|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
|
johari_wianto@yahoo.com |

Senin, 27 Juni 2011 pukul 11:22 WIB
Penulis : Johari Wianto
Membuka file-file lama dari kehidupan yang telah lalu, menelusuri jejak-jejak history, kutemukan hikmah di balik setiap kegagalan, bahwa kegagalan tidaklah selamanya buruk.
Kini bagiku, lebih baik 'sesuatu itu' gagal, daripada berhasil dengan cara yang tidak Allah ridhai. Aku bersyukur atas kegagalan itu. Bahkan jika kasusnya demikian, kuranglah tepat bila disebut dengan kegagalan,
karena bagiku itu adalah salah satu bentuk pertolongan Allah.
Tak terbayangkan bagaimana jadinya jika 'kegagalan' itu tertunda, mungkin aku akan menanggung kegagalan yang besar suatu saat nanti.
Dan seburuk-buruknya kegagalan ialah berbuat nista terhadap-Nya,
sedangkan Dia tidak pernah lalai mengawasi makhluk-Nya.
Dalam penelusuranku, kulihat juga beberapa sikap, perkataan, tulisan, atau pertanyaan-pertanyaan di masa itu, yang seharusnya tidak kulakukan. Tiap kali ku mengenangnya, ku tersenyum tapi malu, dan ku tertawa tapi sesungguhnya menyesal.
Namun berandai-andai agar dapat kembali ke masa itu dan menghapusnya adalah perbuatan yang sia-sia belaka. Yang terpenting bagaimana dapat mengambil pelajaran, agar hal yang buruk tersebut jangan diulang kembali.
Dengan kata lain, dapat mengambil pelajaran untuk memperbaiki diri,
dan tujuan yang paling baik dalam memperbaiki diri adalah murni untuk mencari ridha Allah. Adapun nanti perkara baik yang menyusul (jadi kaya, sehat, dapat jodoh yang shalehah, cantik, dan rajin menabung) itu bonus dari Allah di dunia ini.
Kalau itu yang terjadi, masuklah aku pada bait lagu :
'Barangsiapa Allah tujuannya, niscaya dunia akan melayaninya.'
Mungkin, niat hanya karena mencari ridha Allahlah, cara untuk mengatasi kejenuhan dan kemandegan dalam memperbaiki diri.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Johari Wianto sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.