|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|
|
|
http://www,elmishriya.blogspot.com |
|
|
ibnu_el_hindy@yahoo.co.id |
|
mujahiedmoeda |
|
http://facebook.com/iwan ghoenawan |




Oleh iwan ghoenawan
Sore ini, pemandangan di kota kairo masih terlihat ramai seperti hari – hari sebelumnya. Dari asrama aku langsung menuju daerah darasa’ melewati gerbang polisi yang megah itu. Di arah kiri kulihat beberapa orang polisi melempar senyum khasnya seperti yang sering aku dapatkan setiap pagi ketika pergi kuliah.
“ ‘amil eh y a gama’ah ?”
Biasanya kata itu yang selalu aku lontarkan kepada mereka. Dari posko atas biasanya ada dua orang polisi lain yang setia memegang senjata di bawah saung kecil berwarna merah itu. Di sekelilingku semua dinding tampak berwarna merah yang menjadi lambang kekuatan bagi pertahanan mesir. Entah kenapa mereka memilih warna mereah untuk setiap gedung pertahanan atau sebagian gedung bersejarah lainnya.
Tidak lama setelah melewati gerbang polisi yang sangat luas itu, sekitar lima menit aku langsung biasa bergabung dengan beberapa kendaraan di jalan raya menuju terminal darasa’. Agak kaku memang, karena di sini kita menggunakan jalur kanan, berbeda dengan di indo. Sehingga ak u sering mengalami kesulitan setiap kali menyebrang dari pintu kjeluar gerbang polisi menuju arah terminal. Dari arah kiri semua kendaraan mengarah kepadaku. Sedangkan aku harus menyebrang untuk melanjutkan perjalananku kea rah kanan. Dengan sedikit rasa cemas aku paksakan menyebrang dengan arah menyilang untuk mengambil bagian di kanan.
Di depanku tidak lama dari gerbang polisi itu, tampak terminal darasa’ yang menjadi tempat ngeteng anak – anak asrama sepulang dari kuliah. Memang sih ada juga yang jalan kaki Karena jarak dari kuliah ke asrama tidak begitu jauh sekitar duapuluh menit jalan kaki.
Sudah menjadi kebiasaan orang mesir berbincang atau ngobrol di kedai – kedai pinggir jalan. Di piggir kananku misalnya, sebelum sampai ke darasa’ di sepanjang jalan ini dipenuhi oleh kelompok – kelompok kecil yang sering tertawa terbahak – bahak sambil menghisap shisya, sejenis rokok khas arab, panjangnya sekitar satu meter. Ada yang rasa anggur, strawberi, jeruk dan lain- lain. Ya, aneh. Aku juga pernah dikasih tahu oleh tetanggaku yang pernah kerja di saudi, katanya di arab nanti ada rokok yang panjangnya satu meter dan rasa buah – buahan. Pertamanya aku juga tidak percaya degnan perkataan tetanggaku itu, tapi setelah aku melihat sendiri di sini, aku baru percaya.
Tidak sampai lima menit aku sudah memasuki wilayah jami’ah al – azhar. Universitas tertua di dunia. Tidak jauh berbeda dengna pemandangan sebelum – sebelumnya, di sini, depan kampus azhar malah lebih rame lagi dibanding sebelumnya. Orang – orang yang sedang asyik ngisep shisya, rokok panjang sampe dua meter itu. Terlebih banyak turis yang lalu lalang berdatangan silih berganti menuju mesjid husein dan mesjid azhar.
Tepat di depan kampus, terletak mesjid husein, cucu nabi saw. Di dalamnya terdapat makam imam husein dan peninggalan – peninggalan Nabi. Seperti sorban, sandal, pedang, jubah, ikat kepala bahkan sampai baju siti aisyah, putri tercinta baginda rasul, istri dari sayidina ali dan ibu dari hasan – husein.
Di samping kampus azhar, terletak mesjid al – azhar yang dibangun dimasa dinasti fathimiyah. Aku sangat bersyukur sekali peninggalan – peninggalan di mesir masih bisa dikuasai oleh muslim. Pundukku selalu bergidik jika aku mengenang masa – masa islam diluluhlantahkan oleh hulaghu kan dan timur lenk beberapa abad silam. Dengat hati yang teriris kita harus rela melihat bangunan mesjid yang indah nan elok di andalusia sana, yang sekarang bernama spanyol, tidak lagi terdengan lantunan adzan di dalamnya, tidak ada lagi jama’ah shalat wajib di dalamnya melainkan sudah berubah menjadi gereja tempat beribadahnya orang – orang nasrani yang inkar itu.
Betapa hati ini teriris ketika penguasa nasrani yang berhasil merebut kejayaan islam waktu itu dengan sengaja melarang merubah arsitektur mesjit yang sudah dibangun oleh umat islam. Tujuannya tidak lain, agar kita, umat muslim di zaman sekarang, hanya bisa menggigit jari ketika menyaksikan keindahan dan keelokan bangunan mesjid yang pernah kita miliki dahulu kala. Namun, walau hulaghu berhasil memenggal kepala raja baghdad dan beberapa pejabat lainnya kala itu, dia tidak sanggup membobol benteng pertahanan mesir. Timur lenk biadab seklipun, walaupun dia berhasi membangun piramid dari tengkorak manusia di andalus, tapi dia tidak mampu membobol pertahanan bumi kinanah ini. Hatta israel tahun 1982 ketika mesir merebut tanah thursina atau biasa disebut sinai, justru tidak berdaya menghadapi koalisi tentara mesir dan suriah.
Aku benar – benar bersyukur hari ini aku masih bisa menikmati keindahan azhar, dan peninggalan nenek moyang mesir lainnya. Mesjid husein dan mesjid azhar memang tidak pernah sepi dari kunjungan turis, bahkan kakek tua di sekitarnya bisa meraup uang dari hasil sekedar nge gaid para turis.
bersambung.............waaahh....ngantuk euy..dicicil lah......~ - ~
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---