|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
http://twitter.com/bayugawtama |





Selasa, 12 November 2013 pukul 19:00 WIB
Penulis : Bayu Gawtama
Ada seorang yang menemui Rasulullah untuk menyatakan ketertarikannya kepada Islam. Dan kepada Muhammad Nabi Allah itu, ia mengaku ingin menjadi bagian dari pengikut Rasul. Namun ia juga mengatakan bahwa ia masih gemar melakukan perbuatan-perbuatan lamanya seperti berzina, minum khamar (mabuk), dan berjudi. Rasul tidak menolaknya, bahkan beliau mempersilakan ia masuk Islam dengan satu syarat, tidak berdusta! Maka kemudian orang tersebut menjadi orang yang teguh menjalankan semua ajaran Islam dengan satu komitmen yang bernama kejujuran.
Kejujuran adalah bahasa universal, agama apapun, di tanah manapun kita berdiri, dan di waktu kapanpun kejujuran tetap berlaku. Namun nampaknya keuniversalan tersebut semakin teralienasi, dimana justru saat ini yang lebih sering dianggap biasa dan lumrah adalah ketidakjujuran. Di kantor, rumah, persahabatan, rumah tangga semakin mudah ditemui warna-warna dusta dengan berbagai ragam dan bentuknya. Dan justru pula di saat yang sama, kejujuran menjadi barang langka dan seringkali dianggap aneh.
Kalaulah Allah SWT memperingatkan kepada manusia yang beriman agar mengatakan perkataan yang benar untuk mengikuti perintah takwa (QS. Al-Ahzab : 70) tentulah banyak makna yang bisa dirasakan oleh setiap manusia dari sikap kejujuran tersebut. Perhatikanlah penjelasan Rasulullah berkenaan dengan hal itu, "Hendaklah kamu selalu berada pada siklus kejujuruan, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kamu kepada kebaikan dan kebaikan itu akan mengantarkan kamu kepada surga. Jauhilah oleh kamu (jangan sekali-sekali kamu dekati) dusta, sesungguhnya dusta itu membawa kamu kepada kerusakan dan sesungguhnya kerusakan itu akan mengantarkan kamu kepada neraka."
Tak perlu membayangkan bagaimana dunia tanpa kejujuran, karena episode cerita tentang hal ini sudah berlangsung sejak zaman para Nabi hingga sekarang. Bukalah kilasan cerita tentang saudara-saudara Yusuf yang berbohong kepada ayahanda Nabi Ya'kub setelah mereka mencelakai Yusuf. Abdullah bin Ubay bin Salul, terkenal sebagai tokoh munafik pada zaman Rasululullah Muhammad yang pandai bersikap manis di depan kaum muslimin, tetapi menohok dari belakang. Pada masa sekarang dimana manusia semakin pintar, teknologi semakin hebat, tentu ketidakjujuranpun semakin terbungkus rapi, semakin beragam dengan bentuk kamuflase yang halus. Saksikan bagaimana korupsi menghancurkan negeri ini, rumah tangga yang berantakan karena ada dusta yang terselip di antara suami isteri, dan masih banyak lagi episode-episode kedustaan yang terus berputar hingga sekarang.
Sekarang, bayangkanlah jika hidup tanpa dusta barang sehari saja. Maka bisa dipastikan hari itu tidak ada perusahaan yang dirugikan oleh kecurangan pegawainya, negara tidak bangkrut karena ulah para koruptor kelas kakap, tak ada keretakan rumah tangga karena senantiasa terlindung oleh bingkai kejujuran, tidak ada pengkhianatan, tidak ada kemunafikan, tidak ada bencana besar yang timbul akibat satu bentuk ketidakjujuran yang terlalu sering dianggap sepele. Maka juga, bisa dipastikan hari itu adalah hari yang sangat dirindukan kembalinya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.