Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://nuraulia.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Jurnalis
Tulisan Aris Lainnya
Oh, Sang Guru
18 April 2011 pukul 22:00 WIB
Membendung Liberalisasi
19 Maret 2011 pukul 12:00 WIB
Mengikat Kata dan Amal
4 Maret 2011 pukul 13:31 WIB
Menatap Wajah
2 Maret 2011 pukul 17:30 WIB
Kosong
21 Februari 2011 pukul 12:12 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Kamis, 21 April 2011 pukul 12:00 WIB

Coretan Kesederhanaan

Penulis : Aris Solikhah

Sobat,
Izinkan daku untuk membahas makna kesederhanaan kali ini. Puisi kacau balau di tengah malam benar-benar mengusikku. Puisi itu nampak puitis, susunannya tak menarik. Yang mengetuk adalah kedalaman di balik puisimu yang selalu dikirim tengah malam. Puisi itu mengilhami untuk merekat kata-kata yang kuanggap bernas. Daku bertanya, kegalauan apa yang menimpamu? Apakah daku andil di dalamnya?

Sobat,
Kesederhanaan hidup bagiku adalah tidak menyerah pada arus. Bukan hidup miskin dan membuka tangan meminta. Kesederhanaan adalah hidup apa adanya yang dibangun atas hasil keringat dan kasih Tuhan. Menolak ketakutan dengan tawakal dan usaha. Ini inti kemandirian. Hidup fleksibel, lentur, toleran, moderat berpusat pada idealisme. Ya, idealisme, ini sobat, yang daku coba jadikan timbangan. Meski daku kadang tersiksa dengan idealisme, yang mengajariku untuk bersabar dan menutup mata hijaunya rumput tetangga. Serta ranumnya buah di taman seberang.

Sobat,
Kesederhanaan adalah mengupayakan keseimbangan hidup. Seimbang dalam ruhiyah (spiritual), materi, kemanusiaan (humanity), dan etika (moral). Jujur pada diri sendiri, mengakui kesalahan dan memperbaiki. Mengupayakan berarti rela terhadap hasil upaya. Sobat, berusahalah walau sekecil kau berbuat. Menanti-nanti permata itu menggelisahkan, memanjangkan angan. Daku sungguh bosan.

Sobat,
Sekali lagi kau bertanya tentang kesederhanaan. Kesederhanaan bagiku adalah berusaha memaafkan masa lalu, memaafkan diri sendiri. Engkau tahu yang tersulit adalah memaafkan diri sendiri. Karena ini seperti halusinasi berulang, yang mencengkeram erat, kala kita sedang terpuruk. Maafkanlah kesalahan masa lalumu, sobat. Daku juga sedang melakukannya. Bila kesempatan itu masih ada, perbaikilah, mungkin engkau masih bisa mendapatkan madu istimewa. Kelegaan dan hati yang tenang. Atau kau benar-benar peroleh intan kebahagian sejati yang diidamkan. Tapi peluang itu tak akan terlaksana jika kau tak berani mencoba sekarang. Sederhanakan berpikir dengan bertindak cepat.

Sobat,
Masih juga kau mendobel kata kesederhanaan. Kali ini daku akan mengulas konsep kesederhanaan cintaku. Bagiku, cinta harus memiliki. Mungkin kau akan bilang naif. Karena sering kali orang melontar 'cinta tak harus memiliki'. Sobat, daku tak sanggup mencinta tanpa memilikinya. Kau tahu, bila daku jatuh cinta dan yakin tak bisa memilikinya. Daku mengulang-ulang do'a, "Ya Allah, jangan biarkan aku jatuh cinta pada sesuatu yang tidak berhak dan tidak layak."

Kenapa harus memiliki? Karena aku akan sangat terluka melihat orang yang kucinta menderita sedangkan daku tak bisa berbuat apa-apa, sementara daku tak punya hak. Bagaimana aku bisa menyentuh tangannya, menghapus air matanya. Perih, sakit, mengiris hatiku. Menurutku, kesiaan saja, mentautkan cinta yang bukan milik kita.

Kesederhanaan cinta adalah menerima apa adanya yang dibingkai ridha Ilahi. Tak kurang tak lebih. Tak menganggumi sehingga kecewa jika tak sesuai selera. Kesediaan mengarungi hidup dengan mutlak menerima ketidaksempurnaan. Sebab, yang disebut kesempurnaan hakiki adalah ketidaksempurnaan yang menembus segala keterbatasan.

Maka, hargailah utuh cinta yang telah dikau miliki.

Sobat, kutulis ini khusus untukmu, gerangan apa yang terjadi padamu? Daku berterima kasih engkau mempercayaiku untuk berbagi puisi hatimu.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lucasgoru | Karyawan Swasta
Allahu Akbar... Terus terang, KotaSantri.com lebih membuka mata hati saya tentang Islam.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1025 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels