|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
|
http://karitasurya.multiply.com |
|
|
ratu_karitasurya |

Selasa, 14 April 2009 pukul 23:53 WIB
Penulis : Ratu Karitasurya
Keadaan pribadi Nabi SAW sebelum menjadi Nabi dan Rasul Allah, adalah bersih dan jauh dari semua kelkuan dan perbuatan kaum jahiliyah. Sejak beliau dilahirkan, beliau hidup dalam masa yang gelap, dan boleh dikatakan berada di tengah-tengah masyarakat yang tidak berperikemanusiaan. Oleh sebab itu, sejak kecil beliau tidak mendapat pendidikan ahlaq tetapi mempunyai akhlaq yang baik lagi utama.
Sejak kecil, beliau hidup di antara orang-orang yang menyembah patung-patung berhala, arca-arca, makanan-makanan, memuja kayu-kayu, batu-batu, dan lain sebagainya, tetapi beliau tidak pernah ikut mengerjakannya, bahkan amat tidak sudi melihat perbuatan semacam itu.
Diriwayatkan, bahwa pada suatu waktu pamannya bersama sanak saudaranya yang laki-laki dan perempuan hendak meramaikan dan ikut merayakan dalam suatu perayaan yang biasa diadakan oleh bangsa Quraisy pada tiap-tiap tahun di tempat suatu berhala. Beliau diajak oleh mereka pergi ke tempat itu. Tetapi beliau tidak mau turut pergi ke tempat itu, sehingga para paman beliau sangat marah dan murka kepada beliau. Beliau pun mendapat ancaman keras dari para pamannya, antara lain jika beliau tidak mau turut menghormati dan menyembah berhala itu, beliau akan mendapat kutuk dari berhala itu, dan selama hidupnya tidak akan mendapat bahagia. Tetapi beliau tetap tidak mau turut sekalipun dipaksa dengan cara apa saja.
Nabi Muhammad SAW sejak kecil hidup di tempat yang orang-orangnya gemar berselisih, bercekcok dan bertengkar, gemar menumpahkan darah lantaran perkara kecil saja, gemar bermegah-megahan tentang kekayaan duniawi dan kemewahan hidup. Tetapi beliau tidak menyukai kelakuan-kelakuan dan perbuatan-perbuatan semacam itu.
Nabi Muhamad SAW sejak kecil hidup di tempat yang orang-orangnya gemar berzina, gemar berebut perempuan, gemar berbuat riba, gemar berjudi dan taruhan, gemar memakan barang yang haram, gemar meminum minuman keras, gemar membunuh anak perempuannya sendiri untuk kepentingan dan kehormatan dirinya, dan gemar menjalankan perbuatan-perbuatan yang nista. Tetapi beliau sama sekali tidak pernah ikut menjalankan perbuatan-perbuatan semacam itu. Bahkan beliau sangat menjauhkan diri dari semua perbuatan yang keji dan buruk itu, karena beliau sangat jijik dan tidak sudi.
Berzina, berjudi, minum-minuman keras, dan sebagainya adalah di antara kesenangan yang sangat digemari oleh umumnya para pemuda Quraisy di Makkah pada masa itu. Tetapi pribadi Nabi Muhammad SAW di kala sebagai seorang pemuda tidak pernah mengerjakannya sama sekali, meskipun beliau diejek dan diperolok-olok oleh para pemuda di kala itu.
Dan sebagaimana telah diuraikan dalam banyak riwayat, bahwa ketika pribadi Nabi SAW pergi berdagang di negeri Syam, dalam perjalanan dan cara menjual dagangan, beliau tidak mengikuti kebiasaan yang berlaku. Ini pun telah menunjukkan, bahwa beliau di kala itu sudah tidak sudi mengikuti kelakuan dan perbuatan orang-orang yang sedang dalam kesesatan.
Demikianlah di antara riwayat yang menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat dan ditetapkan menjadi Rasul Allah adalah bersih dan jauh daripada kelakuan-kelakuan serta perbuatan-perbuatan jahiliyah. Adapun kegemaran Nabi SAW pada masa itu ialah menyendiri untuk merenung dan mendekatkan diri pada penciptanya.
Dan Perlu diketahui pula, bahwa keempat putri beliau yang hidup sampai dewasa dan bersuami serta berumah tangga seperti yang telah diterangkan dalam banyak riwayat, mereka itu pada masa kanak-kanak tidak pernah disusukan dan diasuh oleh orang lain sebagaimana adat kebiasaan para bangsawan Quraisy di kala itu. Mereka masing-masing disusui, diasuh, dirawat, dan dididik oleh Siti Khadijah dan dengan pengawasan beliau sendiri.
Peristiwa ini menunjukkan pula bahwa beliau memang memiliki kebiasan dan pemahaman yang berbeda dengan kebiasaan yang telah berlaku dalam lingkungan masyarakat bangsawan Arab pada masa itu.
http://karitasurya.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ratu Karitasurya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.