|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|





Sabtu, 7 Mei 2011 pukul 12:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Dalam tulisan "Beginilah Seharusnya Manusia Berakal", saya mencatatkan bahwa kita bisa lebih mulia dari Malaikat. Apakah Anda sudah memahami maksud pernyataan saya tersebut dengan benar? Alhamdulillah, jika sudah dapat memahaminya. Jika belum, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjembatani Anda untuk memberikan penjelasan yang lebih riil dalam pikiran Anda. Selain itu, saya juga ingin mengatakan, kita juga bisa lebih hina dari hewan. Ah, masa? Anda meragukannya? Maaf, saya bukan sengaja membuat Anda bingung. Tapi ini memang demikian adanya. Satu sisi kita bisa lebih mulia dari Malaikat. Di sisi yang lain, kita juga bisa lebih hina dari hewan.
Baik, apa yang bisa menyebabkan kita bisa menjadi lebih mulia dari malaikat dan lebih hina dari hewan? Kok seperti pilihan ya? Ya, karena hidup memang pilihan. Tak ayal, mau menjadi manusia mulia ataupun hina semuanya tergantung kita. Kalau begitu, apa resepnya agar selalu menjadi manusia yang mulia? Resep untuk bisa menempatkan kita menjadi mulia atau menjadi hina hanya terletak pada kemampuan kita mengendalikan nafsu. Imam al-Ghazali memaktubkan dalam buku 'Mukasyafatul Qulub', "Nafsu dapat merubah raja menjadi hamba dan sabar dapat merubah hamba menjadi raja.'
Bisakah Anda memahami maksud perkataan imam al-Ghazali tersebut? Gampang sekali kok memahaminya. Artinya, saat kita mampu menahan diri untuk tidak menuruti segala keinginan nafsu, maka kita akan menjadi rajanya. Tapi, jika kita mengikuti segala keinginan nafsu, maka kita akan berubah total menjadi hambanya. Oke, untuk lebih memperjelas, saya hadirkan contoh. Anda pernah membaca kisah nabi Yusuf dan Zulaikha, bukan? Zulaikha adalah permaisuri raja. Ia sangat menginginkan dan mencintai Yusuf. Namun, dengan penuh kesabaran, Nabi Yusuf mampu menghadapi segala bujuk rayu dan tipu daya Zulaikha. Meski terpaksa harus mendekam di dalam tahanan, tapi Nabi Yusuf akhirnya menjadi raja atas nafsunya. Nabi Yusuf tak pernah goyah dengan bujukan nafsu syahwatnya dan juga tidak terbujuk oleh keinginan Zulaikha.
Dari kisah nabi Yusuf tersebut, dengan mudah dapat kita pahami bahwa orang yang bisa bersabar dari bujukan nafsunya, ia akan menjadi mulia. Bahkan lebih mulia dari Malaikat. Karena ia mampu menjaga diri, tetap konsisten dengan apa yang diperintahkan Allah, dan mampu menghadapi pertarungan dengan bujukan nafsu yang mahadahsyat. Berbeda dengan malaikat, ia memang mulia, tapi tak pernah sedikitpun mengalami ujian berhadapan dengan nafsu. Mulianya hanya kemutlakannya menaati perintah Allah. Sedangkan manusia, butuh perjuangan. Ingin mulia, taati perintah Allah dan bertarunglah dengan segala kekuatan dalam menghadapi keinginan nafsu yang tak pernah puas.
Dan manusia bisa juga menjadi lebih hina dari hewan, kala ia mengikuti segala keinginan nafsunya. Alasannya, hewan hanya dianugerahi Allah dengan nafsu. Tidak pernah diberi wahyu dan juga tidak beri akal yang berfungsi untuk berfikir sempurna seperti manusia. Jika hewan itu hina karena menuruti nafsunya, wajar. Ia tak memiliki akal yang sempurna seperti manusia. Yang tidak wajar, jika ihwal itu terjadi pada manusia. Andai manusia hanya mengikuti keinginan nafsunya, tanpa pernah mau mengkompromikan dengan akalnya yang sempurna dan menghubungkannya dengan petunjuk Allah, maka tak salah lagi jika ia diberi nobel sebagai mahluk yang lebih hina dari hewan. Kalau saya, tidak akan pernah mau disamakan dengan hewan. Saya yakin, Anda juga demikian.
Karena itu, mari kita berdo'a kepada Allah, semoga kita tidak termasuk dalam firman Allah SWT, "Dan Sungguh, akan Kami isi neraka Jahannam kebanyakan dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah." (QS. Al-A'raf [7] : 179). Amin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.