QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Yuk, Ajari Anak Berpuasa!
6 Agustus 2011 pukul 10:00 WIB
Teladan Kaum Hawa
21 Juli 2011 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 13 Agustus 2011 pukul 14:14 WIB

Aspek Sosial Puasa

Penulis : Redaksi KSC

Bukan hanya umat Muhammad yang berpuasa. Sejarah mencatat, sebelum kedatangan Muhammad, umat Nabi yang lain pun diwajibkan berpuasa. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa AS, puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulan. Demikian pula nabi Musa AS dan kaumnya melakukan puasa selama empat puluh hari. Bahkan nabi Adam AS diperintahkan untuk tidak memakan buah khuldi yang ditafsirkan sebagai bentuk puasa pada masa itu. "Janganlah kamu mendekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [02] : 35).

Kemudian dalam Al-Qur'an surah Maryam dinyatakan bahwa nabi Zakaria dan Maryam sering mengamalkan puasa. Nabi Daud AS juga berpuasa sehari dan berbuka sehari setiap tahunnya. Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa Asyura yang jatuh pada hari ke-10 bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy yang lain. Malah masyarakat Yahudi yang tinggal di Madinah pada masa itu juga turut mengamalkan puasa Asyura.

Bukan hanya manusia, ternyata binatang dan tumbuh-tumbuhan pun 'memahami' arti penting puasa. Mereka merasa perlu untuk berpuasa untuk memotivasi diri agar kelangsungan hidupnya tetap terjaga. Selama mengerami telur, misalnya, ayam harus berpuasa supaya dapat beranak pinak. Demikian pula ular, berpuasa berfungsi untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri hingga ia tetap mampu melata di bumi. Bahkan, ulat ulat-ulat pemakan daun juga berpuasa, jika tidak ia tak kan lagi menjadi kupu-kupu dan menyerbuk bunga-bunga.

Begitulah. Jika berpuasa merupakan sunnah thabi'iyyah (sunnah kehidupan) sebagai langkah untuk tetap survive, mengapa manusia tidak? Terlebih jika kewajiban puasa diembankan kepada umat Islam, tentu memiliki makna besar dan hikmah tersendiri. Puasa bukan hanya menahan dari segala sesuatu yang merugikan diri sendiri atau orang lain, melainkan merefleksikan diri untuk turut hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis, memusnahkan kecemburuan sosial, serta melibatkan diri dengan sikap tepa selira dengan menjalin hidup dalam kebersamaan, serta melatih diri untuk selalu peka terhadap dinamika kehidupan sosial. Rahasia-rahasia tersebut terdapat pada kalimat terakhir yang teramat singkat pada ayat 183 surah Al-Baqarah. Allah SWT memerintahkan, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [02] : 183).

Allah SWT mengakhiri ayat tersebut dengan "agar kalian bertakwa". Syekh Mustafa Sadik al-Rafi'ie (w. 1356 H/1937 M) dalam bukunya wahy al-Qalam mentakwil kata "takwa" dengan ittiqa, yakni memproteksi diri dari segala bentuk nafsu kebinatangan yang menganggap perut besar sebagai agama, dan menjaga humanisme dan kodrat manusia dari perilaku hewani. Dengan puasa, manusia dapat menghindari diri dari bentuk yang merugikan diri sendiri dan orang lain, sekarang atau nanti. Generasi kini atau esok.

Mazhab sosialisme yang mengalami masa kolapnya di Eropa, tak mampu mengubah, menambah, dan mengurangi jatah perut pengikutnya. Mereka, para sosialis tak pelak memandang puasa sebagai "satu-satunya sistem sosialis yang paling unik dan justeru paling benar". Bagaimana tidak, puasa adalah kefakiran secara 'paksa' yang ditentukan oleh syari'at agama kepada seluruh umat (Islam) tanpa pandang bulu. Islam memandang sama derajat manusia, terutama soal "perut". Mereka yang berharta, atau yang mempunyai sedikit rupiah, atau orang yang tak berpunya sepeser pun, tetap merasakan hal yang sama, lapar dan haus. Jika shalat mampu menghapus citra arogansi individual manusia diwajibkan bagi insan Muslim, haji dapat mengikis perbedaan status sosial diwajibkan bagi yang mampu, maka puasa adalah kefakiran total insan bertakwa yang bertujuan mengetuk sensitifitas manusia dengan metode amaliah (praktis), bahwasannya kehidupan yang benar adalah bagaimana memaknai kehidupan itu sendiri. Dan kehidupan itu mencapai suatu tahap paripurna manakala manusia memiliki kesamaan rasa. Manusia mencapai derajat kesempurnaan (insan kamil) tatkala turut merasakan sensitifitas rasa sakit, bukan turut berebut melampiaskan segala bentuk hawa nafsu.

Dari sini puasa memiliki multifungsi. Setidaknya ada tiga fungsi yang paling substansial dalam berpuasa : tazhib, ta'dib, dan tadrib. Puasa adalah sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa (ta'dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil (tadrib) yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa, takwa. Takwa dalam pengertian umum adalah melaksanakan segala perintah Tuhan dan meninggalkan segala laranganNya. Takwa dan keshalehan sosial adalah dua wajah dari satu keping mata uang yang sama, mengintegral dan tak dapat dipisahkan.

Ada sejenis kaidah jiwa, bahwasannya "cinta" timbul dari rasa sakit. Di sinilah letak rahasia besar sosial dari hikmah berpuasa. Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras segala bentuk makanan, minuman, aktivitas seks, penyakit hati, dan ucapan merasuki perut dan jiwa orang yang berpuasa. Dari lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tunawisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari. Puasa adalah satu sistem, cara praktis melatih kasih sayang jiwa dan nurani manusia. Adakah cara yang paling efektif untuk melatih kepekaan jiwa? Bukankah kita tahu bahwa selalu ada dua sistem yang saling terkait : yang melihat dan yang buta, yang cendikia dan yang awam, serta yang teratur dan yang acak.

Jika cinta antara "orang kaya yang lapar" terhadap "orang miskin yang lapar" tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai "sang mesias", juru selamat. Orang berpunya yang hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya mendengar suara sang fakir yang merintih. Orang berpunya akan memaknai semua atas pengabdian yang tulus, iimaanan wa ihtisaaban (karena iman dan ketulusan). Semua karena Allah, karena hanya Dia Sang pemilik segala.

Dari Karya Taufik Munir - Arsip KSC

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Salsabila | Mahasiswi
Subhanallah... Walhamdulillah... Sarana dari KSC lengkap banget. Semoga bermanfaat buat kita. Amin...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1423 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels