Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://febrian.kotasantri.com
Bergabung
28 Maret 2011 pukul 00:07 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
http://febrianhadi.wordpress
febrianhadi
http://facebook.com/Febrian Hadi Santoso
http://twitter.com/febrianhadi
Tulisan Febrian Lainnya
Baiti Jannati
14 Desember 2013 pukul 21:00 WIB
Tayangan Sehat
6 Desember 2013 pukul 19:00 WIB
Indahnya Sedekah
13 Oktober 2013 pukul 20:20 WIB
Yang Terlelap
8 Agustus 2013 pukul 17:00 WIB
Aku Ditanya
30 Mei 2013 pukul 22:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 1 April 2011 pukul 12:00 WIB

Belajar dari Bulan, Bumi, dan Matahari

Penulis : Febrian Hadi Santoso

Malam sudah sampai di tengah-tengah, suara jalanan pun telah lengang. Dan seperti biasanya kantuk ini pun tak kunjung datang. Suasana kontrakan pun kian sepi, hanya meninggalkan suara televisi yang ditinggal tidur penghuninya. Ingat kata seorang teman, obat mujarab ketika sulit tidur adalah membaca buku. Buku yang saya maksudkan agar mendatangkan lelap lebih mudah, ternyata malah berkebalikan. Biasanya belum sampai dua halaman, mata ini pasti sudah rapat-rapat menutup, begitu pula dengan bukunya. Lembar demi lembar saya telusuri samudera aksara bermakna, tak lelah mata membaca, fikiran mencerna, dan seringnya hati cenut-cenut.

Kantuk yang tak kunjung datang menyebabkan ku berpikir untuk berbuat sesuatu di tengah malam yang hening ini. Mencari teman untuk ngobrol pun tak ada. Akhirnya kuayunkan langkah kaki ini menuju lantai dua rumah kontrakan. Untungnya malam itu cerah, tidak ada awan mendung yang menyelimuti. Ku melihat bintang dan bulan tersenyum melihat kedatanganku malam itu. Seketika itu teringat kisah nabi Yusuf yang pernah bermimpi melihat bintang, matahari, dan bulan yang semua bersujud kepadanya.

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." (QS. Yusuf : 4).

Langit malam itu kupandangi dengan seksama, lalu ku bertanya pada diri ini apa yang mereka lakukan di malam hari ketika para penghuni bumi sedang tertidur pulas? Dan pertanyaan lain muncul, bagaimana cara mereka menyapa ketika bulan, bumi, dan matahari berpapasan?

Teringat ilmu Fisika Dasar yang sudah didapat, bahwa bulan, bumi, dan matahari adalah kesatuan tim yang bekerja sama dan bekerja keras demi satu tujuan. Ibarat sebuah perjalanan, bekerja keras tentu adalah sebuah gerak langkah menuju satu tujuan. Jika kita diam tanpa sebuah gerakan apapun, tentu kita tidak akan pernah sampai pada sebuah tujuan. Bukankah alam semesta pun bergerak? Bayangkan seandainya bumi berhenti bergerak, matahari enggan berputar, planet dan bintang-bintang berdiam diri, tentu kita tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan manusia dan alam semesta raya. Atau mungkin salah satu dari mereka mogok bekerja dan saling iri satu sama lain, tentu kita tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan manusia dan alam semesta raya. Bayangkan matahari dan bumi dengan jarak sekitar 148 juta kilometer. Bagaimana menyatukan hati keduanya? Begitu pula bumi dengan bulan dan bulan dengan matahari. Bagaimana menyatukan hati keduanya?

Tetapi mereka cukup setia satu sama lain, bulan setia kepada bumi dengan mengitarinya. Bumi pun kompak dengan bulan mengitari matahari secara bersama-sama. Mereka tidak saling bermalas-malasan dalam mengemban amanah dari sang Khallik. Mereka bergerak dengan tugas mereka masig-masing.

Alangkah indahnya ketika kita berada dalam satu tim mencontoh dari kerja sama dan kerja keras bulan, bumi, dan matahari yang selalu bergerak, tidak ada yang saling cemburu serta saling setia satu sama lain.

Ah, malam ini ku terlalu lama membayangkan sesuatu. Ternyata kesulitanku akibat tidak datangnya ngantuk malam itu ada sesuatu yang bisa kuambil pelajaran. Belajar dari bulan yang memberikan kelembutan yang merupakan sifat dari sang Khalik Al-Lathiif Yang Mahalembut. Belajar dari matahari yang selalu bersinar yang juga merupakan sifat dari sang Khalik An-Nuur Yang Maha Bercahaya. Juga belajar kerja sama, kerja keras, dan kesetiaan dari bulan, bumi, dan matahari.

Akhirnya rasa kantuk itupun datang. Kuputuskan untuk turun dan segera tidur karena esok hari ku harus mengurusi sesuatu di kampus.

http://febrianhadi.wordpress

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febrian Hadi Santoso sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Akhmad Muhaimin Azzet | Penulis
Membaca-baca di KotaSantri.com, di samping memetik motivasi dan inspirasi, betapa terasa damai di dada. Sungguh. Beginilah bila akhlak mulia yang dijunjung dan dijaga. Alhamdulillah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1142 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels