|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Sabtu, 6 Agustus 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Ibu rumah tangga terkadang merasa kesulitan menerapkan kewajiban puasa bagi anak-anak. Tentunya anak-anak yang belum akil-baligh memang tidak diwajibkan berpuasa. Tapi tidak ada salahnya jika anak-anak sejak dini dilatih berpuasa. Ini penting, agar di kemudian hari dia tidak terlalu sulit melaksanakan kewajiban tersebut saat mereka dewasa. Karena itu diperlukan cara yang benar dan metoda yang tepat untuk melatih anak-anak beribadah, khususnya berpuasa.
Syekh Ibrahim Ridha, salah seorang imam masjid dan pengajar di Wizaratul Awqaf Mesir mengatakan, "Kaum ibu harus membiasakan anak-anaknya berpuasa, tapi tidak harus satu hari penuh melainkan lakukan secara gradual. Misalnya dimulai dengan mengajaknya berpuasa sampai Dzuhur. Inipun masih ijtihadi (usaha alternatif), bukan keharusan. Ibu-ibu juga bisa memulainya dengan metodologi dialog atau berbicara dahulu kepada sang anak sebelum tiba bulan Puasa. Misalnya membicarakan tentang keutamaan bulan Ramadhan dan mengapa orang-orang banyak yang tidak makan dan minum pada bulan itu. Dengan demikian si kecil akan berfikir mengapa dirinya tidak puasa? Lalu setelah bulan puasa tiba, kita bagi-bagi lagi. Pada hari itu si anak berpuasa hanya satu jam, setelah itu dua jam, lalu bertambah tiga jam. Begitu seterusnya sampai satu hari penuh pada hari berikutnya. Dengan begitu puasa akan terpatri dalam dirinya menjadi satu kebiasaan."
Dalam satu riwayat Rasulullah SAW bersabda, "Suruhlah anak-anakmu mendirikan shalat pada usia tujuh tahun. Dan sentillah mereka ketika berusia sepuluh tahun." Secara tekstual Hadits ini menggunakan "wadhribuuhum" (pukullah mereka). Ahli fiqih menambahkan bighairi mubarrah (pukulan yang tidak bikin "bareuh", atau melukai). Karenanya saya lebih setuju kalau anak-anak cukup disentil saja anggota badannya.
Menyangkut shalat, kita latih anak-anak kita dari umur tujuh tahun hingga sepuluh tahun. Kalau puasa, kita latih anak-anak sejak usia mendekati masa pubertas. Hikmah yang bisa kita petik dari latihan tersebut agar anak-anak terbiasa taat, sehingga kebiasaan-kebiasaan itu bernilai ibadah. Dan kelak apabila mereka sudah puber dan mumayyiz, kebiasaan yang berubah menjadi ibadah itu menjadi kewajiban yang tidak lagi memberatkan. Sedangkan "anak-anak" yang sudah dewasa dan tidak membiasakan diri puasa dan shalat sejak kecil tidak perlu menggunakan cara pelatihan seperti ini.
Anak kecil sejatinya tidak perlu dipaksa puasa. Tetapi anak kecil yang "normal" akan mengikuti kebiasaan bapak-ibunya yang berpuasa. Dengan demikian terbuka lebar peluang orangtua untuk memberinya semangat puasa hingga "usia wajib puasa", sebagaimana firman Allah SWT, "Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu." (QS. Al-Baqarah : 183).
Artinya, wahai hamba-hambaKu, kalian jangan takut puasa, karena puasa ini juga sudah diwajibkan kepada kaum sebelum kamu, dan mereka sudah menjalankannya. Kemudian, puasa juga menjadi lebih mudah karena umat-umat lain sebelum nabi Muhammad SAW lahir juga pernah diwajibkan berpuasa. Dengan demikian, kalau saja umat lain bisa melakukan ibadah puasa, maka mengapa kita tidak? Kita pun bisa melakukan ibadah seperti umat-umat lain melakukannya.
Oleh karena itu, bagi para orangtua, ajarilah anak-anak berpuasa, dimulai dari setengah hari sampai satu hari penuh hingga sempurna satu bulan. Dengan demikian, puasa tidak lagi menjadi perkara yang sulit dilakoni anak-anak tercinta yang merupakan anugerah dan amanah dari Allah SWT.
Dari Karya Taufik Munir - Arsip KSC
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.