|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|
|
|
http://liajuliana.multiply.com |
|
rainbow@kotasantri.net |
|
rainbow@ltq-ibadurrahman.com |
|
|
najmi_andalusia |
|
rainbow@kotasantri.net |



Oleh rainbow
Ukhti mendengar curah hati, dilema yang anti rasakan, kebingungan yang tak berkesudahan sesungguhnya itu semua akan ada akhir, sebagaimana ada pangkal akan ada ujung nya. Fitnah yang selama ini menimpa, sesungguhnya itu bagian dari ujian kesabaran untuk semakin mengokohkan pemahaman kita akan makna ukhuwah sesungguhnya, tingkatan terendah dari ukhuwah adalah berlapang dada dan husnudzhon. Apakah itu sudah menjadi karakter yang senantiasa ada dalam diri ketika fitnah mendera kita. Ya itu semua merupakan proses tarbiyah dari Allah.
Demi Allah, tidak mudah untuk menjadi kader sejati, ketsiqohan pada murobbi terkadang harus diuji dengan segudang kekecewaan, saat profil ideal seorang murobbi melintas di benak dan harus berhadapan dengan reaalitas murobbi yang ‘menurut kita’ tidak sesuai dengan keinginan kita padahal belum tentu menurut Allah, iya kan ti??.
Ya itulah cara Allah mentarbiyah kita, membuat fikroh kita semakin matang, pembentukan karakter seorang mujahidah sejati yang sabar menjadi pakaiannya dan tsiqoh menjadi makanan pokoknya dalam kerangka taat pada Allah dan RasulNya.
Ada sebuah taujih yang begitu membuat hati ini semakin merasa malu :
“Akhi.....jama'ah ini adalah kumpulan manusia.....ini adalah rumah kita dan rumah antum juga....pastilah menyimpan banyak keunggulan dan juga banyak kelemahan sebagai hasil ijtihad manusia.....maka jika antum melihat kekurangannya.....mari kita bersama untuk memperbaikinya.....setiap masa dan setiap zamannya memiliki karakter yg berbeda....sehingga kehadiran antum di jama'ah ini.....bukan sebagai jaminan antum masuk ke surga.....tetapi sebagai teman kami dalam membangun peradaban Islam yg sedang carut marut ini....kami harap antum mengerti bahwa kita bukanlah pengikut Muhammad yg terbaik.....betapa banyak orang-orang yg baik....tetapi mereka tidak bersama kita.....dan kita yg berada di sini .....janganlah merasa tinggi hati.....karena keberadaan kita dalam jama'ah ini bukanlah sebuah kemuliaan melainkan amanah yg berat....kita bukanlah siapa-siapa......kita hanyalah manusia biasa yg berusaha menggapai kemuliaan Islam dengan melalui jalan tarbiyah ini......dan tarbiyah ini pulalah yg telah menghasilkan pejuang-pejuang tangguh Palestina......bagaimana dgn kita....apa kontribusi kita bagi ummat.....jangankan darah dan jiwa......seujung kukupun masih belum ada....oleh karena itu semoga Allah memudahkan kita dalam menggapai cita dengan segala kemampuan dan daya upaya kita sekalipun hanya sebuah doa bagi dakwah ini......"
Ukhti qu yg ku sayangi karena Allah...
Diri ini yakin, tak tergambar rindu hati ketika menunggu pangeran, datang menjemput. Dan ada balasan kebaikan di balik penantian itu, insya Allah. Mengingat keinginan kriteria pasangan impian kita terkadang menjadi ketakutan tersendiri kala biodata yang disodorkan tak sesuai harapan. Itu juga kekhawatiran yang diriku rasakan, tapi hal ini jangan sampai menjajah kekuatan keyakinan kita akan keadilan Allah.
Sebuah taujih persiapan pernikahan mengatakan : ”ukhti anti jangan mau terima bersih saja dari pasangan anti, mendambakan pasangan yang udah jadi (maxdnya fikrohnya mantab, akhlaqnya kokoh, komitmen dakwah nya ok, cakep, kaya, sholeh de el el.. hehe..itu keterangan versi diriku hehehe :D ), tapi anti berdua harus sama2 belajar untuk memaksimalkan potensi diri, saling mengokohkan komitmen, dan saling mengisi kekurangan masing-masing”.
Dari taujih singkat itu aku berfikir, beliau benar, bukankah Suami Ummu Sulaim menjadi seorang mujahid yang tangguh setelah keislamannya, dan itu pasti gak terlepas dari faktor seorang wanita sholehah, wanita sabar yang tak lain adalah istrinya, ummu sulaim RA. Sekali lagi ini masih tulisan, dan komitmen ini belum teruji. Wallaahu’alam
Ukhti tersayang...yang dirahmati Allah, insyaAllah...
Terkadang profil seorang ikhwah terlalu muluk2 menguasai hati dan fikiran (ini nasihat buat diriku sendiri nih, hihih.. ), padahal kalau di pikir2 kita ini bukanlah siapa2, bahasa kasarnya ”nggak malu, minta yang macem2 sementara aku sendiri satu macem aja lom ada hehehe...”.
Tapi diriku yakin Allah tidak akan pernah berbuat dzholim pada hambaNYA yang sholehah, walau sekali lagi keyakinan itu belum teruji.
Sambil menunggu berakhirnya masa penantian ini, lebih baik kita menyibukkan diri untuk terus melejitkan kesholehan, memantabkan fikroh, memaksimalkan kontribusi dakwah dan menabung amal kebaikan. Tentunya seiring semakin terisi kualitas diri, ruhiyah dan fikroh insyaAllah masa penantian itu akan terasa lebih indah, walau mau gak mau memang harus dibuat indah , dan pada saatnya Allah akan memberikan kado terindah itu untuk kita ;)
*copas dari situsnya zahra syahidah
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---