|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
|
http://yayujapan.multiply.com |
|
yayu_indriyani@yahoo.com |
Ahad, 27 Juni 2010 pukul 17:30 WIB
Penulis : Sri Yayu Indriyani R.
Pagi yang cerah, aku berpamitan pada suami untuk suatu urusan. Sambil membawa bayi berumur 5 bulan di gendongan, aku bergegas menuruni tangga apartemen. Dua balitaku yang lain kutitipkan pada suami.
Segera kupercepat langkah menuju halte bis yang tak begitu jauh dari apartemenku, kira-kira perlu waktu 10 menit dengan berjalan kaki.
Lima menit kemudian bis pun datang, nafasku masih terengah-engah. Cuaca yang cukup dingin membuat bebanku terasa berat antara jaket tebal dan bayiku di pangkuan. Aku segera memasukkan kartu elektrik untuk menandai halte bis tempat aku naik.
Lima belas menit kemudian sampailah aku di stasiun yang dituju. Segera aku masukan kembali kartu elektrik yang berada tepat sebelum pintu bis, untuk membayar biaya perjalanan. Berkuranglah jumlah uang yang ada dalam kartu elektrik itu.
Setelah turun dari bis, aku segera mengisi kartu elektrik, CICA namanya, agar uang yang ada di dalamnya tidak segera habis, tentu untuk perjalanan pulang nanti. Persiapan harus kulakukan sekarang, agar saat pulang tidak perlu lagi mengunjungi mesin pengisi kartu CICA. Setelah selesai, tak lupa aku simpan di tempat biasa, di dalam dompet, berjejer dengan kartu ATM dan KTP, agar tidak lupa saat bepergian menggunakan bis.
Kulihat jam di dinding stasiun, masih ada sepuluh menit lagi sebelum kedatangan Densha (kereta listrik) menuju kota Kyoto. Aku pun setengah berlari menuju gerbang stasiun, khawatir terlambat. Hari Sabtu, sudah bisa kupastikan kereta listrik akan penuh, jika tidak segera, kesempatan mendapat tempat duduk di dalam Densha semakin sulit.
Sebelum masuk ke pintu gerbang, aku segera membeli kartu elektrik di mesin penjual sebelah kanan pintu masuk. Kemudian aku isi 1000 yen, cukup untuk biaya perjalananku pulang pergi.
Kartu elektrik kereta aku masukkan ke lubang khusus di pintu masuk, otomatis pintu pun terbuka. Kemudian aku menuju antrian yang mulai memanjang di tempat khusus menunggu kereta listrik tiba.
Rupanya masih ada tempat antri yang kosong, aku berada di deretan terdepan. Dalam sekejap beberapa orang yang baru datang mulai antri di belakangku.
"Alhamdulillah masih ada lima menit lagi." Aku bisa bernafas lega.
Segera kubenahi gendongan bayiku. Ah, saat ini aku tidak membawa "baby car". Lebih repot rasanya harus mendorong, apalagi naik turun bis. Masih kuatlah aku menggendong bayi berumur lima bulan.
Lima menit kemudian, pintu kereta listrik yang selalu tepat berhenti di depan antrian pun terbuka. Mataku melirik ke salah satu pojok tempat duduk khusus ibu hamil, ibu membawa bayi, orang yang sudah tua, atau orang cacat.
"Alhamdulillah... Masih ada yang kosong."
Sebelum duduk, aku menurunkan gendongan terlebih dahulu agar bayiku bisa berbaring dengan nyaman.
Tiba-tiba...
"Ohayo gozaimasu (selamat pagi)."
"Ii desu ka (bolehkah)?" sambil menunjuk kursi yang masih kosong di sebelahku.
"Haik, douzo (iya, silahkan)."
Dalam hati aku berfikir, rasanya pernah melihat gadis Jepang ini, tapi di mana?
***
Lima menit kemudian dia memulai pembicaraan.
"Anooooo... bla.. bla... (ehmm... bla.. bla..)"
Ah, rupanya dia tetangga sebelah apartemenku. Dia tinggal di "single room" apartemen mahasiswa, sedangkan aku tinggal di family room. Obrolan pun mulai menghangat dan semakin menarik.
Ternyata diam-diam, dia sering memperhatikanku. Dia betul-betul mengetahui, aku tinggal di lantai satu, punya tiga balita, dan suamiku sama-sama sedang mengambil program doktor di information science seperti dia.
Sedangkan yang kutahu tentang dia tidak banyak. Aku sering melihatnya setiap Minggu pagi, saat aku menjalankan kebiasaanku menjemur di beranda. Kulihat dia pergi masuk ke dalam mobilnya berwarna putih yang diparkir persis di bawah berandaku, kemudian pergi entah ke mana.
Dari obrolan kami, akhirnya aku mengerti, setiap Minggu pagi dia pergi ke gereja.
"Ah, rupanya dia penganut agama Kristen yang taat," bisikku dalam hati.
Walaupun kami berbeda agama, rasanya saat itu obrolannya seperti dengan seorang sahabat yang sudah lama tak berjumpa.
"Ehm... Saya heran denganmu, suamimu masih mahasiswa kan? Tapi sudah punya 3 anak, masih kecil-kecil lagi. Apakah suamimu bekerja juga?" tanya gadis Jepang itu dengan hati-hati.
Aku jelaskan bahwa suami saat ini alhamdulillah mendapat beasiswa. Ya, hanya dari situlah pemasukan tuk kami.
"Apakah itu cukup?" tanya dia.
"Ehm... Kami berusaha agar cukup, berhematlah," jawabku enteng.
"Tidak masuk akal!" ucap dia.
Aku tahu dia mengenal konsep Tuhan, tidak seperti umumnya orang negeri ini. Aku pun coba menjelaskan bahwa jika kami yakin, kami bisa. Ya, tentu dengan usaha yang maksimal dan berdo'a.
Ternyata kami rasakan sendiri rezeki tetap mengalir, apakah dari beasiswa, proyek-proyek di Lab, ataupun beberapa teman dekat kami, orang Jepang, yang kami anggap sebagai orangtua pengganti tak henti-hentinya mengirimkan entah makanan, mainan anak-anak, dan lain-lain pada kami. Alhamdulillah, sungguh Allah SWT Mahaadil.
Sayang, kami pun harus segera berpisah karena kereta listrik sudah tiba di stasiun tujuan kami.
***
Suatu hari, di hari Minggu pagi.
Kulihat dia sedang berjalan dengan seorang pemuda.
"Ah, itukah calon suaminya? Ataukah suaminya ya?" pikirku.
“Ah, kenapa jadi berprasangka lain-lain tentang dia. Urusan dia ah,” batinku.
Kemudian kembali aku menjemur pakaian yang tinggal beberapa helai lagi. Terlihat mereka masuk ke dalam mobil dan pergi.
***
Beberapa bulan kemudian.
"Mbak, mau ke mana rapi amat?" tanyaku pada tetangga sebelah.
Dia sama-sama dari negeriku, walau kami berbeda agama, tapi hubungan kami seperti saudara.
"Aku mau menghadiri pernikahan Masako-San, sampai nanti ya."
Ah, Masako-san, aku ingat itu nama gadis Jepang yang aku temui di dalam kereta listrik. Empat puluh lima menit aku ngobrol panjang lebar dengan dia tentang pernikahan, tentang keluarga, tentang anak.
Akhirnya dia menikah, syukurlah.
"Masako*-san, semoga engkau bahagia."
--Catatan seorang Ibu--
* Bukan nama sebenarnya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sri Yayu Indriyani R. sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.