HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Markus Horison : Bahagia Meraih Kemenangan
13 Januari 2011 pukul 23:35 WIB
Muslimah Seharum Melati
6 Januari 2011 pukul 21:00 WIB
Agar Tetap Rukun dengan Suami
1 Januari 2011 pukul 19:00 WIB
Dua Serigala
28 Desember 2010 pukul 21:14 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 27 Januari 2011 pukul 21:12 WIB

Alisya Braja : Saat Depresi, Temukan Ketenangan dalam Islam

Penulis : Redaksi KSC

Sabtu, (8/1), suasana Masjid Agung Sunda Kelapa, seperti biasa, begitu tenang dan rindang. Tampak terlihat jama'ah yang sedang shalat, mengaji, atau berdiskusi santai. Suasana tampak berbeda ketika menaiki lantai empat gedung utama.

Selembar kertas bertuliskan "Pembinaan Mualaf" menempel di pintu berwarna coklat. Jelas terdengar suara ustadz yang mengatakan, "Anda-anda yang hadir di sini merupakan tamu-tamu Allah SWT. Apa yang anda kerjakan hari ini akan mendapatkan balasan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya."

Perkataan ustadz itu tampaknya tepat dengan pengalaman Alisya Braja. Perempuan yang sudah memutuskan memeluk Islam tiga tahun lalu. Perempuan yang bernama lengkap Alisya Fianne Jane Braja tidak pernah membayangkan apa yang dia dengar menghantarkan dirinya pada Islam.

Dia mendapatkan petunjuk di saat ia tidak tenang dengan kehidupan yang dijalaninya. Dia depresi, gagal dalam pekerjaan dan mempertahankan rumah tangganya. "Pada saat itu saya tertekan tapi tidak ada yang membantu saya bahkan teman satu keyakinan. Jadi, saya harus berdo'a sendiri dan menyelesaikan masalah sendiri," papar dia kepada Republika.

Ketiadaan bantuan dan kondisi psikologis membuat dirinya berada di persimpangan. Di satu sisi, dia dihadapkan pilihan apakah menyelesaikan masalah itu dengan hal-hal berbau hura-hura. Artinya dia harus merapat pada teman-temannya yang memang suka bersenang-senang berlebihan.

Pilihan kedua, dia mendekan pada temannya yang Muslim. Teman-teman yang dianggapnya memberikan rasa iri lantaran rasa tenang yang terpancar ketika mereka selesai menjalankan shalat dan mengaji. "Saya benar-benar berada di ujung persimpangan," kata Alisya yang mengaku dulu memeluk Katholik.

Namun Sang Pencipta menghendaki ia mendekati teman-temannya yang muslim. Dia pun semakin tertarik melihat teman-temanya shalat lima waktu. Dia juga kian terlibat dengan aktivitas keagamaan teman-temannya di masjid.

Hingga, teman-temannya itu merasa aneh dengan perilakunya. "Teman saya waktu itu bahkan bilang ke saya, 'Kamu tidak masalah kalau saya mau ngaji dulu?' Dia pun tidak memaksa saya masuk. Akhirnya saya pun menunggu di luar. Kala itu, ustadz yang tengah berbicara adalah Quraish Shihab," papar istri dari Oktobrawijya Tri ini.

Apa yang didengarnya, membuat dia ketagihan. Alisya pun mengikuti pengajian selepas kantor setiap Senin dan Kamis. Rasa merinding berbalut dengan tenang seperti obat yang manjur bagi depresi yang tengah diderita Alisya.

Dia mengaku seolah diarahkan untuk beralih. "Hati saya bergejolak dan seolah rindu untuk datang ke masjid Sunda Kelapa. Saya bilang ke teman saya, kalau ke sini lagi saya ikut dong," kata perempuan kelahiran Manado, 38 tahun lalu ini.

Mendengar kemudian mendalami, demikian langkah Alisya. Dia pun meniatkan membeli Al-Qur'an di sebuah toko buku. Kemudian secara sembunyi-sembunyi Alisya mulai membandingkan Injil dengan Al-Qur'an. Sejak 2004, Alisya mulai mempelajari Islam.

Hingga pada suatu ketika, dirinya bermimpi. Dalam mimpi itu disebutkan, "Hanya Muhammad utusan Allah, dan hanya Al-Qur'an-lah yang paling benar." Alisya pun memberanikan diri untuk bertanya pada Ustadz Rahim, yang kebetulan memang salah seorang pembina mualaf.

"Saat itu dia mengatakan itu merupakan hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kamu. Kamis-nya bertanya pada ustadz tentang mimpi itu, Ahad-nya saya memutuskan masuk Islam," cerita Alisya.

Setelah masuk Islam, Alisya mulai belajar shalat dan surat-surat Al-Qur'an untuk bacaan shalat. Saat itu, Alisya secara perlahan dibimbing untuk membaca Al-Fatihah saja atau Allahu Akbar, Allahu Aakbar. Di awal ia mengaku kadang ia melaksanakan shalat selalu lebih cepat dari saudara-saudaranya yang lain.

Ia pun mengakali itu dengan membuat tulisan bacaan surat lalu ditempelkan di dinding. Saat saudara-saudara semuslim lain bertanya apakah dirinya mualaf, Alisya mengaku terharu. Pasalnya, mereka berkata agar tidak merasa berat dalam mengerjakan shalat. "Itu yang membuat saya merasa didukung. Saya terharu," ujarnya mulai meneteskan air mata.

Setelah fasih melaksanakan shalat, Alisya mulai belajar berdo'a. Do'a yang pertama kali diucapkannya adalah meminta keluarganya menerima dirinya. Hal itu terus dilakukannya hingga tahun 2008, dia mendapatkan kesempatan untuk umrah.

Di Baitullah dia kembali dikejutkan dengan kuasa-Nya. Ritual umrah dijalaninya dengan penuh kemudahan. Dia pun merasa tegang sekaligus merinding. Di hadapan Kabah ia berdo'a, agar keluarganya bisa menerimanya.

Do'a itu pun dikabulkan yang Mahakuasa. Sepulangnya dari Makkah, dia mendapat telepon dari keluarganya di Manado. Dia pun terkejut. "Keluarga saya menelpon sekitar Juni akhir, sampai saya menangis do'a saya didengarkan," kata ibu dari tiga anak ini.

Keluarganya ternyata ingin bertemu dengannya. Komunikasi pun lancar layaknya tanpa ada masalah. Hingga kini, Alisya dengan keluarganya selalu berkomunikasi. "Mereka menghargai saya sebagai seorang Muslim, dan saya menghargai mereka sebagai seorang Nasrani," ujarnya.

Bahkan komunikasi yang terjalin sudah sampai pada pembahasan tentang Islam. Alisya mengatakan dia banyak mendapat pertanyaan tentang teroris dan jihad dari mereka. Dia pun menjelaskan kepada keluarganya bahwa hal itu bukanlah Islam sesungguhnya.

Kini, Alisya mulai menerjuni dunia mubaligh. Bersama teman-temannya yang mualaf, ia mendirikan paguyuban mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa. Harapannya, para mualaf memiliki wadah untuk berbagi dan belajar tentang Islam.

Ia ingin terlibat membantu saudara-saudaranya yang memang membutuhkan arahan tentang mengenal Islam dan mempelajarinya. Hal yang sama juga ditujukan pada keluarganya. "Saya berharap keluarga saya diselamatkan atau diberi hidayah seperti saya."

Dari Republika Online

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

mashalli | karyawan
Alhamdulillah... Meski baru bergabung di KSC, semakin nambah wawasan dan berbagi pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1164 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels