QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://ardadinata.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Ciamis - Jawa Barat
Pekerjaan
Penulis dan PNS
Arda Dinata adalah Penulis, Motivator, dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://www.ardadinata.web.id
http://facebook.com/ardadinata
http://twitter.com/ardadinata
Tulisan @ Lainnya
Menyikapi Kematian Anak
4 Juli 2009 pukul 18:11 WIB
Berpikir untuk Setelah Mati
1 Juli 2009 pukul 17:00 WIB
Akhlak Islam, Pembentuk Pribadi Unggul
13 Mei 2009 pukul 17:54 WIB
Indahnya Keluarga Berkualitas
9 Mei 2009 pukul 17:35 WIB
Bermain, Cara Anak Belajar Kehidupan
18 April 2009 pukul 18:33 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 1 Agustus 2009 pukul 17:05 WIB

Keteladanan dalam Islam

Penulis : @ Arda Dinata

Kekuatan dari ilmu itu adalah mengamalkannya. Seorang teman bercerita bahwa ia ingin agar anaknya tidak membuang sampah sembarangan, tapi perintah tinggal perintah, nyatanya sang anak tetap membuang sampah sekehendaknya, padahal sudah ada tempat sampah di lingkungan tersebut.

Teman saya itu, akhirnya mengakui dampak dari tidak konsistennya antara ucapan dan tingkah lakunya. Tepatnya, teman saya itu pernah kepergok oleh anaknya ketika sedang membuang sampah di sembarang tempat.

Dari cerita teman saya itu, kita dapat mengambil pelajaran bahwa ilmu yang tidak sesuai amal yang dilakukan akan menghambat proses pendidikan anak dalam keluarga. Padahal kita sadar betul, kalau keluarga merupakan tiang utama kehidupan umat dan bangsa. Keluarga sebagai tempat sosialisasi nilai-nilai yang paling intensif dan menentukan. Artinya, keluarga cinta ilmu dan amal shaleh, tidak lain sebagai barometer dari pembangunan keluarga seorang muslim, sehingga dapat mewujudkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Pola pendidikan demikian, sadar atau pun tidak, jelas-jelas akan berfungsi dalam mensosialisasikan nilai-nilai ajaran Islam dan lebih jauh akan memposisikan diri sebagai kader generasi muslim yang dapat menjadi pelangsung dan penyempurna gerakan dakwah di kemudian hari. Inilah cikal bakal dari munculnya generasi teladan.

Setiap keluarga muslim dituntut menciptakan keteladanan (uswah hasanah) bagi anggota keluarganya. Teladan, diartikan sebagai (perbuatan, barang, dan sebagainya) yang patut ditiru. Sehingga, pantas saja keteladanan ini dijadikan sebagai alat utama dalam pendidikan anak. Secara spesifik, keteladanan dalam diri manusia, akan menjadikan hidupnya terlepas dari beban-beban psikis seperti yang dimiliki oleh orang-orang yang berbohong lagi dusta. Lebih jauh, ternyata perilaku keteladanan menjadikan hidup kita indah dan menyenangkan.

Pada tataran demikian, budaya keteladanan harus menjadi visi kita dalam membangun kehidupan keluarga sakinah yang telah menjadi cita-cita kita. Sehingga setiap orangtua (terutama seorang ibu) dituntut untuk menjadi sumber inspirasi uswah hasanah (keteladanan) bagi perilaku anak-anaknya.

Adapun bentuk keteladanan yang perlu dikedepankan dalam mendidik anak adalah berupa mempraktekkan kehidupan yang Islami. Paling tidak, ada sembilan hal yang perlu dibangun dalam kehidupan Islami tersebut yang akan membuahkan keteladanan dari seorang anak di kemudian hari dan menciptakan keluarga sakinah.

1. Tertanamnya ihsan/kebaikan dan bergaul dengan ma'ruf. Allah berfirman, "Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikannya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisaa' : 19).

"Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS. An-Nisaa' : 36).

Dalam QS. Al-Israa : 23, Allah berfirman, "Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembali." (QS. Luqman : 14).

2. Saling menyayangi dan mengasihi. Dalam hal ini, Allah menginformasikan dalam QS. Ar-Ruum : 21, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang."

3. Menghormati hak hidup anak. Setiap orangtua harus mampu menjaga hak hidup anak, di antaranya berupa informasi tentang apa yang diharamkan dalam hidup, berbuat baik kepada orangtua, dan jangan membunuh dengan alasan faktor kemiskinan (QS. Al-An'aam : 151).

Selain itu, dalam QS. Al-Israa : 31, Allah berfirman, "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kami-lah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa besar."

4. Saling menghargai dan menghormati antar anggota keluarga, memberikan pendidikan akhlak yang mulia secara paripurna. Dalam QS. Al-Ahzab : 59, Allah berfirman, "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu'min : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu."

5. Menjauhkan segenap anggota keluarga dari bencana siksa neraka. Allah berfirman, "Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim : 6).

6. Membiasakan bermusyawarah dalam menyelesaikan urusan. Dalam QS. Ath-Thalaaq : 6, Allah berfirman, "Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya." (Baca juga QS. Al-Baqarah : 233).

7. Berbuat adil dan ihsan. Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Maa'idah : 8).

Sementara itu, dalam QS. An-Nahl : 90, Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

8. Memelihara persamaan hak dan kewajiban. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 228, "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya."

Dalam surat yang lain, Allah berfirman, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (QS. An-Nisaa' : 34).

9. Menyantuni anggota keluarga yang tidak mampu. Allah berfirman, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros." (QS. Al-Israa' : 26). (Baca juga QS. Ar-Ruum : 38).

Akhirnya, patut kita renungkan apa yang diungkap oleh Sayyid Quthb, melalui tafsirnya yang terkenal (Fi Zhilalil Qur'an; 2000; 539-540), beliau menyatakan bahwa sistem keluarga di dalam Islam terpancar dari mata air fitrah, asal penciptaan dan dasar pembentukan utama bagi semua makhluk hidup dan segenap ciptaan. Keluarga adalah 'panti asuhan' alami yang bertugas memelihara dan menjaga tunas-tunas muda yang sedang tumbuh, mengembangkan fisik, akal, dan jiwanya. Di bawah bimbingan dan cahaya keluarga, anak-anak ini menguak kehidupan, menafsirkan dan berinteraksi dengannya.

Wallahu a'lam.

http://www.ardadinata.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan @ Arda Dinata sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna | Staff UPT Laboratorium
Subhanallah... KotaSantri.com isinya bagus, menarik, dan yang pasti banyak artikel-artikel yang menambah ilmu dan pengalaman.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1129 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels