|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
http://liajuliana.multiply.com |
|
rainbow@kotasantri.net |
|
rainbow@ltq-ibadurrahman.com |
|
|
najmi_andalusia |
|
rainbow@kotasantri.net |


Oleh rainbow
Bertuturlah cinta mengucap satu kata
Seindah goresan sedalam-dalam kitabku
Cinta yang bertasbih untuk satu Rindu
Kusandarkan hidup dan matiku pada-Mu
(OST. Ketika Cinta Bertasbih)
Itulah cinta. Ia tulus dan suci hanya jika karena Sang Cinta. Tapi saat ini cinta banyak jadi penipu karena berpura-pura mengatasnamakan-Nya, padahal datang dari hati yang telah menetapkan harga mati pada sebuah jiwa. Entah sang pematok harga sadar atau tidak, tapi cinta (di balik nafsu) telah memperdaya hatinya. Ia tidak siap dan rela menerima setiap hati yang datang padanya, karena hatinya telah terpenuhi oleh sosok seseorang yang dianggapnya sangat sempurna. Bidadari itu…
Fenome cinta di kalangan da’I dan da’iyah kini mulai goyah. Banyak ikhwan (yang merasa dirinya kompeten) telah menetapkan pilihan pada seorang akhwat (yang dianggapnya sangat sempurna) sebelum mencoba jatuh cinta pada akhwat lainnya (yang bisa saja jadi istrinya). Hatinya telah dipenuhi bayang-bayang impian dengan seorang bidadari. Apakah akhwat itu tetap bisa disebut bidadari?
Seorang akhwat telah ngaji selama bertahun-tahun, simpati pada seorang ikhwan. Gayung bersambut. Ternyata ikhwan juga menyimpan perasaan yang sama (atau sebaliknya). Berhari-hari, bertahun-tahun dalam kerja dakwah, hati mereka kian terpaut hingga selalu ada rasa dalam tiap kinerja. Tanpa terasa, waktu tak lagi terbendung untuk bersama. Dalam hitungan menit, segalanya terpaksa dilakukan hanya agar ijab kabul terucap. Ikhwan memang mendapatkan bidadari, tapi hanya bagi dirinya.
Seorang akhwat cerdas, piawai dalam kerja dakwahnya, akhlaknya terjaga dan berpenampilan menarik. Hampir setiap ikhwan tergoda. Menghadapi persaingan sengit, seorang ikhwan bertindak lebih nekat. Bahkan hampir seluruh insan tahu sang ikhwan meletakkan cinta padanya. Apa yang akhwat lakukan? Hampir seluruh akhwat tak bisa menampik rasa ketika ada ikhwan yang mencintainya. Karena fitrah wanita sulit menolak rasa yang ada. Apalagi jika ikhwan itu benar-benar mencintainya, selalu ingin ada di sisinya dan bersedia berkorban apapun untuknya. Akhwat banyak yang kelepek-kelepek J Tapi tidak dengan akhwat ini, dia tetap teguh tak membendung rasa di hati untuk sang ikhwan. Dia menolak ikhwan. Whats? Dia menolak ikhwan yang kompeten itu? Yup! Dengan segala keyakinannya untuk mensucikan cinta, dia menolak ikhwan itu. Tak peduli ikhwan sakit hati atau bahkan bunuh diri, ia tetap teguh pada pendiriannya. Ia ingin cinta yang datang padanya tak sedikitpun ternoda dengan bayangan-bayangan dirinya di mata sang ikhwan. Dan ia sudah mendapat jawaban bahwa ikhwan itu tidaklah sekompeten dari luar. Mungkin sang ikhwan punya kecakapan tingkat tinggi, cerdas dan memegang tampuk dakwah, tapi apalah artinya jika ia sudah ternodai rasa oleh sesosok akhwat? Jika sang ikhwan hanya simpati padanya, itu normal saja. Tapi jika sang ikhwan sudah memaksanya untuk dinikahi, nilai kesucian cinta jadi pudar. Bagi ahwat hanya tersisa noda di hati ikhwan. Akhwat ini akan tetap menjadi bidadari, ia tak hanya menyisakan kesuciannya di hati setiap ikhwan yang mengakuinya karena mampu menjaga hati, ia juga menerangi hati akhwat lain yang mengakui kemampuannya dalam menata pribadi dan hati. Dialah sang bidadari, yang sinarnya terus menerangi semesta dengan ayat-ayat-Nya karena dia mampu menjaga hati… wajar saja jika ikhwan tadi tak pantas mendapatkan cinta suci sang akhwat ini.
Ada kisah yang lebih mengharukan. Seorang akhwat jatuh cinta pada sesosok pemuda yang mengorbankan dirinya demi dakwah. akhwat pun berjuang menyamai langkah hingga tersuruk-suruk di pematang sujud. Dengan kesungguhan hati, akhirnya ia bersinar juga di langit. Kini dirinya menyerupai biadadari di kisah kedua. Saat itu, sang ikhwan jatuh hati padanya, sinar itu telah menggodanya untuk sesekali mencuri pandang. Tentu saja akhwat sangat senang karena cintanya dahulu tak lagi bertepuk sebelah tangan. Tapi setelah ia melalui istikharah yang panjang, pola pikirnya terarahkan pada akhwat kedua. Bukan tak mungkin ia terwarnai oleh pola pikir akhwat kedua yang begitu menjaga hatinya. Dalam doa akhwat terus memendam rasa, mencoba mengikhlaskan cinta yang telah hidup di hatinya sejak lama. Doa cinta pun mengalir deras dari bibirnya:
Bisikan doaku dalam butiran tasbih
Kupanjatkan cintaku pada-Mu Maha Cinta
Sudah di ubun-ubun cinta mengusik rasa
Tak Bisa kupaksa walau hatiku menjerit
(OST. Ketika Cinta Bertasbih)
Bertahun-tahun akhwat meminta, akhirnya Allah turunkan kekuatan untuk membantu akhwat menetralisir hatinya. Hingga dia pun berhasil menundukkan hati dan pandangannya dari sang ikhwan. Kini ia terus bersinar di langit, mencoba menerangi akhwat lainnya yang mulai kehilangan cahaya. Dan ia yakin kesucian cinta akan menemui dirinya jika ia juga bisa menjaga kesucian cinta itu. Ya… kesucian yang tak terusik sebuah noda yang kian membesar di hatinya lalu menodai amalnya. Walau dia masih merindukan cinta, tapi hatinya tak menghalalkan segala cara agar menerima sang ikhwan. Ia ingin sang ikhwan bisa menjaga hatinya, meluruskan niatnya, sama seperti apa yang tengah ia rasakan. Dialah bidadari penjaga hati…
Tiba-tiba bidadari-bidadari penjaga hati kehilangan percaya diri. Bagaimana jika mereka mendapatkan cinta ikhwan yang mencintai bidadari lain. Karena kebutuhan untuk berkeluarga sudah mendesak, maka ikhwan (yang mungkin mencintai bidadari lain tapi tak mampu mendapatkannya) menerimanya (dengan terpaksa) sebagai bidadari. Bagaimana nanti jadinya diri? Dinikahi oleh pria-pria yang mengharapkan bidadari lain jadi istri? Pasti perih hati ini… Apakah harus nada sedih yang berkumandang? Tidak!!! Bidadari-bidadari penjaga hati yakin hal itu takkan terjadi. Dia selalu berdoa di sepertiga malam agar mendapatkan cinta suci dari pangeran-pangeran penjaga hati. Jika seorang ikhwan datang, maka ia akan memilahnya dengan hati-hati. Tapi jika ada ikhwan datang tapi dia belum tahu sang ikhwan bisa menjaga hatiny atau tidak, maka dia akan minta petunjuk Ilahi. Mungkin saja ikhwan itu mau membuka lembaran baru bersamanya. Tapi jika ikhwan tak bisa melupakan bidadari lainnya, maka hanya kata ‘tidak’ yang terucap. Ia akan setia menanti sang pangeran penjaga hati datang walau harus menunggu surga runtuh. Ketika waktu itu tiba, hanya rangkaian nada yang terucap:
Ketika cinta bertasbih nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku merangkai bukti cinta
Garis tangan tergambar tak bisa aku menyangkal
Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta
(OST. Ketika Cinta Bertasbih)
Dimodifikasi dari syair Ketika Cinta Bertasbih sesuai dengan kalam-Nya yang jernih dan tujuan penulisan artikel.
***
Sumber: http://alifaelkhansa.multiply.com/journal/item/64
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---