|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://febrianhadi.wordpress |
|
febrianhadi |
|
http://facebook.com/Febrian Hadi Santoso |
|
http://twitter.com/febrianhadi |





Senin, 28 Mei 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Febrian Hadi Santoso
Entah sejak kapan aku mengenalnya, tiba-tiba saja dia hadir dalam cerita hidup ini. Berawal dari rasa penasaran dan keunikan namanya yang pada saat itu aku menanyakan pada salah satu temannya. Sama seperti dugaan awalku, setelah kutahu siapa orangnya, ternyata memang benar adanya. Tak hanya namanya yang unik, tapi dari kepribadian dan gerak-geriknya yang sempat aku pantau memang terdapat keunikan padanya. Sampai kuhafal, bagaimana dia berjalan, cara mengenakan tas, cara bicaranya, sampai model kerudung yang sering ia kenakan.
Seorang wanita yang biasa namun tak sederhana, begitu aku menyebutnya. Karena di balik kebiasaannya itulah tersimpan banyak “kecantikan” sebagai seorang wanita. Sebenarnya tak ada yang berbeda dari wanita lainnya, entah kenapa mata ini hanya tertuju kepada wanita yang kusebut Merah Marun itu, layaknya anak panah yang keluar dari busur dan mengenai sasaran dengan tepat.
Wanita ini cukup unik -bagiku-, bagaimana tidak, dari banyak wanita yang kulihat, hanya dia yang mengenakan kerudung khas dia. Aku rasa semua orang setuju kalau dia memang wanita yang unik. Dan aku yakin teman-teman juga setuju bahwa wanita berkerudung itu lebih anggun, apalagi dengan warna Merah Marun yang mempunyai karakter kuat dan memberikan kesan tersendiri pada penggunanya. Selain sebagai wanita dengan sejuta kecantikannya, dia juga menyimpan segudang kesederhanaan, sederhana dalam berbicara dan sederhana dalam bersikap. Setidaknya itu yang membuatku mengaguminya.
Meski kita sering bertemu, tapi tak setiap pertemuan kita bertegur sapa. Walaupun hanya senyuman yang kau berikan kepadaku, tapi yakinlah dalam setiap barisan do’a yang kurangkai akan selalu mendo’akanmu dan aku juga berharap demikian, kau mendo’akanku dalam setiap sujudmu.
Aku tahu, semua akan indah pada waktunya, seperti bunga akan mekar pada waktunya dengan harum mewangi. Suatu saat nanti aku akan menjemputmu (insya Allah), hanya butuh kesabaran bagiku untuk lebih menempa diri menjadi lebih baik. Meskipun aku bukan paling baik, namun setidaknya aku bisa menjadi yang terbaik untukmu. Dan aku juga berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi qawwam-mu dalam menjalani hidup ini.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febrian Hadi Santoso sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.