|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Selasa, 22 Desember 2009 pukul 18:11 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Ada yang berdetak cepat di hati, kala gundah mengejakan tentang ketidakberdayaan, akan sebuah ujian yang kini terunut. Ada ketertundukan yang bergumul, menyelipkan ikhtiar di antara kepasrahan. Sementara selarik permohonan berbaris rapi di pelataran jiwa, menunggu tuk segera dikabulkan.
Fase itu, dimana keimanan teruji kembali. Untuk tetap kukuh mendekap janjiNya, atau terhuyung, terhempas, menyerah, dan bergabung dengan barisan para pembangkang takdir.
Mungkin, ya, bahwa pernah salah melangkah. Dan kini menerima resiko dari kesalahan yang pernah terlakukan. Namun sungguh, sekali-kali tidak! Untuk menyelesaikannya dengan mengayuh hal yang tidak diridhaiNya. Bukankah kebaikkan harusnya didapatkan dengan cara yang baik pula?
Ada asa yang kini tertahan hebat. Menggaung di seluruh ruang jiwa. Meruakkan janji untuk mewujudkannya segera. Semampu diri, dalam ikhtiar luar biasa.
Duhai Rabbi, justru disaat merasa tak berdaya, ada mimpi yang melambung tinggi.
***
Dari Ibnu Mas'ud RA, ia berkata; Nabi SAW membuat gambar empat persegi panjang. Di tengah-tengah ditarik satu garis sampai keluar. Kemudian beliau membuat garis-garis pendek di sebelah garis yang di tengah seraya bersabda, "Ini adalah manusia dan empat persegi panjang yang mengelilinginya adalah ajal. Garis yang di luar ini adalah cita-citanya, serta garis yang pendek adalah hambatan-hambatannya. Apabila ia dapat menghadapi hambatan yang satu, maka ia akan menghadapi hambatan-hambatan yang lain. Dan apabila ia menghadapi hambatan yang lain, maka ia akan menghadapi hambatan yang lain lagi."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.