Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
Dengar
30 Juni 2010 pukul 20:13 WIB
Figuritas
28 Juni 2010 pukul 16:55 WIB
Tiga Tipologi Keluarga
26 Juni 2010 pukul 17:00 WIB
'Opor' Kentang Keju
20 Juni 2010 pukul 19:00 WIB
Iran vs AS, PBB, Yahudi, a.k.a Dajjal?
19 Juni 2010 pukul 20:31 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 2 Juli 2010 pukul 17:15 WIB

Rumus Menghilangkan Dendam

Penulis : Meyla Farid

Kadang saat kita sedang merasa tersakiti, keinginan balas dendam atau minimal menumpahkan rasa kesal menjadi cita-cita yang sangat menggiurkan. Ibarat lagunya 'Cokelat' yang berjudul 'Karma', kita sangat-sangat menunggu kapan bisa melihat balasan diterima oleh yang pernah menyakiti.

Cukuplah keinginan melihatnya merasakan apa yang pernah kita rasakan. Misalnya ia berbuat jahat, suatu saat pasti akan ada balasannya. Jangankan di akherat, dosa menyakiti seorang mukmin atau mendzalimi, balasannya akan dirasakan di dunia juga. Tidak aneh, jika di masa lalu kerjaannya hanya berbuat seenaknya dan sesuka hatinya, tanpa meraba perasaan orang lain, kelak atau sekarang ia merasakan hal serupa dilakukan orang terhadapnya.

Lalu untuk apa ingin balas dendam? Satu. Membuang-buang waktu saja. Memikirkan orang yang taruhlah bersalah kepada kita, sangat tidak ada gunanya. Bukankah memikirkan orang yang seperti itu sama dengan membuang waktu kita untuknya? Dua. Membuang energi. Cukup sudah energi yang habis terbuang di hari-hari kemarin. Sama sekali tidak ada manfaatnya memakai energi yang masih tersisa untuk, sekali lagi, memikirkan keinginan melihatnya mendapat balasan.

Memang, memaafkan itu agak sulit dipraktekkan. Tapi manfaatnya bukan untuk siapa-siapa jua. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri. Untuk ketenangan dan kelangsungan hidup kita hari ini dan esok hari. Membuang 'kotoran' dalam hati dan pikiran, lepaskan, maafkan kesalahan diri, terima keadaan. Lalu nanti dengan sendirinya mampu memaafkan kesalahan orang lain.

Rumusnya demikian, kalau kita memendam kebencian kepada orang, bukankah hanya merugikan diri sendiri? Pikiran tak tenang diliputi kebencian. Tidur jadi gelisah dan makan pun jadi kurang selera. Selama hidup sampai sekarang, tentunya kita pernah mencicipi episode hidup disakiti dan menyakiti (walaupun mungkin tanpa sengaja) bukan? Jujur ya, kita pasti pernah memasuki episode itu.

Kalau sudah begitu, kuncinya lagi-lagi harus belajar ikhlas. Kedengarannya indah, mudah-mudahan bisa mengamalkannya. Setidaknya, bercita-cita untuk mengamalkannya.

http://meylafarid.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lia Juliana | Staf Purchasing
My fav situs nih.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0987 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels