|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
http://twitter.com/bayugawtama |





Selasa, 29 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Bayu Gawtama
Hampir setiap orang pernah bepergian jauh, entah dengan menggunakan jasa angkutan darat, laut, atau udara. Misalkan kita menumpang sebuah bis. Sebelum sampai ke tujuan, biasanya bis yang kita tumpangi itu berhenti di beberapa tempat, bisa jadi itu sebuah terminal. Saat singgah di terminal pemberhentian, teramat banyak yang dilakukan orang-orang dalam satu bis. Ada yang turun untuk mengisi perut, ada yang sebaliknya justru memanfaatkan waktu berhenti itu untuk membuang isi perut. Sebagian memilih tetap berada di atas bis, sambil melihat aneka dagangan yang ditawarkan dari luar bis.
Tidak demikian dengan saya. Saya termasuk orang yang senang bepergian dengan kendaraan umum. Selain lebih ekonomis, banyak pelajaran yang bisa didapat selama perjalanan. Amatlah rugi rasanya jika tak memanfaatkan waktu yang sedemikian panjang hanya dengan tidur atau melamun. Padahal, setiap jengkal jalan yang kita tempuh itu pasti mengandung -setidaknya- satu hikmah. Berapa jengkal yang kita lewati dalam perjalan itu? berapa banyak perjalanan yang sudah kita lewati? Dan berapa banyak waktu yang terbuang percuma tanpa ada pelajaran yang bisa dipetik?
Di sebuah terminal, saat bis berhenti sekurangnya lima belas menit, saya akan mengingat-ingat kembali jalan yang sudah terlewati. Berapa kota sudah terlintasi, berapa anak sungai terlalui, berapa ribu rumah dan berapa juta orang yang terlihat. Kadang mata ini dibuat terbelalak dengan pemandangan aneh, atau seketika saya tertawa kecil melihat kelucuan di tepi jalan. Sesekali mulut ini ternganga terperangah oleh hal-hal baru yang saya dapatkan. Semua itu, akan menjadi catatan-catatan tersendiri yang kemudian terangkai dengan rapih dalam coretan di buku kecil saya.
Catatan-catatan perjalanan itulah yang kemudian tersusun rapi dalam sebuah catatan sederhana. Sungguh, ini hanyalah catatan kecil dari berbagai perjalanan yang telah saya lalui di berbagai tempat. Mungkin, bisa jadi hanya coretan tak penting dari perjalanan pendek di sekitar rumah, atau ketika melintas pasar, sekolah, masjid seberang rumah, dan jalan-jalan lainnya yang menurut kebanyakan orang hanya berupa tempat biasa. Tetapi cobalah membuka mata lebih lebar, memasang telinga lebih luas, teramat banyak hikmah yang kita peroleh dari tempat-tempat yang kita anggap biasa. Ya, contohnya di jalan yang setiap hari kita lewati itu, pasti menyimpan banyak pelajaran penting. Masalahnya, maukah kita mengambil hikmah-hikmah yang bertebaran itu?
Sekarang, duduklah dengan sedikit bersandar. Hampiri kembali terminal-terminal kenangan kita yang telah lama terlupakan. Bangkitkan kenangan-kenangan tersebut dalam semangat memperbaiki diri. Ingat, kita tak diperkenankan menengok ke belakang, kecuali untuk mengambil pelajaran di masa lalu. Kalaupun saat ini kita bermenung sejenak, pastikan untuk berusaha lebih baik di masa yang akan datang. Jadikan setiap masa berlalu sarat makna. Ciptakan terminal-terminal kenangan kita sendiri, maka yakinlah bahwa jalan terbentang di depan akan dapat dilalui dengan penuh kepercayaan. Padahal, kita hanya punya satu keyakinan, yang itu didapat dari menengok ke masa lalu.
Hidup adalah perjalanan panjang. Buatlah beberapa terminal, untuk berhenti sejenak dan berkaca pada masa lalu. Agar tak ada yang perlu disesali karena kesalahan yang terjadi berulang kali. Semoga.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.