|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Senin, 15 Februari 2010 pukul 17:30 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Ada hati, menyimpan beraneka ragam dan rupa rasa. Ada cinta yang mengalirinya, jernih, murni, dan memuliakan. Jernih dari nafsu yang menyengsarakan, murni dari noktah noda meski hanya setitik, memuliakan karena tetap pada koridor kefitrahan.
Bukan cinta yang diumbar di pinggir-pinggir jalan setiap malam minggu, bukan cinta yang dilantunkan dalam irama musik-musik jahiliyah, bukan cinta yang ditulis pada syair-syair pelena jiwa, bukan cinta yang hanya melibatkan dua manusia, bukan cinta yang ramai-ramai dirayakan dalam momen "14 Februari". Bukan! Bukan cinta yang begitu!
Tapi ini cinta yang berakar pada ketaaatan, tapi ini cinta yang berkhidmat pada kata pengabdian, tapi ini cinta yang siap menopang jiwa lain dan jiwa-jiwa baru setelahnya, tapi ini cinta yang menghidupkan, cinta yang memilihara, cinta yang menjaga, cinta yang membahagiakan. Terlebih, cinta yang mengantarkan ke surgaNya!
Ada cinta di hati, yang tak kan mencintai dengan cara sederhana apalagi apa adanya. Tapi cinta yang berjuang tuk selalu memberi energi-energi positif pada yang dicinta. Cinta yang lebih bermula dari "bagaimana aku mencinta" bukan "mengapa aku mencinta". Karena cinta ini penopangnya adalah keyakinan, pagarnya adalah keikhlasan, dan penutupnya adalah kebaikan.
Cinta ini, yang lahir dari kecintaan karenaNya. Yang dijalani menurut sunnah RasulNya dan dalam ketetapan syari'atNya. Yang dalam keluarbiasaan mampu merengkuh hati lain, bahkan lingkaran terluar dari dalam dirinya.
Mengapa bisa begitu? Karena inilah yang dinamakan cinta sejati. Cinta yang jelas orientasinya, cinta cerdas yang tidak hannya berpola pikir sesaat, cinta yang meluruhkan keegoisan, cinta yang hanya ingin memberi tanpa berharap menerima kembali dari yang dicinta.
Maka, jika memang begitu, adakah lagi alasan untuk tidak bersegera pada cinta yang seperti itu? Dalam keberkahan hidup tanpa takut pergiliran susah dan senang, mudah, dan rumit. Masihkah ingin mengurusi cinta-cinta semu tanpa makna berarti, bahkan menjerumuskan dalam kemurkaanNya.
Bukankah hidup ini hanya sekali dan teramat singkat? Kenapa kita tidak memaknainya dengan cinta yang benar hingga hidup lebih terasa panjang dan berulang kali. Tak hanya itu, tapi juga lebih indah dalam warna warni pelangi Ilahiyah.
Ini, bukan cinta yang sederhana. Tapi cinta yang selalu berjuang untuk tetap menghidupkan, memelihara, menjaga, dan membahagiakan. Ini, cinta hakiki. Yang pangkal dan ujungnya adalah Allah SWT.
***
RF_Say no to 'Valentine day' !
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.