|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|
|
|
http://www.wahidunnaba.multiply.com |
|
widodo@sdm-iptek.org |
|
|
wiedz wonogiri |
|
akhiwiedz |

Oleh akhiwiedz
Siapapun takkan pernah bisa bertahan
Melalui jalan dakwah ini
Mengarungi jalan perjuangan
Kecuali dengan kesabaran
Wahai ummat Islam bersatulah
Rapatkan barisan jalin ukhuwah
Luruskan niat satukan tekad
Kita sambut kemenangan
Dengan bekal iman maju kehadapan
Al Qur'an dan Sunnah jadi panduan
Sucikan diri ikhlaskan diri
Menggapai ridho Ilahi
Dengan persatuan galang kekuatan
Panji Islam kan menjulang
Tegak kebenaran hancur kebathilan
Ada yang tahu kutiban nasyid siapa? Yups, itu adalah potongan lirik dari lagunya Izzatul Islam. Jika kita mau memahami lagu tersebut perbaitnya, tidak sedikit hikmah yang terkandung. Makna tentang pentingnya persatuan umat Islam. Persatuan yang didasari dengan rasa cinta yang mendalam antar sesama saudaranya dengan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pedomannya.
Namun, entah dimana cinta itu bersembunyi, bagai sebuah keluarga, namun sapaan tak pernah menyentuh hati lalu egois, tinggi hati, merambat perlahan meracuni. Akhirnya sedikit perbedaan berujung pada pertikian yang tak pantas untuk dilakukan.
Menyatu dalam perbedaan memang tak mudah, mengikat cinta dalam sebuah kelompok atau jama’ah kadang melelahkan jiwa. Tertatih-tatih oleh segala goda akan kepentingan duniaawi belaka. Letih, dan putus asa kadang menerpa, membuyarkan semua impian-impian indah. Padahal sungguh dahsyat, bahkan teramat dahsyat potensi yang dimiliki setiap jiwa, namun pupus saat disatukan. Orang-orang hebat, sholeh dan pintar yang mestinya menyatu dalam ikatan cinta, hanyalah seperti benang-benang kusut saat diikat, tak ada keindahan saat mata menatap dan tidak ada kekuatan yang menyakinkan saat diujikan.
Sungguh berbeda...
Bukankah itu hal yang biasa? Keragaman dalam sebuah pertemanan,kelompok atau jamaah semestinya menjadi sumber kreativitas, dengannya kita bangun samudera kebaikan. Layaknya pun sebuah bangunan, pastilah tersusun dari bahan olahan yang berbeda-beda, dan itu adalah kekuatan. Tiang tidak mungkin berada diatas atap dan tiang tetap setai menyangga atap bangunan. Ketika perbedaan itu terikat dalam satu ikatan yang penuh cinta, puncaknya adalah sebuah gerakan yang rapi, solid dan militan dalam sebuah jama'ah hingga mampu merubah kondisi jahiliyah menjadi penuh dengan rahmatnya Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kunci dari semua itu adalah ikatan cinta pada setiap hati kita, dengannya jiwa-jiwa akan selalu bersama mewujudkan ukhuwah Islamiyah. Karena ikatan cinta pulalah, akan lahir manusia-manusia yang siap mengusung panji-panji dakwah dari berbagai latar belakang yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat rabbaniyah, penuh dengan curahan ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rabbani yang bukan saja sebagai ghoyah (tujuan), namun juga meliputi wijhah (arah), masdar (sumber) serta manhaj (sistem).
Memang, mengikat cinta dari setiap jiwa sungguh tak mudah. Saling memahami belum menjadi budaya dalam masyarakat kita. Tapi kita percaya, selama helaan nafas masih diamanahkan-Nya, bisakah seseorang mengingkari hati akan sebuah fitrah manusia?
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu'anhu pernah mengatakan bahwa, kekeruhan jama'ah jauh lebih baik daripada kejernihan individu. Kecerdasan individual pun tak akan pernah dapat mengalahkan kecerdasan sebuah jama'ah. Memang benar, perbedaan bukan sesuatu yang mustahil, namun yang diharapkan walaupun mempunyai kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi kepentingan bersama untuk menegakkan qalam Ilahi di muka bumi.
Saudaraku yang dirahmati oleh Alloh, Semua potensi yang ada pada setiap jiwa hendaknya ditata dengan baik dalam sebuah gerakan berjama'ah. Dari seuntai benang yang terikat, akan tercipta i'tishom bihablillah, menyatunya hati dalam ikatan aqidah serta semangat ukhuwah sebagai landasan terbentuknya ruhul jama'ah. Ikat, dan ikatlahlah selalu al-imanul amiq (iman yang menghujam ke dalam), al-ittishalul watsiq (hubungan yang erat dengan Allah), al-amalu muthawasihil (amal yang kontinyu) serta as-shabru daa'id (kesabaran yang ekstra) hingga tercipta ikatan-ikatan cinta yang kuat dan panjang untuk menjangkau saudara-saudara kita yang lain.
Mari rapatkan barisan dan luruskan shaf, rajut dan rajut kembali cinta-cinta, karena kita semua adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh umat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al Qur'an. Itulah semangat yang diberikan oleh Hasan Al Banna yang dapat kita jadikan pelajaran yang berharga.
Rasakan detak jantung mu ikhwah, siapkan diri menyambut kemenangan yang telah dijanjikan, hunus kesabaran serta kelapangan pada setiap rongga dada, torehkan semangat dalam menyampaikan kebaikan. Dakwah tidak hanya dibatasi dengan lesan, pena bagi yang bisa dan harta bagi yang berpunya. Dengan limpahan iman, bergelombang dan bergerak senada menuju cinta Allah Subhanahu wa Ta'ala, ALLAHU AKBAR!!!
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---