QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://almaghribi.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tuban - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
http://albi4ever.blogspot.com
maghreb25
Tulisan Hamdan Lainnya
Ilmu adalah
3 Juli 2010 pukul 20:45 WIB
Integrasi Ilmu dan Agama
24 April 2010 pukul 20:50 WIB
Islam, Renaissance, dan Ilmu Pengetahuan
20 Maret 2010 pukul 20:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 30 Oktober 2010 pukul 20:50 WIB

Pentingnya Rekonstruksi Ide Islamisasi Ilmu

Penulis : Hamdan Maghribi

Prediksi para pemikir, antropolog, dan sosiolog sekelas Comte, Freud, Weber, Durkheim, Marx, Darwin yang menyatakan bahwa agama akan ditinggalkan para pengikutnya ternyata tidak terbukti kebenarannya. Justru di awal abad 20 geliat keagamaan semakin terasa dengan munculnya berbagai jurnal studi agama, berdirinya rumah ibadah, dan makin kuatnya ketergantungan manusia pada simbol keagamaan. Hal ini semakin menggilas prediksi 'dunia sekular' sebagai cadangan tunggal yang diramalkan para pemikir Barat awal abad 19. Pandangan tersebut bermula dari berbagai macam penemuan ilmiah yang selalu mematahkan dokrin-doktrin agama (baca : Kristen).

Semakin mereka menemukan penemuan baru, semakin berkurang otentitas dogma gereja dan kitab sucinya. Maka terjadilah bentrok antar teolog dan saintis kala itu, yang tak lepas dari kekerasan fisik yang berdarah-darah. Galileo Galilei dan Bruno merupakan bukti ril dari kebiadaban tirani para 'wakil tuhan' masa itu. Hal inilah yang membangkitkan semangat anti gereja di kalangan masyarakat, khususnya para saintis. Anggapan bahwa agama dan Tuhan hanyalah khayalan semakin kuat menggema dalam berbagai ruang ilmiah. Inilah cikal bakal sebuah aliran yang kemudian menamakan diri mereka sebagai atheis.

Namun semangat anti-Tuhan dan agama para saintis-atheis seakan tenggelam dengan gairah keagamaan yang muncul. Nama-nama agamawan kembali muncul menggantikan tokoh idola sekular abad 19 dan awal 20. sebut saja nama Khomaeni, Desmond Tutu, Paus Yohanes Paulus, Bunda Theresa, Dalai Lama, dan masih banyak kaum agamawan yang muncul menggeser ide-ide sekularistik atheis.

Kebangkitan agama sudah hampir lima dekade, dan para atheis juga sudah tenggelam dalam keputusasaan. Tapi diawali dengan runtuhnya WTC di AS oleh 'wakil Tuhan', bom di Spanyol, Bali, peledakan di Inggris, bom bunuh diri di Pakistan yang juga merupakan tanggung jawab yang diklaim oleh 'orang-orang yang beriman', polemik berkepanjangan umat Kristiani di Irlandia seakan memberikan amunisi baru yang dahsyat buat para atheis untuk menghantam Tuhan dan agama. Seakan mereka berteriak, "Inilah ajaran agama! Inilah anjuran Tuhan! Menghancurkan setiap inchi garis kemanusiaan!"

Mereka bersorak gembira, sekularisme bangkit lagi! Atheisme belum mati! Bukan Darwin yang mengancam eksistensi kemanusiaan dan peradaban, tapi agamalah yang merusaknya. Darwin tak pernah menyuruh untuk membunuh, agamalah yang dengan lantang meneriakkan aroma kematian dengan bumbu kekejaman. Agama bangkit bukan untuk perdamaian, tapi pertikaian dan kematian. Inilah fenomena kontemporer, bahwa faham sekular-atheis semakin menemukan jalan mulusnya menuju singgasana globalisasi. Muculnya para atheis semisal Richard Dawkins, Sam Harris, Christopher Hitchens, dan Daniel C. Dennett dalam berbagai acara talk show di berbagai media, menunjukkan geliat baru neo-darwinisme ini.

Belum lagi buku-buku mereka menghiasi rak-rak best seller di berbagai toko buku di dunia, sebut saja The End of Faith-nya Harris (2005), God Delusion-nya Dawkins (2006), Breaking the Spell karya Dennet (2006), dan karya Hitchens The God is Not Great (2007), kesemuanya langsung ludes di pasaran. Banyak dari para pembacanya yang dengan yakin akhirnya menyatakan bahwa mereka adalah atheis pengikut Dawkins dan kawan-kawan. Dawkins dalam bukunya God Delusion, menolak keberadaan Tuhan. Ia berangkat dari bukti-bukti ilmiah yang ditemukannya. Dawkins adalah seorang ahli biologi evolusioner dan pengikut setia Darwinisme. Baginya sangat jelas bahwa bukti-bukti ilmiah menunjukkan ketiadaan Tuhan.

Yang dia maksud dengan "Tuhan" bukanlah Tuhan seperti yang digambarkan religious saintists semisal Einstein dan pengikut Deisme lainnya (Tuhan ada namun tidak melakukan apa-apa, Dia hanya mencipta lalu meninggalkannya), tapi Tuhan personal yang disembah sebagian besar pengikut agama, khususnya Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bukunya tersebut, ia juga memberikan 6 argumen kenapa kita harus yakin dengan ketiadaan Tuhan. (Dawkins, 2006, halaman 111-159). Dawkins yang juga diamini pengikut setianya meneror agama dan Tuhan dengan bertubi-tubi. Mereka hendak mengusir Tuhan dan agama jauh dari lingkungan kemanusiaan dan peradaban. Agama selalu dengan seenaknya mendaku penemuan-penemuan ilmiah sebagai ilmu Ilahi yang sudah termaktub dalam kitab suci, tanpa mau mencari kebenarannya.

Klaim atas validitas eternal kitab suci ini menambah geram kaum atheis. Ditambah dengan the worship of gaps (penyembahan celah; ejekan Dawkins terhadap kaum kreasionis yang selalu memasukkan unsur Tuhan dalam celah yang belum bisa ditemukan oleh nalar ilmiah (Dawkins, 2006, halaman 125-134)) yang diusung oleh kaum agamawan. Hal tersebut bukan menguatkan argumen wujud Tuhan, justru nantinya akan semakin menguatkan argumen kaum atheis. Karena semakin celah-celah tersebut tertutup dengan penemuan ilmiah yang rasionil, akan semakin sempit pula ruang lingkup tuhan di dalamnya, bahkan akan hilang sama sekali.

Gambaran fenomena di atas merupakan pertarungan pemikiran kontemporer yang terjadi antara kaum atheis penolak Tuhan dan agamawan. Memang mayoritas agama dan dogma kitab suci yang mereka tentang adalah ajaran kristen dimana mereka berinteraksi langsung dengannya sejak kecil, sedangkan Islam dan agama Timur lainnya mereka pelajari dengan kacamata antropologis-sosioligis. Namun justru hal ini yang amat berbahaya. Karena dalam memahami Islam dengan metode demikian, bisa membawa kesalahfahaman yang fatal. Hal ini akan semakin parah, karena arus globalisasi yang kuat merupakan sebuah keniscayaan yang kita akui bersama merupakan penyalur berbagai macam aliran pemikiran dan kebudayaan terhadap dunia global yang nantinya akan merasuk secara perlahan dalam pemikiran umat Islam tanpa sadar.

Argumen-argumen Dawkins dalam The God Delusion telah menohok ulu hati agamawan Barat maupun Timur. Sebagai umat Islam, kita harus menerima kenyataan bahwa banyak dari ulama kita yang hanya wait and see terhadap penelitian ilmiah dan kemudian mencari ayat Al-Qur'an, lalu mencocokkan dengannya. Kemudian sibuk menulis buku dan artikel menunjukkan bukti ayat-ayat Al-Qur'an yang sesuai dengan penemuan tersebut.

Sungguh ironis apabila umat Islam dangan kesempurnaan ajarannya yang merupakan nilai final dari semua agama sebelumnya tidak melaksanakan ajarannya. Puluhan ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir, menelaah alam, makhluk, dan lainnya hanya sekedar buah bibir bacaan umatnya tanpa ada bentuk implimentasi praktis. Kita tidak sadar bahwa penemuan ilmiah yang ada nilainya relatif. Sebagai konsekwensinya, apabila di kemudian hari ada penemuan yang mematahkan argumen awal dengan bukti ilmiah yang memadai, maka argumen awal akan gugur.

Apabila kita hanya sekedar mencari titik temu antara penemuan ilmiah dengan ayat-ayat Al-Qur'an, itu sama saja menghukumi relativisme Al-Qur'an. Sudah saatnya umat Islam sadar dan bangkit dari tidur panjangnya. Segala kesempurnaan ajaran agama harus digunakan dengan maksimal. Bukannya berhenti pada ayat-ayat tertentu dan kemudian menafsirkannya secara kaku dan rigid yang akhirnya melahirkan berbagai kekerasan dan kekejaman atas nama agama.

Di sini saya kira pentingnya rekonstruksi ide Islamisasi Ilmu yang pernah digulirkan oleh Al-Attas dan Faruqi. Sehingga pemahaman umat akan berbagai ilmu dan pengetahuan selalu berlandaskan framework Islam. Sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh samudera logika relativisme ilmiah. Dan kejayaan sains Islam bisa terwujud tanpa harus meyakini bahwa Tuhan hanya sekedar khayalan manusia yang pesimis dan fatalis.

http://albi4ever.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hamdan Maghribi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elis Khatizah | Mahasiswa Pasca Sarjana
Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1199 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels