|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
http://twitter.com/bayugawtama |





Jum'at, 31 Mei 2013 pukul 23:00 WIB
Penulis : Bayu Gawtama
Sudah berjam-jam saya berhadapan dengan notebook, memelototi layarnya dengan posisi jari-jari siap menekan tuts keyboard. Satu judul coba diketik, kemudian dihapus lagi. Ketik lagi, delete lagi, terus begitu. Saya seperti kehilangan akal untuk mulai menulis, layaknya orang yang tidak pernah menulis sama sekali.
Ide-ide yang biasanya berseliweran, bahkan mengejar-ngejar untuk segera ditulis, kali ini entah terbang ke mana. Tak satupun yang mampir, dicari-cari juga tidak ketemu. Saya coba sedikit memaksa menemukan ide, tetapi tak satupun nampak batang hidungnya si ide itu. Nah, cara pamungkaspun harus dilakukan, yakni mampir dan merenung di toilet! Namun hasilnya tetap nihil, perut sudah kosong, ide tetap saja tak muncul.
Kembali ke notebook, mencoba mengetik apa saja. Hasilnya adalah barisan kata-kata dan kalimat tanpa makna. Ini aneh, sungguh aneh. Sangat tidak biasa. Biasanya saya hanya perlu waktu kurang dari dua puluh menit untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Kadang hanya sepuluh menit, satu karya selesai ditulis. Tetapi ini sudah tiga jam lebih! Belum satupun tulisan selesai dibuat.
Haruskah saya menggebrak-gebrak notebook? Tentu saja tidak. Sebab masalahnya bukan pada perangkat yang setia menemani hari-hari saya itu. Melainkan pada otak ini yang sepertinya belum mau bekerja.
Buntu, otak ini seperti tidak bisa diajak berpikir sama sekali. Saya bahkan tidak tahu mau menulis apa, bahkan juga tidak tahu kenapa tiba-tiba mengambil notebook. Begitu sudah berhadapan dengan layar notebook, malah tidak tahu harus menulis apa. Padahal rasanya otak ini sudah penuh dan harus ditumpahkan ke dalam tulisan, tetapi kenapa setiap kali dicoba untuk menumpahkannya hanya sedikit yang ke luar.
"Hey...," saya berteriak kepada otak sendiri, agar mau sedikit mencair dari kebekuan. Beberapa detik kemudian, kepala inipun saya pukul-pukul sendiri agar ide-ide berjatuhan, kemudian saya punguti satu persatu untuk ditulis. Sudah pusing kepala ini dikeplak-keplak, dan nyaris saya hantamkan kepala ke dinding, namun saya urungkan. Saya sadar, ada yang tidak beres dengan diri ini, otak ini, hati ini, sehingga tidak satupun tulisan bisa dihasilkan pagi ini.
Saya berdiri, mencoba cari udara segar di luar. Kembali lagi, melihat layar notebook yang masih kosong melompong. Ke luar lagi, kali ini bukan cuma udara segar yang dicari, siapa tahu ide-ide yang biasanya dekat sedang bermain di luar dan tidak tahu jalan pulang. Ternyata, di luar juga tidak ada ide. Ujung-ujungnya, sayapun bengong di depan pintu menunggu ide. "Siapa tahu ada ide orang nyasar ke sini, salah alamat."
Di saat bengong dan melamun tidak karuan, isteri saya menegur, "Daripada bengong begitu, mending shalat dhuha, bi."
***
Air wudhu mencairkan kebekuan otak ini. Shalat dhuha bisa melunturkan dosa-dosa pagi, kalimat takbir membuka cakrawala, sujud panjang di pagi hari mencerahkan pikiran.
Bodoh sekali saya, saking buntunya kenapa sampai lupa shalat dhuha? Sumpah, habis shalat dhuha, beberapa tulisanpun berhasil saya buat hanya dalam waktu satu jam saja. Produktivitas dan kreativitas meningkat usai shalat dhuha. Buktikan sendiri!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.