QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://akhiwiedz.kotasantri.com
Bergabung
10 Juli 2009 pukul 05:47 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
mahasiswa
Seorang anak yang terlahir didesa yang terpencil. Merantau dalam rangka menuntut ilmu. Punya harapan yang besar untuk membangun umat kelak dengan menjadi orang yang bermanfaat.
http://www.wahidunnaba.multiply.com
widodo@sdm-iptek.org
wiedz wonogiri
akhiwiedz
Catatan Akhiwiedz Lainnya
Dengan Apa Kita Masuk Surga?
15 Maret 2010 pukul 09:50 WIB
Berkasih Sayang
10 Maret 2010 pukul 07:18 WIB
Awas..! Syndrome Valentine
4 Februari 2010 pukul 22:55 WIB
Inspirasi Seorang Pemimpin
24 Januari 2010 pukul 06:27 WIB
Ikatan Cinta
3 Januari 2010 pukul 12:50 WIB
Catatan
Kamis, 25 Maret 2010 pukul 13:32 WIB
Menyampaikan Dengan Hikmah

Oleh akhiwiedz

Betapa indahnya jika setiap waktu yang kita lalui senantiasa berada pada jalur yang benar. Setiap perbuatan yang dilakukan membawa keberkahan bagi diri sendiri dan kemanfaatan bagi saudara-saudara yang ada disekitarnya. Nuansa saling menasihati dan mengingatkan mewarnai hari-hari yang telah Alloh berikan. Tentu belum cukuplah bagi seorang muslim apabila hanya memperhatikan dirinya sendiri. Tidak peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya, ketika terjadi kemungkaran-kemungkaran. Amar ma’ruf nahi munkar, tidak sebatas kalimat yang berarti memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang mungkar. Kalimat butuh itu butuh gerak dari anggota badan kita dalam menjalankan kuwajiban sebagai hamba di dunia ini.

Tidak akan ada yang berkata bahwa dakwah itu ringan tanpa tantangan. Semua membutuhkan pengorbanan. Ia membutuhkan kesabaran yang besar. Cacian,makian , hujatan dan rintangan tajam yang lain tentu akan menjadi badai yang senatiasa menerpa arah jalan para pejuang dakwah. Namum saudaraku, tidakkah kita sudah punya teladhan ketika memang dakwah itu mendapat cacian dan makian. Empat belas abad yang lalu Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan, bagaimana sebaiknya kita bertindak sekaligus berdakwah ketika tantangan datang.

Di sudut pasar kota Madinah ada seorang pengemis buta yang setiap hari selalu berkata kepada orang yang mendekatinya,” Wahai Saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”.

Meskipun demikian, setiap pagi Rasulullah Muhammad Shalallahu’alahi wa Sallam selalu mendatanginya dengan membawakan makanan untuknya, dan tanpa berucap sepatah katapun Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya adalah Rasulullah dan tetap saja dia mencaci maki beliau dihadapannya.

Rasulullah Shalallahu’alahi wa Sallam melakukan hal tersebut setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan dan menyuapinya disetiap pagi kepada pengemis itu.

Hingga suatu hari, sahabat terdekat Rasulullah yaitu Abu Bakar Radhiallahu’anhu berkunjung kerumah anaknya Aisyah Radhiallahu’anha yang juga merupakan istri Rasulullah dan bertanya,” Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?”. Aisyah menjawab,” Wahai ayah, engkau adalah seoarang ahli sunnah dan hampir tidak ada kebiasaan Rasulullah yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”. “Apa itu?”,Tanya Abu Bakar.” Setiap pagi Rasulullah berkunjung kepasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis buta yang ada disana”, Kata Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar Radhiallahu’anhu pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu bakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik,” Siapa kamu?”. Abu Bakar menjawab,”Aku orang yang biasa.” “ Bukan! Kamu bukan orang yang biasa mendatangiku”, Bantah si pengemis buta itu. “ Apabila ia datang tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan kepadaku”, pengemis itu melanjutkan perkataanya.

Abu Bakar Radhiallahu’anhu tidak dapat dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis tadi,” Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Shalallahu’alahi wa Sallam.”

Seketika itu juga sang pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar dan berkata,” Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memakinya, memfitnahnya dan ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.”

Pengemis itupun akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar Radhiallahu’anhu dan sejak saat itu pula dia menjadi muslim.

“ Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:125)

Sungguh mulia apa yang dilakukan Nabi SAW. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan oleh Alloh untuk senantiasa meniru jejak Beliau. Berdakwah tidak harus dengan berceramah, dengan hikmahpun akan mampu mengena. Wallahu’alam.

Bagikan

--- 3 Komentar ---

rainbow | Karyawan Swasta
KSC makin keren sekarang, fitur-fiturnya udah kaya FB aja. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0419 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels