|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
|
http://karitasurya.multiply.com |
|
|
ratu_karitasurya |




Selasa, 23 Juni 2009 pukul 19:12 WIB
Penulis : Ratu Karitasurya
Di Ji'ranah, Rasulullah SAW sedang membagikan harta hasil perang Hunain. Tokoh-tokoh Quraisy diberi banyak harta, misalnya Shafwan bin Umayyah diberi 300 ekor unta dan domba. Dia pun kontan masuk Islam (HR. Shahih Muslim). Banyak lagi bekas musuh Rasul dijatah masing-masing puluhan kilogram perak dan ratusan ekor ternak.
Tapi, tak satupun kaum Anshar menerimanya. Mereka kesal, terutama kaum mudanya. Pemimpinnya, Sa'ad bin Ubadah segera menghadap Nabi. Mendengar kekecewaan mereka, Rasul menyuruhnya mengumpulkan semua kaum Anshar.
Setelah mereka berkumpul, Rasul bersabda, "Wahai kaum Anshar, desas-desus apakah yang sampai padaku? Apakah kalian marah kepadaku? Bukankah ketika aku hijrah kalian masih tersesat, lalu Allah memberi hidayah kepada kalian melalui aku? Bukankah kini kalian kaya, padahal sebelum kedatanganku kekurangan? Kalian pun saling berperang, lalu Allah mempersatukan kalian karena aku?"
Semuanya menjawab, "Benar, Allah dan RasulNya yang lebih pemurah dan lebih utama jasanya."
Karena mereka hanya menjawab demikian, Rasul pun bertanya, "Mengapa kalian tidak mau membalas perkataanku?"
"Demi Allah," lanjut Rasulullah SAW, "Kalau mau, kalian tentu bisa membalasnya. Itu pasti dibenarkan. Kalian bisa katakan, "Anda datang ketika didustakan orang, maka kamilah yang mempercayai. Ketika anda diusir, kami yang membela. Kala anda diburu, kami yang melindungi." Wahai kaum Anshar, mengapa kalian jengkel karena tak menerima sampah dunia itu? Apakah kalian tidak rela ketika orang lain pulang bersama onta dan domba, kalian pulang ke Madinah bersama Rasulullah?"
Seketika mengalirlah air mata kaum Anshar. Lenyaplah kejengkelan. Bangkitlah kembali keikhlasan. Bahwa walau merekalah yang lebih berjasa dibanding penerima harta, mereka puas hanya dengan jatah akhirat.
Kini, banyak manusia membongkar kesalahan, mempublikasikan data penyelewengan dana, atau memunculkan beragam masalah baru, tampaknya bukan untuk melenyapkan kedzaliman, melainkan agar kemungkaran dirinya sendiri tertutupi. Atau, dia mendapat simpati, jabatan, dan harta beberapa tahun lagi.
Mestinya kita berkaca, amalan kaum Anshar tak berhenti di retorika. Meski sampai mengorbankan nyawa membela Islam dan negara, mereka tetap merasa diri mereka bukan paling berjasa, sehingga paling layak tuk berharta dan berkuasa.
http://karitasurya.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ratu Karitasurya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.