|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|




Senin, 10 Agustus 2009 pukul 17:12 WIB
Penulis : Nafilah Nur Azizah
Apakah Cinta bagai kabut yang hanya datang untuk pergi? Atau hanya bagai pelangi yang indah untuk dilihat? Tapi tidak untuk dirasakan. Ketika cinta menyapa, apa yang mesti dilakukan?
Cinta itu katanya indah, seindah dunia ini. Cinta itu kuta, ibarat bensin yang mampu menggerakkan mesian, ibarat angin yang mampu bergerak super elastis, ibarat matahari yang mampu menerangi alam semesta.
Cinta bagaikan nafas kehidupan. Kapan pun, kisah seputar cinta tak akan pernah habis. Selama mata terbuka, sampai jantung tak berdetak, selama itupun cinta terus ada bersama insan-insan pencinta.
Kehidupan adalah cinta. Cinta yang membuat seseorang tertawa, cinta pula yang membuta seseorang menangis.
Cinta memang penuh warna. Tapi sebagian orang hanya mengenal merah jambunya cinta. Padahal, gelap dan kelabunya cinta pun haruslah dikenal.
Menulis dan mengungkapkan tentang cinta memang butuh waktu yang panjang. Jadi sampai di sini dulu ungkapanku tentang cinta. Yang jelas, sesuatu tentang cinta belumlah jelas.
Referensi : Nurani Cinta yang Hilang
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nafilah Nur Azizah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.