|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://albi4ever.blogspot.com |
|
|
maghreb25 |




Sabtu, 1 Januari 2011 pukul 21:00 WIB
Penulis : Hamdan Maghribi
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Bersikaplah tegas terhadap orang-orang kafir dan bersikap lemah-lembutlah terhadap sesama muslim." Setelah melihat makna dari ayat tersebut, terbersit sebuah pertanyaan, mengapa kadang-kadang toleransi dan persatuan ummat seagama terasa lebih sulit daripada antar ummat beragama? Fenomena sektarianisme di Pakistan, pertikaian antar ormas di Indonesia, perdebatan yang tak jarang berujung pada takfir antar madzhab pemikiran, merupakan bukti nyata akan fenomena sulitnya menanamkan sikap toleran antar ummat Islam.
Mungkin yang mendasari hal ini adalah, antar ummat beragama memiliki batasan-batasan yang jelas dikarenakan adanya perbedaan prinsipil antara satu agama dengan yang lainnya, sehingga memudahkan bagi masing-masing untuk menumbuhkembangkan sikap toleran dan berusaha untuk tidak melibatkan diri dalam urusan agama yang lain karena perbedaan yang jelas dan prinsipil tadi.
Sedangkan dengan ummat seagama, dimana masing-masing memiliki keterikatan dalam satu ruang agama, yang seharusnya bisa dijadikan landasan tercapainya persatuan yang kokoh dan kuat, namun kadang karena pemahaman yang kurang atau berlebihan terhadap agama, acapkali menimbulkan sikap intoleran dalam hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu prinsipil untuk disamakan secara paksa. Hal ini terjadi akibat pemahaman tentang persatuan ummat yang harus dicapai dengan penyatuan segala hal tanpa melihat mana yang ushul dan mana yang furu'.
Ironisnya lagi, ikatan kesatuan agama ini kadang-kadang dijadikan alasan untuk mencampuri urusan orang lain atas dalil 'ukhuwwah Islamiyyah', meskipun dalam hal-hal yang sebenarnya tidak prinsipil sehingga melibatkan diri di dalamnya. Sehingga tanpa disadari, sikap tersebut (pemaksaan 'keseragaman' terhadap hal-hal furu'iyyah dengan dalil persatuan ummat) jutru akan mengorbankan hal-hal yang lebih prinsipil dan ushuly yang dapat mengakibatkan perpecahan ummat.
Akhir-akhir, ini tak jarang kita disuguhi berbagai slogan toleransi beragama yang memang diperlukan demi perdamaian ummat manusia. Bahkan ada yang terlalu jauh, banyak dari mereka yang kemudian meneriakkan pluralisme agama. Menurut hemat saya, tak ada salahnya jika sekali-kali kita merenung dan bertanya pada diri kita masing-masing,' Sampai sejauh manakah sikap toleran kita terhadap sesama muslim?' Jangan-jangan hanya mengumandangkan toleransi antar agama, namun dirinya sendiri intoleran terhadap sesamanya yang muslim.
Timbulnya berbagai macam istilah Barat yang kemudian diamini sebagaian tokoh muslim seperti Islam Fundamentalis, sekuler, ekstrimis, modernis, liberal, literal, emansipatoris, humanis, dan Islams (baca : Islam-islam) yang lainnya merupakan suatu indikator tentang kurangnya kesadaran ummat Islam terhadap sikap toleran yang sangat ditekankan oleh ajaran Islam. Sungguh ironis apabila di luar kita meneriakkan bermacam slogan toleransi antar agama, namun di dalam kita enggan untuk bersikap toleran.
Mari, sekali lagi, kita renungkan sikap baginda Rasulullah SAW yang dilukiskan dalam ayat Al-Qur'an pada pembuka tulisan ini 'asyiddau 'alal kuffari ruhamaau bainahum'. Demikianlah sikap lemah-lembut beliau kepada sesama muslim. Namun, berbagai bukti nyata di dunia muslim sekarang, menampakkan sebaliknya.
Tantangan terbesar kita sekarang adalah di manakah letak kekuatan ummat Islam yang dahulu bisa menyatukan berbagai etnis dan budaya serta beragam corak pemahaman terhadap ajaran Islam? Bagaimana Rasulullah dan para shahabat bisa tetap bersatu meskipun kadang berbeda? Menurut saya, salah satu faktor utamanya adalah toleransi. Persatuan ummat tidak akan bisa tercipta dengan memaksakan 'keseragaman' dalam segala bidang ajaran Islam. Justru dengan berbagai corak dan warnanya tersebut, Islam bisa menjadi agama yang universal rahmatan lil 'alamin dan dengan demikian persatuan ummat akan mudah terwujud.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hamdan Maghribi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.