|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Sabtu, 6 November 2010 pukul 17:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Pertengkaran bisa terjadi manakala setiap orang membenarkan pendapatnya. Kita ambil contoh seorang anak merasa dirinya benar, ketika hendak memilih jodoh atau sekolah yang sesuai pilihannya sendiri. Sedangkan orangtua merasa benar dengan memilihkan jodoh atau sekolah untuk masa depan anaknya. Akibatnya bisa ditebak, jika masing-masing pihak merasa benar maka pasti akan terjadi pertengkaran. Orang yang tidak terlatih untuk memahami pendapat orang lain hasilnya adalah emosional.
Dalam rumah tangga juga begitu, rumah yang kita bangun dengan megah, dilengkapi kamar mewah dengan kasur empuk, serta aksesoris yang mahal tidak akan ternikmati andaikata suami istri sibuk bertengkar. Coba kita renungkan apa yang kita peroleh dari pertengkaran? Ternyata bila kita telaah penyebab pertengkaran adalah karena kita belum terbiasa menyikapi perbedaan dengan tepat. Akibatnya setiap orang lebih sibuk membela pendapatnya sendiri.
Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan. Pertama, kita harus belajar bijak terhadap kelebihan dan kekurangan orang lain. Tidak setiap orang berbuat salah. Ada yang salah karena dia tidak tahu itu salah, ada yang tahu itu salah tapi belum sanggup menghindar dan sebagainya.
Kedua, kita harus senang mengingat kebaikan dan berani mengakui kelebihan oang lain. Misalnya apabila seorang anak marah kepada ibunya, cobalah untuk menulis kekurangan ibu. Setelah itu cobalah untuk menuliskan kebaikannya. Semakin banyak kebaikan yang kita pikirkan insya Allah akan membuat hati ini semakin melunak.
Ketiga, kita harus mulai melupakan jasa dan kebaikan diri. Sebab semakin kita ingin dihargai, semakin kita ingin dihormati, semakin kita ingin dipuji, maka kita kita akan semakin sering sakit hati. Dan itu hanya akan menyengsarakan kita. Maka lupakanlah keinginan untuk dipuji, dihormati atau merasa diri paling berjasa. Sadarilah, pujian manusia itu kecil nilainya. Tetapi pujian Allah yang benar-benar mulia di dunia dan akhirat.
Keempat, Marilah kita sibuk melihat kekurangan diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Sehebat apapun perkataan kita, tidak akan ada harganya kalau kita tidak memperbaiki diri. Langkah perbaikan diri akan menuju pribadi yang bisa disuritauladani. Jika setiap individu sibuk memperbaiki diri, insya Allah akan tercipta keluarga, masyarakat negara yang baik pula. Semoga hari demi hari yang kita lewati menjadi awal menuju perbaikan diri.
Dari Buletin Keluarga Sakinah
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.