QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://rainbow.kotasantri.com
Bergabung
18 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Karyawan Swasta
http://liajuliana.multiply.com
rainbow@kotasantri.net
rainbow@ltq-ibadurrahman.com
najmi_andalusia
rainbow@kotasantri.net
Catatan Rainbow Lainnya
Argumentasi, Lelaki Shalih dan CInta
20 Oktober 2010 pukul 19:41 WIB
Bidadari-Bidadari Penjaga Hati
29 Juli 2010 pukul 15:22 WIB
Persahabatan itu bagaikan pelangi
23 Mei 2010 pukul 14:10 WIB
Tips buat yg "berpenyakit hati"
19 Mei 2010 pukul 13:23 WIB
Catatan
Ahad, 19 Desember 2010 pukul 17:50 WIB
Putus Asa Dalam Berikhtiar???

Oleh rainbow

Berusaha adalah langkah pertama yg harus dijadikan pijakan seorang muslim dalam meraih sejuta impian dan harapan. Tanpa unsur "usaha atau ikhtiar", jangan berharap orang akan bisa mewujudkan keinginannya. Rasulullah SAW sendiri telah memberi contoh konkret dalam hal ini, yaitu berbisnis sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT tidak akan mengubah keadaan kita selama kita tidak berusaha mengubah sebab-sebab yang menjadi penghalang untuk berubah.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS. 13:11.

Kalaupun terjadi "kesuksesan" tanpa dilalui dengan proses ikhtiar, maka hal itu termasuk dalam kategori anugerah khusus dari Allah. Bagaimanapun juga jika Allah berkehendak, tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi.

Namun, yang perlu diingat bahwa yang demikian sangat jarang sekali terjadi. MUngkin hanya seribu satu atau satu berbanding sejuta kejadian. Wallahu a'lam. Yang jelas, jika semua orang diberi kesuksesan tanpa usaha, maka akan binasalah kehidupan ini. Karena itulah, jika engkau ingin sukses, ya harus berusaha dengan tekun, baik secara lahir maupun batin.

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan"." (QS. AT TAUBAH:105)

Dalam ayat di atas terkandungs ebuah semangat untuk senantiasa tekun berusaha dan berikhtiar. Perintah untuk bekerja artinya perintah untuk berusaha keras dna tidak boleh berputus asa dalam menggapai suatu tujuan, baik duniawi maupun ukhrawi.

Namun, pada kenyataannya, fakta yang ada berbicara lain. Ada saja manusia yang ingin menikmati hasil namun tidak mau berusaha. Bagi sebagian orang memang ada yang inginnya enak-enak saja. Tidak perlu bersusah payah, namun bisa mendapatkan apa yang diinginkan hatinya. Tidak perlu repot, namun bisa mendapatkan jodoh ideal yang selama ini menjadi idaman hati. Orang yang demikian biasanya gampang sekali putus asa bila ikhtiar yang dilakukan tidak segera membuahkan hasil. Padahal, orang sukses adalah orang yang tidak mudah berputus asa dan mau terus mencoba, meskipun telah mengalai banyak kegagalan. Ia memandang kehidupan sebagai peluang untuk mencapai kesuksesan. Tipe orang seperti ini sadar bahwa sesungguhnya jodoh itu di Tangan Allah dan manusia wajib berikhtiar mencari dan memilihnya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Bila manusia tidak mau menjemputnya, bisa saja jodoh akan selamanya di Tangan Allah.

Diantara tanda orang yang bakal sukses mendapatkan jodohnya adalah mereka sabar dan tidak mudah berputus asa dalam menjalani proses menjemput jodoh. Ada satu kisah penuh haru dari seorang sahabat saya, Alya namanya. Berikut ceritanya:

Ketika itu, sudah hampir tujuh belas bulan proses ta'aruf Alya berjalan. Dia mengajui, masa penantian selama itu cukup membebaninya. Hubungan mereka berlanjut tanpa adanya kepastian.

Ketidakmenentuan itu disebabkan si ikhwan tidak diizinkan menikah oleh ibunya sebelum kakak perempuannya menikah. Menurut Alya, ikhwan itu sosok yang sangat menyayangi keluarganya. Hanya saja dia heran.

"Jika sudah mantap denganku harusnya dia bisa memperjuangkan kedua cintanya, tak perlu dikorbankan salah satunya. Jika berani memulai berarti harus berani berjuang. Harusnya dia sudah tahu apa yang mesti dilakukan," ungkap Alya mengenai isi hatinya.

Setahun genap sejak proses ta'aruf berlangsung, ikhwan itu menyampaikan keputusasaannya kepada Alya.

"Aku tak tahu kapan perjuangan kita akan berakhir, Al. Aku tak mungkin membantah ibu dan menyakiti kakakku. Aku tak tahu kapan kakakku akan menikah. Aku tak tahu kapan ibuku memberi restu. Dan aku pun tak tahu jika kita terus melanjutkan hubungan ini apakah perjuangan kita ini akan berhasil nantinya? Aku takut belum bisa memberikan kepastian padamu dan keluargamu. Seharusnya kita realistis. Tak mungkin kita nyaman menjalani hubungan tanpa kepastian. AKu tak ingin membebanimu. Mungkin kita belum berjodoh, biarlah aku yang mencarimu. Tapi kamu tak perlu menungguku, Alya".

Sontak kata-kata si ikhwan itu membuat Alya diam. Air mata pun tak bisa dibendungnya lagi.

"Aku hanya seorang gadis biasa yang sudah cukup mengerti akan cinta, perjuangan dan pengorbanan," Alya berkata-kata, menegarkan diri. Sungguh, betapa dalam perasaan dan harapan Alya pada ikhwan itu.

Alya melanjutkan. "Akhi, jodoh itu dipilihkan oleh Allah. Manusia hanya berusaha dan berdoa. Hanya itu kewajiban kita. Hasilnya serahkan pada Allah. Aku hanya menaruh harap, dan catatan takdirlah yang pada akhirnya akan menentukan segalanya. Jika dengan sedikit kesabaran akan membuat takdir berpihka kepada kita, kenapa tidak kita coba untuk sedikit bersabar lagi? It's just the matter of time. Kelak jika waktunya sudah tiba untuk kita mengerti, maka Allah akan mempermudah jalan kita."

Ikhwan itu bergeming, menyimak perkataan Alya.

"Akhi, tak ad agunung yang terlalu tinggi untuk didaki. Dan tak ada perjuangan yang tersiakan. Tak ada pula do'a yang tak didengar. Bukankah nilai suatu keberhasilan di hadapan Allah dikur dari usaha yang tak pernah putus asa, bukan dari hasil akhir?

Maka izinkan aku terus berjuang dalam harap dan doa meski tanpa antum, karena aku tidak bisa memaksa antum berjuang bersamaku. Tapi tolong, tetaplah berdoa dan usah lelah untuk meminta kepada-Nya, Akhi..."

Dalam munajat tak berujung, ALya masih memercayai pertolongan Allah. Dengan kalimat mendalam, ia ungkapkan pada saya:

"Aku berharap doa-doaku menjelma menjadi kunang-kunang. Terbang dan melesat tertiup angin. Ratusan, ribuan, jutaan, bersatu menjadi bulatan cahaya. Indah berkilau, berhembus. Terbang menuju langit 'Arsy. Menghadap Tuhannya. Dan kelak, suatu saat dia mengepakkan sayapnya, menuju kembali padaku. Mengabarkan wahyu dari-Nya. Menitipkan sebuah takdir untukku. Doa tak berujung ini tak akan pernah usai. Karena Alya akan selalu menanti."

Sahabatku, mari kita renungi kesabaran dan optimisme Alya. Selanjutnya, mari kita melangkah.

"Menunggu itu proses. Mencari itu (juga) proses. Proses yang hanya bisa dilaksanakan dengan sifat sabar. Jadi sabar adalah titik persamaan bagi kedua proses tersebut," ungkap seorang bijak. "Jika kita bisa sabar dengan menunggu, teruskanlah. JIka kita bisa bersabar dengan mencari, teruskanlah. Jangan karena kita merasa telah lama menunggu, maka lantas mulai hilang kesabaran dalam proses mencari. Jangan pula karena kita merasa telah lama mencari, maka lantas hilang kesabaran dalam proses menunggu."

--

Dikutip dari buku "Teman dalam penantian" karya mas Udik Abdullah

Bagikan

--- 0 Komentar ---

bambang menyukai catatan ini.
Mutiara | Swasta
Alhamdulillah, senangnya udah bisa bergabung dengan KotaSantri.com. Jazakumullah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0449 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels