HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://fitri_ana.kotasantri.com
Bergabung
9 Juni 2010 pukul 16:36 WIB
Domisili
fukuoka - fukuoka
Pekerjaan
ibu rumah tangga
Tulisan Fitriana Lainnya
Cheese Soufflé Cake ala Fukuoka
4 Juli 2010 pukul 19:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 17 Juli 2010 pukul 17:00 WIB

Istri ala Ibu Ketua RT-ku

Penulis : fitriana tjiptasari

Ahad pertama pada setiap bulannya, di kompleks rumahku diadakan shouji (kerja bakti-red). Pada tiap musim, waktu mulai shouji berbeda-beda. Untuk musim panas sekarang, kami memulai shouji pukul 7:30. Karena pada pukul itu, matahari sudah naik, dan terasa teriknya. Kami bertempat tinggal di lantai 5, sehingga mendapatkan areal shouji di sebelah belakang gedung, di samping kamar penghuni lantai 1.

Beberapa kali, setiap kali shouji, aku selalu berdampingan dengan ibu Ketua RT. Beliau juga membersihkan areal belakang gedung. Ibu Ketua RT yang sangat lemah lembut, dan halus tutur katanya.

Pagi itu, Salman yang baru saja bangun, terkejut mendengar pintu rumah kubuka perlahan, dan kemudian aku keluar. Sesaat kemudian terdengar bunyi tangisnya membahana di seluruh gedung.

Ketika kami asyik membersihkan rumput, tiba-tiba Salman dan Rahma datang mendekat. Beliau, ibu Ketua RT-ku, menyapa anak-anak dengan halus. Bersama Rahma terlibat dalam sebuah percakapan. Ketika anak-anak kembali ke rumah, si ibu bercerita tentang keluarganya.

Mereka berasal dari Nagasaki. Sebuah kota yang dulu pernah dijatuhi bom atom oleh Amerika. Tetapi untung, rumah mereka lumayan jauh dari pusat bom dijatuhkan, sehingga tidak terkena dampak langsung dari bom tersebut. Beliau memiliki 3 orang anak, perempuan semua, dan 1 orang cucu. Anak pertama sudah menikah, namun tidak tinggal bersama mereka. Sedangkan anak kedua dan ketiga menempati lantai 4, di bawahku persis, dan di atas kamar beliau. Suaminya seorang pegawai pemerintah yang taat, katanya. Pagi pukul 6:30 sudah meninggalkan rumah, dan petang kira-kira pukul 17:30 baru sampai ke rumah.

Selama hidup dengan suaminya, beliau tidak pernah membantah perkataan suami. Beliau selalu siap sedia untuk sang suami. Beliau merasa bahwa suaminya sudah bekerja keras untuk keluarga, dari awal menikah sampai sekarang ini. Dan suaminya tidak pernah mengeluh. Maka sudah sepantasnyalah dirinya tidak mengeluh. Beliau mengatakan, jika ibu mengeluh, menyerah, bagaimana dengan anak-anaknya kelak? Bukankah ketika suami keluar untuk bekerja, maka anak-anak akan bersama dengannya sepanjang hari. Sehingga apapun yang terjadi dengan si ibu, maka anak-anak akan merasakannya. Hal seperti inilah yang selalu dicamkan kepada anak-anak beliau sekarang.

Beliau mempunyai prinsip untuk taat kepada suami, menghormati suami, melayani suami, dan percaya kepada suami. Suami adalah dewa baginya.

Ibu Ketua RT-ku seorang yang tidak beragama, namun dia percaya adanya Kamisama (Tuhan, red). Sebagai seorang yang tidak beragama, beliau mempunyai prinsip ketaatan penuh kepada suami. Seharusnya aku malu dengan ibu itu. Di mana jelas-jelas agamaku adalah Islam, di dalam Al-Qur'an dan hadits banyak disebutkan tentang suami dan istri.

Tentang ketaatan penuhnya kepada suami, seperti sebuah hadits Rasulullah SAW, “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi).

Dari hadits tersebut jelas tergambar bahwa, istri tidak ada apa-apanya dibandingkan kedudukan seorang suami. Ketika seorang perempuan sudah menikah, maka suaminyalah yang berhak sepenuhnya atas dirinya. Ketaatan itu merupakan kewajiban istri yang paling utama bukan?

Selama suami berkehendak, jika tidak untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita wajib untuk taat kepadanya. Dan kewajiban taat ini gugur, ketika suami memerintahkan kita untuk bermaksiat.

Beliau juga berprinsip menghormati suaminya. Dalam Islam pun, kata hormat juga diperuntukkan menjadi sebuah kewajiban seorang istri terhadap suaminya. Seorang istri berkewajiban untuk menjaga kehormatan dirinya, suami, dan harta keluarga. Ketika suami ada dan tidak ada.

Rasulullah SAW bersabda, “Perempuan (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya dan bakal ditanya tentang kepemimpinannya itu serta tentang harta suaminya.” (HR. Bukhari - Muslim).

Beliau selalu berusaha untuk tegar, di kala suami tidak ada. Berjuang untuk selalu bisa menjaga keluarganya, agar semuanya berjalan dengan baik. Mendidik ketiga anaknya dengan sebaik-baiknya. Mengantar mereka sekolah di kala mereka masih kecil, dan sekarang ketika semua anak sudah beranjak besar, menanamkan nilai-nilai etika berkeluarga kepada mereka. Beliau menyadari bahwa, kehidupan di Jepang tidak seperti dulu lagi. Sekarang seseorang tidak malu ketika seumur hidup tidak menikah. Ataupun kebalikannya, mereka tidak malu hidup bersama tanpa sebuah tali pernikahan. Yang kadangkala menghasilkan anak dari gaya hidup mereka. Aborsi di Jepang merupakan hal yang dilegalkan. Sehingga banyak pasangan muda-mudi yang bisa dengan mudah menggugurkan bayinya, asal mereka sudah 20 tahun ke atas.

Beliau menyatakan, “Ketika anak-anakku beranjak dewasa, maka ada bagian yang mereka rahasiakan dariku. Dan kadangkala aku tidak mereka perbolehkan masuk untuk mengetahuinya.” Beliau yang lemah lembut dan halus tutur katanya, yang sudah puluhan tahun mendidik anaknya, masih saja merasa khawatir. Sedangkan aku? Masih harus berjuang dan bersemangat, agar anak-anakku menjadi pribadi-pribadi shaleh dan shalehah.

Dalam Islam juga telah disebutkan bahwa salah satu tugas istri sebagai ibu adalah merawat rumah tangga dan mendidik anak-anak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita adalah pengasuh dan pendidik di rumah suami, dan bertanggung jawab atas asuhannya.”

Bukan perkara yang mudah untuk mengaplikasikan isi hadits tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mempunyai anak, tidak hanya bagaimana bayi itu lahir dengan selamat, sehat, menggemaskan, dan cerdas, tapi lebih jauh lagi, bagaimana mempersiapkannya untuk menjadi generasi yang shaleh, anak-anak yang mampu mengemban amanah, yang menggenggam dunia di tangannya, dan yang selalu memenuhi hatinya dengan iman kepada Allah.

Percakapan di pagi itu, sungguh berkesan untukku, karena berhadapan dengan seorang Jepang, yang belum mengenal apa itu Islam. Namun nampaknya jiwa Islam sudah ada dalam dirinya. Dalam hal keagamaan, memang beliau tidak bisa dijadikan panutan. Tetapi dalam hal prakteknya, ada banyak hal baik yang bisa diambil pelajaran. Semoga aku bisa.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan fitriana tjiptasari sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fay Ahmed | Blogger
Senang sekali baca-baca di KotaSantri.com. Nambah pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2115 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels