|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://samuderaislam.blogspot.com |





Jum'at, 24 Mei 2013 pukul 22:00 WIB
Penulis : Eko Prasetyo
Apakah seorang penulis profesional tidak butuh latihan menulis? Tentu saja butuh. Ibarat pedang, semakin diasah semakin tajam. Demikian pula menulis. Semakin sering berlatih, semakin mahir pula seseorang dalam meramu kata-kata.
Seorang guru pernah bertanya kepada saya, ”Bagaimana kiat membuat karya tulis ilmiah yang baik?” Saya hanya menyarankan yang bersangkutan untuk melatih membuat tulisan bebas, menulis feature. Sebab, tentu saja kita tidak bisa ujug-ujug membuat karya tulis ilmiah tanpa pernah berlatih menulis. Ini omong kosong.
Menulis bebas seperti membuat diari alias tulisan harian. Langkah yang paling mudah adalah mencatat kejadian-kejadian yang dianggap menarik pada hari itu. Tentu saja pengamatan menjadi penting. Dengan mengamati, kita bisa mengumpulkan banyak data-data untuk diuraikan atau disampaikan ke dalam tulisan.
Metode selanjutnya yang umum dipakai adalah membuat draf (outline). Untuk melahirkan sebuah artikel opini, misalnya, seseorang perlu membikin draf tulisan terlebih dahulu. Kegunaannya, angle (sudut pandang tulisan) yang telah disusun tidak melebar ke mana-mana.
Apabila sudah terbiasa membuat diari, tahapan berikutnya adalah berlatih menulis cepat dan efektif. Biasanya, teknik seperti ini hanya membutuhkan perangkat seperti smartphone, komputer, ataupun laptop. Tidak ada patokan baku soal panjang karangan. Yang penting, tulisan itu mampu memaparkan suatu peristiwa dengan baik, jernih, cermat, lugas, dan tuntas.
Tentang efektivitas, hal ini terkait dengan unsur kebahasaan. Biasanya, setelah ditulis, pengarang mesti membacanya. Kemudian, apabila dirasa kurang lengkap, ia bisa menulis ulang (re-writing). Setelah semua siap, tinggal dipublikasikan. Bisa di bog pribadi ataupun mailing list (milis).
Yang tak kalah penting adalah persiapan sebelum menulis. Saat menyusun tulisan ini, saya menyiapkan secangkir kopi tubruk dan ditemani lantunan iYou Tingting. Menulis selama 10 menit pun jadi menyenangkan. Sik asik, sik asik.
http://samuderaislam.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.