HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
Alamat Akun
http://nadia_aslima.kotasantri.com
Bergabung
4 Mei 2009 pukul 00:01 WIB
Domisili
Padang - Sumatera Barat
Pekerjaan
pendidik dan pengajar
Nama aslinya Widia Febriyeni. Seorang muslimah yang menyukai dunia kata dan ingin menekuninya. Saat ini aktif mengikuti penulisan buku antologi di FB. Tumbuhkan hikmah dengan menulis, petiklah hikmah dengan membaca!
http://nadiaaslima.wordpress.com
nadiaaslima@yahoo.co.id
http://facebook.com/widia.aslima
Tulisan Widia Lainnya
Pantaskan Diriku Untuknya
8 Oktober 2012 pukul 13:00 WIB
Papa, Aku Menangis Karenamu
4 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 9 Oktober 2012 pukul 12:00 WIB

Orang Tua yang Sesat

Penulis : Widia Aslima

Penyair itu berangkat dari Yamamah (Najd) dengan penuh kerinduan yang besar di hati untuk bertemu Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam. Sepanjang perjalanan, Al-A’sya bin Qais sang penyair itu selalu melantunkan pujian untuk Rasulullah melalui sya’ir-syairnya. Ia terus menerus berjalan membelah padang pasir dengan gelora cinta yang menyala-nyala kepada Rasulullah karena tertarik pada Islam juga ingin menjauhi penyembahannya terhadap berhala-berhala.

Ketika ia hampir sampai di Madinah, sebagian orang musyrik menghalanginya dan menginterogasinya akan maksud kedatangannya. Al-A’sya pun menjelaskan maksud kedatangannya. Orang-orang musyrik itu langsung merasa khawatir. Dengan satu orang penyair saja, yaitu Hasan bin Tsabit, kaum muslimin telah dapat berbuat banyak dan kaum muslimin menjadi lebih kuat, apalagi jika sang penyair Arab, Al-A’sya bin Qais ini masuk Islam?

Segera saja mereka berkata, ”Wahai Al-A’sya, agamamu dan agama orangtuamu lebih baik bagimu.”

“Tidak, justru agamanya lebih baik dan lebih lurus,” sahutnya.

Orang-orang musyrik itu saling pandang satu sama lain dan mulailah mereka bermusyawarah mencari cara untuk mencegah Al-A’sya dari memeluk agama islam. Mereka lalu berkata, ”Wahai Al-A’sya, Muhammad itu mengharamkan zina.”

“Aku seorang lelaki tua, dan tidak punya kepentingan dengan wanita,” jawab Al-A’sya.

“Muhammad mengharamkan khamr,” kata orang-orang musyrik lagi.

“Khamr itu menghilangkan akal dan menghinakan seseorang, aku tidak berkepentingan dengan khamr.”

Ketika orang-orang musyrik itu melihat tekadnya telah begitu bulat untuk masuk Islam, mereka lantas berkata, ”Kami akan memberimu 100 ekor unta, tetapi kamu harus kembali kepada keluargamu serta mencampakkan niatmu untuk masuk Islam!”

Al-A’sya terdiam sejenak. Mulailah ia mempertimbangkan bujukan mereka. Unta sebanyak itu sebuah kekayaan yang fantastik baginya. Kemudian syetan berhasil menguasai akalnya. Al-A’sya menoleh kepada mereka seraya berkata, “Adapun dengan harta, baiklah.”

Lalu orang-orang musyrik mengumpulkan 100 ekor unta untuknya, dan Al-A’sya pun mengambilnya. Ia berbalik ke belakang dan pulang menuju kaumnya dalam keadaan masih kufur sambil menggiring unta di depannya dengan penuh suka cita.

Ia merasa dirinya telah berhasil menghimpun kepiawaian bersya’ir, martabat yang tinggi, dan kekayaan sekaligus. Akan tetapi ia lupa bahwa sesungguhnya Allah senantiasa mengikuti gerak-geriknya. Bagaimana ia berani bermaksiat kepada-Nya karena dunia, padahal di sisi-Nya sungguh terdapat perbendaharaan langit dan bumi. Gemerlap dunia dan syetan yang terus menggoda memang mudah sekali menggelincirkan langkah manusia.

Ketika Al-A’sya hampir sampai di kampungnya, dia terjungkir dari atas untanya. Tulang lehernya remuk dan ia mati dalam keadaan rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.

Dikutip dari Muhammad bin Abdurrahman al-Arifi, The Inspiring Story For Ukhty, Zikrul Hakim.

http://nadiaaslima.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Widia Aslima sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Teguh Yulyono | CSA Dubai Airport
Saya sangat gembira kembali bisa membuka dan membaca tulisan rekan-rekan yang memberikan pencerahan. Untuk admin : U R survival after so long with many challenges. Keep it up your spirit, your website had changed a lot of people who read articles on it. One of them is me. Thank you so much. Insya Allah bisa menjadi amalan kebaikan dan mendapat nilai yang sempurna di mata Allah SWT.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0996 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels