Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://nadia_aslima.kotasantri.com
Bergabung
4 Mei 2009 pukul 00:01 WIB
Domisili
Padang - Sumatera Barat
Pekerjaan
pendidik dan pengajar
Nama aslinya Widia Febriyeni. Seorang muslimah yang menyukai dunia kata dan ingin menekuninya. Saat ini aktif mengikuti penulisan buku antologi di FB. Tumbuhkan hikmah dengan menulis, petiklah hikmah dengan membaca!
http://nadiaaslima.wordpress.com
nadiaaslima@yahoo.co.id
http://facebook.com/widia.aslima
Tulisan Widia Lainnya
Pahlawan Diri yang Tak Terganti
23 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Kebaikanmu untuk Siapakah?
19 April 2013 pukul 22:00 WIB
Senja, Lautan, dan Diriku
8 April 2013 pukul 23:00 WIB
Ketika Waktu Berseru
25 Maret 2013 pukul 21:00 WIB
Musuh Yang Jadi Idola (2)
8 Desember 2012 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Kamis, 4 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB

Papa, Aku Menangis Karenamu

Penulis : Widia Aslima

Aku ingat ketika masih balita, menangis di atas bus saat papa tidak ikut bersama kami pulang kampung. Papa hanya mengantar aku dan mama ke terminal. Selanjutnya yang aku rasa semenjak usia sekolah dasar hingga remaja, aku tidak terlalu dekat dengan papa dan lebih dekat ke mama. Papa sebetulnya baik. Seperti layaknya anak-anak, kami senang kalau papa pulang dari tugas luar kota dan selalu membawa makanan.

Papa suka bercanda, berbeda dengan mama. Akan tetapi papa suka marah tiba-tiba. Mungkin ada masalah yang sudah lama dipendam. Seperti suatu ketika saat sedang nonton bersama dan bercanda, tiba-tiba bisa meledak marah papa. Masalah yang lampau juga disebut-sebut papa. Ini yang sering membuat kami kaget. Mungkin ini juga yang membuat aku jadi sedikit berhati-hati bila bersama papa.

Ketika tidak sengaja mendengar pertengkaran orangtuaku, dalam hati aku selalu membela mama dan menyalahkan papa. Bahkan di saat aku merasa sangat sedih, aku pernah menulis di diariku kalau aku tidak akan menangis seandainya suatu saat papa pergi meninggalkan kami. Entahlah pergi ke mana yang kumaksud waktu itu.

Dua belas tahun telah berlalu, ketika aku tidak bisa menahan butiran air mata ini. Tahun-tahun berikutnya aku tetap tidak bisa menahan kristal bening ini berjatuhan ketika teringat beliau. Aku teringat segala perhatian beliau padaku. Papa yang suka mengingatkan aku untuk selalu menjaga kesehatan dan tidur jangan kemalaman walaupun karena belajar untuk ujian. Papa yang mau menjaga anak gadisnya yang sedang sakit ketika mama tidak di rumah karena ada keperluan ke kampung, padahal masih ada kakak perempuanku. Segala kebaikan beliau padaku tak kan bisa kubalas.

Kepergian beliau yang mendadak sempat membuatku terpana. Sekarang hanya kebaikan papa yang ada dalam ingatanku. Dan itu yang akan selalu kuingat. Biarlah segala kekurangan beliau kujadikan pelajaran untuk bekal masa depanku. Aku berdo'a agar Allah mengampuni papa dan menerima segala kebaikan yang beliau lakukan untukku dan semoga aku menjadi anak yang shaleh.

http://nadiaaslima.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Widia Aslima sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Achmad Fachrie | Pekerja IT
Subhanallah... KotaSantri.com makin lama makin berkembang, baik dari sisi content dan context. Semoga makin bermanfaat untuk para pembaca. Yang belum gabung, gabung aja... Barakallah :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 1.0603 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels