Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Elastisitas Fikih Islam
9 Maret 2011 pukul 12:12 WIB
Islam Membenci Kezhaliman
2 Februari 2011 pukul 13:30 WIB
Menyoal Rahasia Air Zam-zam
29 Januari 2011 pukul 12:40 WIB
Tapal Batas Pembaruan Fikih Islam
15 Desember 2010 pukul 18:55 WIB
Selamatkan Pahlawan Devisa
5 Desember 2010 pukul 05:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 20 Maret 2011 pukul 08:15 WIB

Hanya Orang Jujur yang Berhak Juara

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Jika kita ingin meraih kesuksesan apa pun, kita harus jujur, karena disembunyikan sekalipun akan tetap ketahuan. Ada sebuah cerita yang dituliskan Jamil Azzaini dalam buku “Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia”. Cerita ini adalah kejadian yang dialami pengarang buku tersebut.

Pada bulan September - Oktober 2003, istri saya terbaring sakit, kata Jamil, di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakitnya. Sedihnya dia juga sedang hamil 8 bulan. Karena suhu tubuhnya meninggi, satu pekan terakhir ia harus dirawat di ruang ICU. Sekujur tubuhnya dipenuhi kabel-kabel yang disambungkan ke sebuah monitor.

Suatu pagi, lanjut Jamil, saya dipanggil dokter yang merawat isteri saya. Sang dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu.”

Saya pun menjawab dengan balik bertanya, “Mengapa dokter meminta izin saya?”

“Karena obat yang ini mahal, Pak Jamil,” jawab dokter.

“Memang harganya berapa, dok?” tanya saya.

“Dua belas juta rupiah sekali suntik," dokter menjawab dengan mantap.

“Hah, dua belas juta rupiah? Lantas sehari berapa kali suntik, dok?” kembali Jamil nanya.

“Sehari tiga kali suntik, Pak Jamil,” jelas Dokter.

“Berarti satu hari tiga puluh enam juta ya, dok?” sambil menghela napas, tak terasa air mata saya, kata Jamil, meleleh.

“Dokter, tolong usahakan sekali lagi temukan penyakit isteri saya, sementara saya akan berdo'a pada Yang Mahakuasa agar penyakit isteri saya segera ditemukan,” mohon Jamil kepada Dokter.

“Pak Jamil, kami sudah berusaha semampu kami, bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium, dan penyakit isteri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat. Kami harus sangat hati-hati memberi obat, karena isteri Bapak juga sedang hamil 8 bulan. Kami akan coba satu kali lagi, tapi kalau tidak dapat ditemukan penyakitnya, kami harus mengganti obatnya, pak,” jawab dokter.

Setelah percakapan usai, Jamil langsung pergi menuju mushala kecil dekat ruang ICU. Ia shalat dan berdo'a, mengadu kepada Allah. Saat sedang berdo'a, tiba-tiba ia terbesit dalam ingatan kejadian puluhan tahun lalu. Ketika itu, keluarga orangtua Jamil hidup dalam serba kekurangan. Pernah dalam beberapa bulan Jamil belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 perbulan. Akhirnya, Jamil memberanikan diri mencuri uang ibunya yang hanya Rp. 125. Ia ambil uang itu, sebagian digunakan untuk membayar SPP, sebagian lagi digunakannya untuk jajan. Saat ibunya tahu bahwa uangnya hilang, ia menangis sambil melantukan kata, ”Pokoknya yang ngambil uangku kualat, yang ngambil uangku kualat.” Uang itu ternyata disimpan ibunya untuk digunakan membayar utang. Melihat reaksi ibunya, Jamil hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa ia yang mengambil uang itu.

Usai berdo'a, Jamil merenung dan berpikir. “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Allah bahwa bila saya berbuat keburukan, saya akan memperoleh keburukan.” Setelah menarik napas panjang, segeralah ditekannya nomor telepon rumah dan ibunya sedang ada di rumahnya. Setelah mengucapkan salam dan bertanya tentang anak-anaknya yang ditemani ibunya, kemudian Jamil pun mengingatkan peristiwa uang ibunya yang hilang dulu dan dia mengakui bahwa ia yang mencurinya. Mendengar cerita itu, ibunya langsung berdo'a, ” Ya Allah, pernyataanku aku cabut! Yang ngambil uangku tidak kualat. Aku maafkan dia.“ Setelah memastikan bahwa ibu sudah memaafkan, segera diakhiri percakapan dengan ibunya. Tak lama kemudian, ia dipanggil oleh dokter. ”Selamat, Pak, penyakit isteri Bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun.”

Dengan membaca cerita Jamil di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa kejujuran melahirkan kemenangan dan kesuksesan. Jamil menang karena penyakit isterinya sudah ditemukan dan Ia juga sukses karena ia mampu mengakui kesalahannya. Jamil pun jadi Juara. Tepat sekali jika kejujuran menjadi salah satu kunci sukses. Apakah anda sepakat?

Suka
Nisya Anisya menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aw Windarti | Guru
Allahu Akbar!!! KSC itu media penyejuk jiwa-jiwa yang gersang.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2380 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels