|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|





Selasa, 1 Januari 2013 pukul 17:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Di dalam kitab Al-Mawaaidz al-‘Ushfuuriyyah, dicantumkan kisah mimpi Tsabit Al-Banani. Kisah ini berawal dari kebiasaannya. Ia setiap malam Jum'at ziarah ke makam. Ia berdo'a kepada Allah hingga shubuh. Suatu malam ketika sedang bermunajat, ia tertidur. Lalu ia bermimpi bahwa penghuni kubur telah bangkit dengan pakaian yang bagus-bagus dan berwajah putih. Setiap orang mendapatkan suguhan makanan dari beraneka jenis makanan.
Namun, ia menemukan keganjilan, karena ada salah satu di antara mereka, seorang pemuda dengan wajah pucat, rambut awut-awutan, dan tampak sedih. Pakaiannya pun kotor, dan kepalanya selalu menunduk ke bawah. Di dekatinya, dan tampaklah air mata pemuda tersebut menetes. Karena ia tak mendapati suguhan makanan seperti yang lainnya.
Lalu penduduk kubur tersebut ke tempatnya dengan riang gembira. Sedangkan pemuda tadi kembali dengan putus asa dan sedih.
Tsabitpun bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menangis? Semua dapat suguhan dan pulang dengan riang gembira, tapi mengapa kamu tak mendapatkan suguhan seperti mereka? Hal itukah yang membuat kamu putus asa dan sedih?”
Pemuda tersebut menjawab, “Aku terasing di antara mereka. Tak ada seoangpun yang mengingat kebaikanku dengan do'a. Mereka punya anak dan kerabat. Mereka mengingatnya dengan do'a, amal baik, dan sedekah setiap malam Jum'at. Buah amal baik dan sedekah yang dilakukan kerabatnya sampai kepada mereka yang telah mati.
Aku dulu ingin berangkat haji bersama ibuku. Ketika baru saja sampai di Mesir, aku meninggal dan dikuburkan di sini. Sedangkan ibuku menikah lagi. Ibuku melupakanku. Tak sedikitpun mengingatku dengan do'a dan sedekah. Aku putus asa dan sedih setiap saat.”
“Beritahukan kepadaku di mana ibumu tinggal.”
Disebutkan pemuda tersebut di mana ibunya tinggal, lengkap dengan ciri-cirinya. Lalu berkata, “Jika nanti ibuku tak percaya kepadamu, katakan saja kepadanya bahwa di dalam kantongnya ada 100 dirham peninggalan ayahku dulu. Semoga dengan keterangan tersebut, ia mempercayaimu.”
Setelah tersadar, esok pagi harinya Tsabit buru-buru mencari alamat ibu pemuda tersebut. Jika mimpi ini benar, berarti ini mimpi yang luar biasa. Jika mimpi ini salah, berarti memang bunga-bunga tidur. Setelah ditelusurinya alamat ibu pemuda tersebut, akhirnya ia menemukannya. Awalnya ibunya tidak percaya. Setelah Tsabit menyebutkan 100 dirham yang ada di kantongnya, baru ia percaya. Tak lama kemudian ibunya pingsan.
Setelah sadar, ia lalu menyerahkan uang 100 dirham tersebut kepada Tsabit dan berkata, “Kuharap kau mau menyedekahkan ini agar anakku tidak lagi terasing.”
Tsabitpun menerimanya dan menyedekahkannya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Keesokan malamnya, Tsabit datang menziarahi salah satu makam kawannya yang sudah meninggal. Ia tertidur dan bermimpi seperti mimpi sebelumnya. Tapi dilihatnya pemuda itu telah mengenakan pakaian yang bagus, wajahnya ceria, dan tampak gembira.
“Hai, kawan, semoga Allah menyayangimu seperti kamu menyayangiku,” ucap pemuda tersebut kepada Tsabit.
***
Tak semua orang percaya dengan mimpi yang dialami oleh orang lain. Sayapun tak ingin membahas masalah mimpi orang shaleh itu bagaimana kebenarannya. Hanya saja, saya ingin mengatakan bahwa mimpi yang dialami Tsabit bisa menjadi penguat dalil bagi kelompok yang berpendapat bahwa do'a dan amal shaleh yang diniatkan pahalanya oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah mati, sampai kepadanya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.