|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|





Kamis, 19 April 2012 pukul 11:15 WIB
Penulis : Aris Solikhah
Waktu berlari melesat. Perubahan hari tak terasa bagiku. Kemarin Senin. Sekarang sudah Senin kembali. Dua hari libur, Sabtu dan Minggu, hampir-hampir aku tak mencicipinya. Apakah hari juga perlu dinikmati?
Sekali lagi, mungkin berulang kali, aku surutkan kehendak diri untuk menghabiskan liburan seperti kawan-kawan umumnya. Aku tak bisa dan biasa. Mungkin karena semenjak tujuh tahun di Bogor, pola hidupku dibiasakan pelan-pelan terikat. Aneh, aku malah jenuh kalau libur berdiam diri di rumah. Pilihan membaca buku atau berjalan-jalan ke tempat terbuka -suatu tempat- bersama teman-teman dengan ‘tujuan tertentu’ akan lebih aku sukai. Aku tak biasa pergi tanpa juntrungan, apalagi sekedar untuk nongkrong.
Tujuh tahun pergulatan itu, kurasakan pelik. Tawar-menawar, tarik-menarik dalam diriku. Sekarang pun demikian. Alhamdulillah, aku telah menemukan arah yang kuidamkan. Dalam alam sadarku, setiap penghabisan perenungan, selalu ada ‘PR’ perbaikan yang banyak untuk hidupku. Aku lengah. Kenapa sesal itu selalu di belakang?
Dua hari kemarin. Pagi hingga sore bahkan malam, kepala ini membara, terkena hararah api kehidupan. Pening, berdenyut, bersalah, kalut, optimisme, cita, gelora, dan rindu menyatu padu bersamaan. Tuhanku, aku berdosa, berilah aku waktu dan kekuatan memperbaikinya.
Kini, aku jalani ritme yang seharusnya aku tak kembali ke mushala mungil ini. Setiap Senin, pergi pagi-pagi menyapu, mengepel, menata mukena dan karpet mushola yang mengharu biru. Ketika pujian terujar dari bibir manis sahabatku, aku tersenyum kecut kelut. Pujian rekan tak layak kuterima. Andai ia tahu. Ini adalah penebusan dari kemalasanku, kelalaianku, keegoisanku, meninggalkan mushala ini tanpa tanggung jawab yang berarti. Meninggalkan mushala ini tanpa warisan penerus sejati. Bisa jadi marah dan sinisnya meluap.
Di mushala sebuah fakultas inilah aku pertama kali belajar di bidang kehumasan. Pembuka ketertarikan dunia manajemen manusia. Di sinilah dalam setiap publikasi kutulis motto baru untuknya, dari kata ‘Apa Adanya’ menjadi ‘Menuju Kemenangan Gemilang’. Dan bukanlah kemenangan itu teraih di depan mataku, namun lebih parah dari apa adanya. Maka aku pun harus berusaha keras memperbaikinya.
Tuhanku, kubisikkan senandung makhluk lemah, khilaf, tiada daya. Aku mohon ampunilah aku, pintaku, jadikanlah motto itu menjadi kenyataan bagiku. Sehingga aku bisa berlega hati pergi menyongsong kemenangan-kemenangan lain.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.