|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
http://www,elmishriya.blogspot.com |
|
|
ibnu_el_hindy@yahoo.co.id |
|
mujahiedmoeda |
|
http://facebook.com/iwan ghoenawan |




Oleh iwan ghoenawan
Ya di sampingku kini berdiri kokoh gedung tua universitas al – Azhar yang telah melahirkan berjuta – juta ulama di seluruh penjuru dunia. Ah, aku jadi teringat Dr. Yusuf qardhawi tokoh legendaris abad ini, yang banyak disalah artikan sebagian fatwa – fatwa beliau.
Di anggap tokoh liberal lah, nyeleneh lah, de el el. Syeih Ali Jum’ah sang ulama yang terkenal memasyarakat saja yang belum aku denger seliwir – seliwir ga enak tentang dirinya. Sampe syeikh azhar, grand syeik kata orang masih kena sama yang namanya gosip – gosip ga jelas. ” Menghalalkan riba yang tidak berlebihan “ kata salah seorang temanku mengupas fatwa beliau yang dianggap nyeleneh. Terlebih masalah Niqab yang baru muncul akhir2 ini, en so on lah.Yah, namanya juga manusia to. Ga mungkin bersih banget dari segala kesalahan kita hanya bisa meminimalisir dan berhati – hati jangan sampai kita jatuh terus ke lubang yang sama. Kalo udah ada usaha, usaha menjauhkan diri dari kesalahan, menjauhkan diri dari ma’ashi, berusaha dan terus mencoba agar kuat dalam menghadapi hidup ini dengan kesalahan yang minim, insyaallah hasilnya ga akan sama dengna orang yang tidak ada usaha sama sekali.
“ Tiiid......tiiiiiiiiiiiiiiiiddd.....!! “
Sebuah mobil taksi melintas hampir menyenggolku. Ugh..untung aku masih bisa menguasai kendaraanku. Hampir aku menabrak ibu- ibu yang sedang berjalan di depan husein. Belokan dari darasa ke azhar memnag agak sedikit berbahaya. Pasalnya disamping berbelok, menurun, juga banyak orang berlalu – lalang. Sebenarnya ingin aku menyumpah serapahi para pengemudi mobil di kairo ini.
Kata temen, supir di mesir kalo ngendarai mobil Cuma pake gas, kupling sama rem doank. Kalo di indo selain gas sama rem juga pake mata, malah pake hati juga. Lagi – lagi aku teringat peristiwa dua tahun kebelakang. Dua orang warga malaysia yang sedang menyebrang ke daerah duwa’ah sampai terpental jauh sekali ditabrak sopir mesir, udah gitu si pelaku malah kabur. Si****..!!
Ups...!! sekarang aku sudah memasuki wilayah attaba, pasar rakyat yang tidak pernah sepi dua puluh empat jam. Ada tiga jembatan layang di sini. Tadinya aku mau ngambil jalan pertama, tapi aku lebih sering memilih jalan layang ke tiga sekitar lima puluh meter ke depan. Sambil menikmati suasana pasar dan melihat – lihat barang, tidak jarang aku mendapatkan salam dan sapaan dari penjaga toko di pinggiran jalan.
“ shinii...!!” katanya memanggilku.
Hi....hi..hi....aku hanya bisa menahan tawa lucuku. Agak geli memang. Kebanyakan orang mesir menganggap semua orang asia itu orang Cina. Tidak terlepas orang indonesia yang ada di mesir. Hanya mereka yang hidup di kota dan terpelajar yang bisa membedakan mana orang Cina, Indonesia dan Malaysia. Bahkan sampai sekarang aku masih kesusahan untuk membedakan mana orang malaysia, thailand, filipin, dan Myanmar. Apalagi akhwatnya, hampir tidak ada bedanya. Hanya dari cara berpakaian saja kita bisa menilai dia dari mana.
Orang malaysia misalnya, biasanya akhwatnya memakai jilbab yang lebih besar dari orang indo. Jilbab mereka rata – rata samapai ke lutut dan seragam dengan setelah bawahannya. Kalaupun orang inido ada yang berjilbab seperti itu, kebanyakan mereka tidak seragam dengan bawahannya. Kalo orang thailand, dan Fhilipin ( ana ga tau gimana nulis Filipine ato Fhilipin ) biasanya mereka memakai pakaian yang bahannya lebih halus dan lebih berkilau. Walau tidak berjilbab lebar, tapi kebanyakan mereka/ hampir semuanya memakai cadar.
Entah kenapa ada kesan tersendiri jika melihat atau berpapasan dengan akhwat – akhwat yang berpakaian teduh seperti orang malaysia, atau filipin dan Tailand.
“ robb, ana ingin istri yang berpakaian teduh seperti mereka “ hatiku diam – diam berkata.
Ups....!!! ketauan deh sama yang baca. Hi...hi....hi...^_^
Setiap kali aku melewati jalan ini, pasti selalu macet. Maklum namanya juga pasar. Tapi apapun keadaannya aku selalu menikmatinya dengan senang hati. Di depanku sudah lewat jembatan layang ke dua, tinggal beberapa meter lagi aku sampai ke jembatan yang ke tiga.
“ Tiiiiiiid...............Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiid...............!!! “
Lagi – lagi aku hampir ditabrak mobil mesir. Aku memang sering mengambil sisi kanan sedangkan jembatan ada di sisi kiri, jadi pas aku nyebrang sedikit pasti ada satu ato dua mobil yang aku salip. Tidak terlalu susah seh, karena aku dah sering jalan sini. Jadi udah agak bisa menyesuaikan lah.
Dari awal jembatan aku sengaja mengurangi kecepatan kendaraanku untuk menikmati indahnya setiap sudut kota kairo ini. Setelah berada tepat di tengah – tengah jembatan aku bisa melihat kota kairo dengan sangat jelas. Walau tidak semuanya. Tapi aku sangat menikmati ini. Pemandangan gedung – gedung berbentuk kubus yang berjejer di mana – mana.
Di bawah aku lihat orang – orang sedang hilir – mudik meramaikan suasana pasar. Indah, benar – benar indah. Aku selalu menghirup nafas dalam – dalam jike sedang menikmati keindahan seperti ini. Kemudian aku lepaskan napasku pelan – pelan, sedikit – sedikit, takut keindahannya habis.Ah, aku ingin terus melayang di kota ini...
Di depanku, jalan sudah mulai menurun lagi setelah sebelumnya naik sampai ke tengah jembatan itu. Di sini aku juga agak merasa canggung. Pasalnya aku harus menyebrang ke sebelah kanan. Sedangkan dari bawah jembatan mobil dari arah bawah juga menuju ke satu jalan yang sama. Aku harus pinter – pinter menyalip kendaraan yang ada di depanku. Atau paling tidak aku harus melambaikan tangan untuk memberitahukan mereka kalau aku mau ke kanan.
Lagi – lagi aku tidak terlepas dengan keindahan kota kairo. Coba lihat di samping kananku sekarang. Terdapat mathaf fan el islamiyah yang sangat megah. Dari bawah hingga ke atas dinding gedung ini diukir dan dipenuhi ornamen khas budaya islam. Entah mengapa setiap gedung yang bersejarah atau kebanyakan gedung pemerintahan selalu diberi warna yang sama, yaitu merah. Mathaf inipun demikian adanya. Sudah diukir dengan berbagaimacam ornamen, dipoles pula dengna warna merah. Owh....indahnya kota kairo membuatku ingin berlama – lama tinggal di sini. Tapi tidak! Aku harus cepet2 pulang ke indo, banyak orang sedang menungguku di sana.
Coba tengok pula ke samping kiriku, di seberang jalan sana nampak pula gedung kokoh berwarna sama dengan mathaf di kananku. Gedung itu adalah kantor polisi cabang attaba. Model dan bentuknya hampir sama dengan mathaf yang ada di samping kananku. Aku selalu menikmati perjalananku setiap kali aku melewati daerah ini. Bahkan ke daerah yang kumuhpun aku selalu ingin mencari segi keunikannya. Seperti di daerah bab el sya’riyah dekat kuburan itu. Walau agak bau, sumpek, kotor, berdebu de el el lah. Aku malah menikmati bentuk kuburan dan benteng yang sudah berapa ratus tahun masih tegak berada di sana.
Di permpatan tepat di samping mathaf itu aku harus mengambil arah kanan, ya aku harus belok ke sana. Di perempatan kedua aku harus belok ke arah kiri, ke arah mathaf abidin. Di daerah ini, tepat di depan mathaf terdapat semacam taman yang berbentuk bundar yang dikelilingi oleh beberapa pohon semacam beringin di setiap pinggirnya. Di seberang mathaf setelah melewati bundaran taman yang sering dijadikan tempat main putsal ini, lagi – lagi terdapat gedung pertahanan ato kantor polisi. Sudah tentu berwarna merah, bedanya kantor yang satu ini lebih besar dan lebih megah dari kantor – kantor polisi yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Sangat besar sekali. Mirip kerajaan atau benteng kerajaan di kisahnya ashabul kahfi. Mau ngambil poto aja aku kurang berani, takut ditangkap..! he..he..
Setelah masuk gang kecil, terlihat di samping kanan dan kiriku, bengkel – bengkel mobil dan sejenisnya. Aku terus menelusuri gang ini sampai sekitar seratus meter ke depan. Tidak sampai sepuluh menit, aku sudah bisa melihat gedung megah itu. Gedung itulah yang menajdi tujuanku datang ke sini setiap hari senin dan kamis sore. Selepas ba’da ashar nanti ada pelajaran akidah salafiyah, di jam’iah ini. Aku rutin mengikutinya seminggu dua kali. Di bagian depan, sekaligus lantai utama itu terdapat plang besar bertuliskan “ JAM’IYYATU ANSHORU AS SUNNAH AL MUHAMMADIYYAH “
Ku parkirkan sepeda kesayanganku sejajar dengan mobil – mobil sedan di depan mesjid. Selalu aku berdoa agar suatu hari nanti sepedaku bisa berubah seperti kendaraan di sampingnya, bahkan harus lebih indah lagi. Amin. Sepeda inilah yang setia menemaniku pergi kuliah setiap pagi, menghantarkan perjalanan spiritualku menelusuri akidah para ulama salaf sampai ke daerah ini. Di Azhar sendiri aku hanya belajar akidah asy’ariyah yang dinisbatkan kepada al Imam Ali bin Ismail bin Abi Bisyr Ishak bin Salim bin Ismail bin Abdilah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah (Amir kota Bashrah) bin Abi Musa Al-Asy’ari (sahabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam), kuniah-nya Abul Hasan. Dan Imam al-Asy’ari adalah anak cucu sahabat yang mulia Abu Musa al-Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu, seorang sahabat besar yang menghabiskan hidupnya untuk Islam.
Seminggu sekali tidak pernah telat aku memandikan sepeda yang bagiku sangat istimewa sekali. Bahkan saking sayangnya dan saking perhatiannya orang Afghanistan yang tinggal di imarohku bilang itu bukan sepeda, tapi helikopter. Ha...ha..ha..
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---