|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|





Kamis, 20 Januari 2011 pukul 14:30 WIB
Penulis : Aris Solikhah
Li, aku ingin cerita padamu tentang diriku. Sudah hampir sebulan aku menerima amanah baru dalam dakwah. Li, sungguh berat amanah ini seperti bola panas. Sulit, tapi peluang itu selalu ada. Amanah yang selama ini aku lari darinya, ia menghampiri juga. Aku tak bisa mengelak lagi. Mereka mempercayaiku.
Li, sejak dulu aku tak bermimpi dan menginginkan amanah ini. Aku ingin menjadi penulis saja dan terlibat dalam organisasi menulis. Aku tak mau membuat peta setiap orang. Mengukur dan menilai prestasi cinta mereka pada dakwah. Aku membencinya. Aku tak suka. Aku pikir itu akan mengurangi waktuku untuk merenung dan menulis. Tapi adakah ketidaksukaanku itu ada artinya. Hal yang kubenci mungkin sebenarnya itulah yang terbaik untukku.
Iya, pada akhirnya aku menerimanya sebagai tantangan, sebagai poin untuk beramal dan poin untuk meng-up grade diri lebih cepat. Wahana pembelajaran agar aku belajar bersabar. Tak cukup di situ, Li, aku ditantang untuk selalu membuat konsep baru. Li, kadang aku takut kesepian. Padahal aku sering mengalaminya, kesendirian untuk menahan diri tidak mengeluhkan. Aku butuh teman sharing. Namun pada siapa kukeluhkan riak-riak di kepalaku?
Li, akhir-akhir ini aku gelisah, galau, resah, dan gundah. Malam-malamku terasa hambar. Ikhlas, tulus, dan sabar itu sulit, Li? Sedangkan, tiga hal tersebut kunci dari semuanya. Aku tertohok. Apa yang harus kulakukan agar aku bisa menikmati malam dan hidupku. Apa aku kembalikan saja amanah ini? Tapi itu sungguh tidak mungkin. Aku bingung memulai dari mana.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.