ratus rupiah, hari itu aku gunakan utnuk membayar uang foto copy soal latihan. Pusing tak sanggup naik bis, kucoba aku membayar ongkos dengan uang seadanya. Tanpa melihat kernet angkot, aku segera turun dan menuju rumah. Esok harinya, ketika aku berangkat sekolah, kernet angkot menyapaku,

“Neng, kalo bayar jangan kurang lagi ya!”

Kontan wajahku memerah, aku menyesal kenapa tidak bicara baik-baik uangku kurang saat itu. Menyesal, lebih baik berhenti di pinggir jalan besar lalu berjalan menuju rumah, supaya ongkos tidak terlalu besar.

Hari itu aku belajar bersama Nania untuk ujian besok sampai menjelang maghrib.

***

“Indri..mau jajan?”

Aku mengangguk, sarapan dalam lima menit karena mengejar angkot tadi pagi membuat perutku masih lapar. Istirahat kali ini aku ingin membeli roti bakar isi kornet yang terkenal super murah dan super enak di kantin belakang SMA Beken.

“Ndri, mau coba lemper, pastel atau kue jualanku nggak?”

“Ju..jualan? sejak kapan Nania?”

“Baru mulai hari ini, aku simpan di mushola, jangan marah lagi Neng…baru kamu yang tahu kok.”

Aku tersenyum bahagia, karena Nania berarti sahabat sejatiku. Niatku membeli roti bakar jadi hilang, segera kugandeng tangan Nania dan mengajak sama-sama pergi ke Mushola.

“Wuah..enak Nania, siapa yang buat? Aku mau promosi ke temen-temen ah..”

"Ibu dan ayah yang buat Ndri.”

“Ja..jadi???”

Nania mengangguk, kemudian terseyum. Sejak hari itu Nania, murid SMA Beken, berkulit putih berjilbab lebar itu wajahnya mulai cerah walaupun kutahu dia harus terus berjuang untuk menyelesaikan sekolahnya di SMA Beken ini. Nania maafkan aku tidak bisa membantumu, tapi aku ingin tetap menjadi sahabatku sampai kapanpun.

http://yayujapan.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sri Yayu Indriyani R. sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko | Karyawan BUMN
Alhamdulillah bisa bergabung lagi setelah 6 bulan aku off. Tulisannya bisa menggugah perasaan kita. Lanjutkan, saudaraku!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1415 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels