HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://h-akbar.kotasantri.com
Bergabung
28 Agustus 2011 pukul 10:56 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
Saya adalah manusia biasa. Senang membaca. Tertarik dengan kajian agama.
http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com
http://facebook.com/profile.php?id=100000493450379
http://twitter.com//#!/akbararrafiiyah
Tulisan H. Lainnya
Menggagas Rumah Ideal
22 Oktober 2011 pukul 13:31 WIB
Keutamaan 10 Hari Awal Dzulhijjah
19 Oktober 2011 pukul 14:00 WIB
Bercermin kepada Tukang Parkir
18 Oktober 2011 pukul 12:21 WIB
Nilai Seekor Unta
15 Oktober 2011 pukul 13:00 WIB
Orang Kaya dan Orang Miskin Bertemu di Surga
11 Oktober 2011 pukul 19:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Selasa, 1 November 2011 pukul 14:00 WIB

Hijrah untuk Kualitas Hidup yang Lebih Baik

Penulis : H. Akbar

Kadang kita tidak melihat pentingnya perubahan, terutama saat kita sudah berada di zona nyaman. Padahal menuju yang lebih baik itu tidak ada batasnya. Sebagai muslim, ukuran lebih baik kita adalah peningkatan kualitas ketakwaan. Dan kualitas ketakwaan kepada Allah tidak terbatas. Karena itu, pintu hijrah selalu terbuka.

Hijrah pada dasarnya adalah berubah menjadi yang lebih baik dan hijrah membutuhkan pengorbanan. Rasulullah SAW memberikan pelajaran yang amat berharga kepada kita tentang hijrah ini, dengan segala bentuknya. Di dalamnya ada pengorbanan. Ada tuntutan ketulusan dan keikhlasan meninggalkan segalanya serta keberanian memulai dari nol jika diperlukan.

Mengapa berani? Karena ada keyakinan bahwa di sana tersedia sesuatu yang lebih baik. Dalam landasan ajaran agama kita, pengorbanan yang dilandasi dengan ketulusan untuk meningkatkan kualitas ketaatan kita kepada Allah tidak akan pernah sia-sia.

Sebenarnya dalam setiap sejarah, kita kaya dengan contoh hijrah. Misalnya saja, negara kita yang memperoleh kemerdekaan, tidak dengan mengemis, tetapi dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, benda, dan segalanya.

Pada prolog 1945, sebagian besar rakyat sebenarnya sudah berada di zona nyaman karena penjajah memfasilitasi segalanya. Makanan mudah didapat. Segalanya dapat dibeli dengan uang sekerincing. Ya, paling tidak kehidupan semacam itu nyaman untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makanan, rumah, dan pakaian.

Meskipun begitu, saat itu pendidikan masih tertutup untuk sebagian besar anggota masyarakat, kecuali bagi para priyayi saja. Oleh karena itu, tidak banyak masyarakat yang berpikir mengenai apa itu kemerdekaan. Hanya sebagian kecil yang memiliki visi ke depan.

Alhasil, hasrat untuk hijrah belum menjadi sebuah fenomena massal.
Masa penjajahan ini baru akan berakhir setelah sekelompok kecil pemuda mempelopori pemikiran-pemikiran yang berani untuk keluar dari kemapanan dalam bentuk memerdekakan diri. Ketika itu, kemerdekaan menjadi sesuatu yang memiliki daya magnet besar, sehingga masyarakat pun menyadari arti penting hijrah.

Konsekuensinya, memang setiap perubahan menuju yang lebih baik itu memerlukan pengorbanan. Bandung Lautan Api (BLA) adalah salah satu bentuk ekspresi keinginan hijrah, yang kemudian diikuti sebuah pengorbanan yang luar biasa, Bandung benar-benar menjadi lautan api. Kisah BLA adalah sebuah contoh fenomenal dan masif bagaimana pengorbanan dengan suka cita disambut oleh masyarakat.

Biasanya yang bisa melihat perlunya sebuah perubahan dan siap mengawal perubahan dengan pengorbanan, selalu kaum muda. Karena anak muda biasanya mampu berpikir ideal. Mereka belum memiliki beban sosial yang banyak, tidak harus menanggung anak dan istri. Jadi mereka merupakan satu lapisan generasi khusus yang paling siap berkorban.

Pada setiap zaman, ketika timbul tuntutan akan perubahan, pasti lahir anak-anak muda yang memiliki semangat dan idealisme tinggi. Pada tahun 1940-an, lahirlah generasi seperti Soekarno, Hatta, dan Muhammad Natsir. Mereka adalah anak-anak muda pada zamannya, yang juga merupakan para intelektual dengan visi ke depan dan bisa keluar dari kemapanan. Mereka bisa melihat tantangan zamannya.
Ya, setiap zaman memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Pada zaman mereka, tantangan zaman adalah pencapaian kemerdekaan. Lalu mereka berhasil menyadarkan massa dan kemudian secara bersama-sama melakukan perubahan.

Nah, zaman sekarang, hijrahnya seperti apa, khususnya untuk anak-anak muda? Mereka harus bisa keluar dari jebakan kenyamanan. Mereka harus bisa memilah mana yang merupakan jebakan kenyamanan dan mana yang bisa menawarkan terobosan sejarah. Dengan begitu, mereka akan memiliki sesuatu yang fenomenal, memiliki usia yang panjang dalam sejarah, dan tidak akan mudah dilupakan.

Para pahlawan itu sudah wafat puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, tetapi mereka masih diingat. Ini adalah sepenggal janji Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 154 :

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Misalnya saja Nabi Ibrahim. Meskipun beliau hidup ribuan tahun lalu, tapi masih dikenang dan akan tetap dikenang hingga hari kiamat. Karena dia mempelopori pengorbanan dan berani hijrah dari masyarakatnya yang menyembah patung. Dia berani menerobos kungkungan kenyamanan dan kejumudan. Dia bisa keluar dari jebakan kenyamanan masyarakatnya. Dia menawarkan sesuatu yang baru dan bersedia hijrah. Betul-betul hijrah; secara fisik, lokasi, psikologis, filosofis, dan ideologis.

Generasi muda sekarang pun harus mampu menemukan apa yang bisa mereka tawarkan kepada sejarah. Keberanian hijrah dan pengorbanan macam apa yang dapat mereka lakukan.
Jika kita lihat zaman sekarang, banyak noktah-noktah kehidupan yang memang butuh pengorbanan. Misalnya, berani bekerja lebih keras demi cita-cita ideal dan mau meninggalkan gaya hidup yang korup. Hal ini adalah nonsense pada zaman sekarang. Sama seperti ketika sekelompok anak kecil yang menawarkan ide kemerdekaan dari penjajah 66 tahun yang lalu. Orang-orang menentang, “Buat apa? Cari perkara! Hidup sudah nyaman sekarang!” Waktu itu, hidup terbilang nyaman dan enak untuk sebagian besar orang, meskipun dijajah.

Sekarang, gaya hidup korup dianggap sesuatu yang normal. Ada pemikiran, “Kalau mau hidup nyaman, ya harus begitu, harus menempuh jalan itu.” Dalam pendidikan, misalnya mencontek. Lihat saja Ujian Nasional (UN). Jawaban sudah tersedia bebas. Kadang orangtua dan guru bersekutu. Segala cara, yang penting anaknya bisa lulus dengan nilai yang baik, sehingga mendapat sekolah yang baik.

Hal semacam ini sekarang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, meskipun sesungguhnya melanggar azas kepatutan.
Kesederhanaan pun merupakan hal yang aneh pada masa kini. Lihat saja hiruk pikuk di Jakarta. Kasus-kasus yang melibatkan wakil rakyat terbongkar. Masyarakat berpikir bahwa jabatan publik adalah jabatan terhormat, tetapi rupanya sebagian dari mereka yang duduk itu ternyata memperolehnya dengan cara-cara yang korup. Meskipun hanya sebagian kecil saja yang bertingkah laku seperti itu, tapi citra yang terbentuk sungguh amat luar biasa.

Pemuda adalah pewaris zaman, dan kondisi suatu zaman bergantung kepada bagaimana generasi muda merintis zamannya. Hanya dengan begitu, pada tahun 2100 atau 2150, akan ada sejarah generasi 2010. Seperti bagaimana kita sekarang mengenang pahlawan Bandung Selatan Mohammad Toha, Panglima Besar Jenderal Sudirman, sampai Rasulullah. Mereka terus hidup, tidak mati, dan dicatat dengan tinta emas sejarah.

Barangkali ketika mereka melakukan semua tindak kepahlawanan itu, tidaklah gemerlapan ataupun disorot oleh media, tapi Allah Maha Adil dan punya cara sendiri. Bukankah kita diajarkan sebuah doa dalam Al-Qur'an agar kita menjadi buah bibir yang baik bagi generasi berikutnya?

Jadi kita tidak perlu takut dalam kesepian dan kesendirian ketika mempelopori sesuatu yang ideal. Ideal seperti apa? Bagi kita sudah jelas, kualitas ketakwaan kepada Allah yang terus meningkat, karena ketakwaan itu tidak ada batasnya.

Pada dasarnya, kita harus berubah setiap saat. Banyak momen-momen yang mengharuskan kita untuk berubah. Tadinya pelajar di SMA kemudian mahasiswa di perguruan tinggi. Tadinya anak kecil, kemudian menjadi dewasa, lalu jadi orangtua.

Perubahan sebenarnya harus terus-menerus kita lakukan. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan besok harus lebih baik daripada hari ini. Keyakinan itu yang memaksa kita untuk disiplin. Kedisplinan sendiri memerlukan pengorbanan dan keberanian untuk memberikan yang terbaik.

Hijrah adalah perjuangan seumur hidup. Godaan dan iming-imingnya memang banyak. Sudah sunnatullahnya begitu. Tapi kita punya daya tahan lebih, karena kita punya cita-cita. Sehingga kita teguh dan istiqamah di jalur yang sudah kita pilih. Kita percaya bahwa semua pengorbanan yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang sia-sia. Karena yang kita yakini adalah sebagian dari apa yang diamanahkan Allah, yang nanti akan kita pertanggungjawabkan di akhirat.

http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan H. Akbar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko | Karyawan BUMN
Alhamdulillah bisa bergabung lagi setelah 6 bulan aku off. Tulisannya bisa menggugah perasaan kita. Lanjutkan, saudaraku!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2615 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels