|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
razan.pranoto@yahoo.com |





Selasa, 16 Juli 2013 pukul 22:00 WIB
Penulis : Yanti Afriyani
Suatu hari, keledai tua milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur itu juga perlu di timbun, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Maka ia mengajak tetangganya untuk datang membantu. Mereka membawa sekop, dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi di tuangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang dengan apa yang di lihatnya.
Walaupun punggungnya di timpa oleh berpuluh-puluh sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu ia menaiki tanah itu.
Sementara tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncat tepi sumur dan melarikan diri.
Seperti cerita keledai di atas, kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dan sebagainya) adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat ke luar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pantang menyerah!
Her Budianto - Dari Sebuah Milis
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Yanti Afriyani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.