|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |





Oleh Abdul Latief Sukyan
Suatu hari aku mencari ibuku, ku tengok ke dalam kamarnya untuk mencium baunya, aku tidur diatas tumpukan baju-bajunya agar aku selalu merasa berada dalam pelukannya, aku merasakan langkah-langkahnya, suaranya terngiang dan menghuni relung hatiku, aku tidak takut tidur dalam kegelapan karena ibuku pasti terlelap disampingku, ia selalu menceritakan kisah-kisah harapan sebagai pengantar tidurku. Ia adalah ibu, ia adalah jasadku karena aku terlahir dari jasadnya dan bagaimana aku dapat melupakannya, dan hingga kini aku selalu mencarinya agar dapat berkumpul dengannya kembali.
Ini bukan kisah nyata, tapi dalam dunia nyata banyak terjadi terutama bagi para ibu yang bekerja jauh terutama yang bekerja ke luar negeri, bertahun-tahun aku tidak bertemu dan berjumpa dengan ibuku yang melahirkanku, memang pernah berkali-kali ibuku berkirim surat dan aku membacanya dengan terbata-bata saat aku masih duduk dibangku kelas dua SD.
Saat ibuku menelpon ibuku selalu berjanji akan kembali, untuk menjumpaiku dan memelukku, tapi umurku sekarang sudah menggapai dua puluh tahun, tapi ibuku hanya datang dalam janji, surat dan doa.
Tanteku telah menjadi pengganti ibuku, walaupun ia tidak ikut melahirkan, ia berhak mendapatkan jabatan mulya itu, karena ia turut merawat dan membesarkan anak saudarinya, ia berhak dihargai dan dihormati sebagaimana ibu lainnya. Tapi terkadang ia tersia-siakan, tapi ia tetap bersabar dan mengadukan perkaranya pada Allah agar ia tidak menghilangkan pahala keikhlasannya.
Suatu hari, semua kampungku terkejutkan oleh kedatangan beberapa petugas utusan dari KBRI dan beberapa perangkat desa dengan membawa seorang wanita separuh baya yang duduk sedih diatas kursi roda, ia datang langsung mengetuk pintu rumahku, rumah yang dibangun dari kiriman uang jerih payah ibuku, tapi aku tidak mengenal wanita yang duduk diatas kursi roda itu, walapun sebanarnya ia adalah ibuku, tapi karena ia meninggalkanku sejak aku masih berumur enam tahun. Tanteku datang berlari menjerit, kenapa saudariku ? kenapa ? apa yang terjadi ? dan semua pertanyaan terus terlontar tanpa mempedulikan para tamu petugas yang datang mengantar ibuku.
Ibuku kembali ungkap batinku, ibuku mencari anaknya, sebagaimana aku mencarinya dalam kamarnya, ini adalah nurani, perasaan dan hubungan antara manusia yang tidak bisa digambarkan dengan ungkapan kata.
Sejak itu pula aku berangkat ke luar negeri untuk menggantikannya, membiayainya dan sebagai bentuk bakti atas segala perjuangannya untukku
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---