|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|





Senin, 28 Juni 2010 pukul 18:22 WIB
Penulis : Desmeli
Ugh! Lagi-lagi ia selalu mendesak-desak untuk keluar, sudah semampuku menahan, sudah semampuku bertahan, tetap jua tak terlawan. Meski ia bagiku adalah obat dari rasa marah, kesal, dan sedih atau rasa bersalah yang tak mampu kuungkapkan, tetapi ingin sekali kuteriakkan, ”Hei, jangan keluar sekarang! Ini bukan saatnya, ini bukan tempatnya! Mengertilah… Nanti saja jika semua orang tak ada. Nanti saja jika malam telah gelap gulita.” Tetapi tanpa peduli apa yang otakku perintahkan, tetap saja kau mendesak-desak ingin keluar, ungkapkan rasa.
Pernah sekali waktu kusembunyikan, mencoba tetap tersenyum walau hati terluka, mencoba untuk tegar meski remuk redam segala asa. Tetapi, air mata selalu saja tumpah, tak dapat diajak bekerja sama. Mengapa?! Itu karena ia lahir dari lubuk yang terdalam, itu karena ia ingin setia pada apa yang dikatakan hati, itu karena ia tak mau mengingkari bahwa memang benar adanya benang merah antara air mata dan perasaan.
Terkadang aku tak jarang pula dibuat malu oleh ulah si air mata yang keluar tanpa mampu melihat situasi dan kondisi lingkungan yang sedang kuhadapi, tak peduli apakah aku sedang berada di dalam sebuah forum formal, tak peduli apakah aku sedang berada di sebuah angkutan umum, tak peduli apakah aku berada di keramaian orang. Meskipun itu bukanlah sebuah tangis raungan, tapi cukup mampu menarik perhatian banyak orang. Duh, malunya!
Sendirinya aku pernah bertanya, ”Kenapa sih begitu mudahnya mengeluarkan air mata?” Jawabnya hanya satu, "Karena aku wanita!"
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Desmeli sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.