|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 29 Juli 2010 pukul 18:25 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Malam ini, start semuanya akan berakhir. Sampai di gerbang ini aku mengantarkan mereka, adik-adik PPM. Selang sehari lagi wisudaan, dan amanah itu benar-benar berakhir. Lalu, hanya tinggal aku yang harus mempertanggungjawabkannya di depan sang pemilik amanah sejati, sendiri.
Enam bulan terakhir (atau mungkin hampir tujuh bulan) membersamai 37 jiwa belia. Luar biasa pengalaman ruhiyah ini. Senang, susah, bahkan tak jarang letupan kejengkelan menjadi pernik yang melengkapi manajemen hati.
Pada akhirnya, pelajaran berharga untuk diri sendiri dalam kaisan hikmah. Bahwa menjadi seorang pendidik memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia butuh kesabaran berkadar tinggi, kemengertian pada berbagai perbedaan, keuletan, dan kesungguhan yang kokoh, serta komitmen yang tidak main-main. Dan sepertinya, aku harus lebih banyak belajar pada poin-poin tersebut.
Luar biasa berat, karena ini tidak hanya berkisaran antara aku memberi dan mereka menerima, aku mengatur dan mereka teratur, aku menyarankan dan mereka menjalankan. Bukan hanya sebatas itu, tapi ada penanaman kefahaman, terbentuknya fikrah, lahirnya kesadaran dan penguatan ruhiyah.
Dan apakah cukup, berhenti sampai di situ? Ternyata tidak! Ada simpul-simpul hati yang harus dibentuk dan diikatkan satu sama lain. Di situlah kemudian semuanya menjadi sempurna dalam balutan ukhuwah.
Hmmm… Pantas saja kalau ini dinisbatkan sebagai tugas para Rasul. Karena memang sejatinya setiap Rasullullah adalah pendidik. Sang pendidik sejati.
Kemudian, menjadi hal yang wajib disyukuri, karena Allah SWT telah memberi diri ini kesempatan untuk ‘mencicipi’ tugas tersebut. Namun juga menjadi hal yang wajib di-istighfari, karena tentu saja apa yang sudah (berupaya) dilakukan masih sangat teramat jauh dari kata sempurna.
Ya, purna sudah amanah ini. Banyak catatan hati yang telah tersimpan rapi, dan akan menjadi pengingat sepanjang waktu. Agar kiranya menjadi bagian bekal pada amanah lainnya, meski mungkin dalam bentuk yang berbeda. Aamiin.
***
Adik-adikku…
Selamat berjuang di tahapan hidup selanjutnya. Sertakan Allah selalu dalam setiap gerak dan sikap. Dan seperti yang telah difahami bersama, hati adalah sumber dari segalanya. Maka membersihkan dan menjaga kebersihan hati adalah sebuah keniscayaan.
Maafkan Mbak yang masih jauh dari sosok ideal. Terima kasih untuk semua kebaikkan yang pernah tercipta. Kalianlah takdir itu, yang telah di-skenariokanNya sebagai bagian dari peng-upgrade ruhiyah diri. Uhibbukum Fillah…
***
Rf_Ketika hanya tinggal aku, sendiri. Berurusan langsung dengan sang pemilik kehidupan, menanyakan kesungguhanku mengemban amanahNya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.